
"Apa suaminya itu punya selingkuhan? Atau memang ini istri sahnya" tanya Lili pada Aldo yang ada di depannya.
"Suka sembarangan kalau ngomong tuh. Kita belum tahu jelas itu siapanya. Sudah ayo kita ikutin" ajak Aldo pada istrinya.
Suaminya ini sama sekali tak bisa untuk diajak bergosip membuat Lili hanya menggerutu panjang pendek. Padahal ia ingin bergosip sama seperti dengan yang lainnya. Aldo menggandeng tangan Lili seperti mereka tengah akan pulang bersama dari tempat kerja.
"Itu kok naik mobil. Kita juga ikutin pakai mobil gitu?" tanya Lili yang bingung harus bagaimana lagi mencari informasi tentang suami dari Ajeng.
"Iyalah. Kita ikuti pakai mobil dari jarak jauh. Kita bisa mendapatkan informasi yang bagus kalau bisa tahu titik terang dari semua ini" ucap Aldo.
"Kita kok kaya jadi mata-mata gitu ya, mas" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
"Nggak papa. Sekali-kali memacu adrenalin biar hidupnya nggak lurus-purus saja. Nggak ada hiburannya nanti" ucap Aldo yang kemudian mereka memasuki mobil yang diparkir pada tempat parkir rumah sakit.
***
"Wow... Masuk area apartemen yang kemarin? Apa ini maksudnya?" ucap Aldo.
"Apartemen kemarin? Maksudnya gimana, mas?" tanya Lili dengan pandangan bingungnya.
"Ya itu. Apartemen yang dibuat untuk penangkapan Ajeng. Tapi kok dia malah ke sini? Apa ini artinya perempuan hamil itu juga mengenal Ajeng?" tanya Aldo yang pikirannya melayang dengan banyak pertanyaan.
Lili hanya terdiam karena bingung dengan teka-teki yang disampaikan oleh suaminya itu. Ia memang tahu jika Ajeng ditangkap di sebuah apartemen. Namun ia tak tahu jika apartemen yang dimaksud adalah yang ada di depannya ini.
"Di unitnya Ajeng bukannya dipasang garis polisi, mas? Kan kemarin mau dibuat olah TKP kan" tanya Lili penasaran.
"Iya, maka dari itu. Apa ini suaminya tak tahu kalau Ajeng ditangkap ya? Ah... Membingungkan. Lebih baik kita masuk saja. Lagian satpam dan beberapa orang di apartemen ini juga sudah tahu mengenai kejadian itu. Aku bisa masuk area apartemen ini juga" ucap Aldo.
__ADS_1
Lili menganggukkan kepalanya. Keduanya segera turun dari mobil tanpa menggunakan jas dokter. Keduanya masuk dan disambut oleh satpam yang ada di sana.
"Ada masalah apa lagi, pak? Nggak buat keributan kaya waktu itu kan? Soalnya banyak penghuni apartemen langsung pada jual unitnya karena terganggu dengan masalah yang kemarin" ucap satpam itu.
"Tidak ada masalah apa-apa, pak. Kami ke sini hanya ingin melihat itu suaminya Ajeng. Apa dia nggak tahu ya kalau istrinya itu ditangkap polisi? Kok dia malah ke sini" ucap Aldo dengan santai.
"Ya tidak tahulah, pak. Orang suaminya itu jarang pulang ke sini sama istri mudanya. Kalau pun ke sini pasti ujung-ujungnya ribut. Maklumlah kalau punya istri dua mah begitu" ucap satpam itu.
Lili dan Aldo membulatkan matanya tak percaya. Ternyata Ajeng mempunyai adik madu. Bahkan kemungkinan tinggal bersama. Lili langsung menatap suaminya seakan mengisyaratkan sesuatu.
"Emm... Ajeng itu punya anak nggak sih, pak?" tanya Lili pada satpam itu.
"Belum punya, mbak. Seingat saya belum pernah terlihat ada anak kecil yang ada di apartemennya Mbak Ajeng" ucap satpam itu.
Lili menganggukkan kepalanya kemudian mereka pamit untuk masuk. Mereka ingin melihat sendiri bagaimana reaksi suami Ajeng saat unit apartemennya diberi garis polisi. Aldo juga sudah meminta Brama dan Papa Tito ke lokasi.
"Nggak tahu juga, sayang. Tapi ada benarnya juga apa yang kamu katakan itu" ucap Aldo sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
***
"Apa yang terjadi? Kenapa apartemen saya jadi dipasang garis polisi seperti ini?" seru Ryan pada pegawai yang ada di sana.
"Seharusnya bapak bisa menanyakan semua ini pada istrinya langsung. Kenapa membuat ulah hingga unit apartemen ini kisruh" ucap salah satu customer service yang ada di sana.
"Kemana memang istri saya? Ini saya bingung lho. Baru pulqng tapi sudah dihadapkan dengan apartemen yang diberi garis polisi" ucap Ryan sambil mendengus kesal.
"Makanya istri itu saja, pak. Kalau dua ya kaya begini" ucap Aldo yang keluar dari tempat persembunyiannya.
__ADS_1
Sontak saja semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangannya kearah Aldo. Bahkan para pegawai langsung menyingkir saat tahu siapa yang datang. Ryan mengingat lagi siapa dua orang yang ada di hadapannya kini.
"Sebentar... Ini kan dokter yang ada di rumah sakit. Oh... Jadi kalian menguntit kami" seru Ryan tak terima setelah mengingat siapa yang ada di hadapannya ini.
"Ups... Kita ketahuan, sayang. Ketahuan nguntit pasiennya" ucap Lili pura-pura terkejut dengan menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya.
Ryan geram dan ingin maju untuk menghajar Aldo. Namun itu semua ditahan karena istrinya memegang tangannya dan mengusapnya lembut. Ryan menatap bengis kearah Aldo dan Lili yang malah membuat masalanya runyam.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Ryan setelah menetralkan emosinya.
"Kita mau minta buat kamu ke kantor polisi. Jelaskan saja duduk perkaranya di sana. Saya malas menjelaskan" ucap Aldo.
"Buat apa saya ke kantor polisi? Saya saja nggak tahu permasalahannya apa. Aneh-aneh saja orang ini" ucal Ryan sambil geleng-geleng kepala.
"Makanya ikut ke kantor polisi. Kita bisa bertemu Ajeng langsung dan ketahui titik terangnya. Kalau anda tak mau ikut, saya akan seret paksa kalian biar ikut ke sana" seru seseorang yang baru saja datang.
Dia adalab Brama dan Papa Tito. Ryan begitu terkejut melihat sosok Brama yang sekarang. Ia mengenal Brama dulu tak semewah atau setampan ini. Namun lihatlah penampilannya sekarang yang sudah mirip dengan pengusaha kaya.
"Nggak. Istri saya butuh istirahat karena baru pulang dari rumah sakit. Besok saya akan datang, tidak sekarang" ucap Ryan mencoba menolak.
"Istrimu itu bisa ikut ke sana. Setidaknya masalah ini selesai hari ini. Saya juga banyak kerjaan dan tidak hanya mengurus ini saja" ucap Brama yang kesal.
Ryan menatap istrinya yang menganggukkan kepala kearahnya. Mereka akhirnya setuju untuk ikut ke kantor polisi agar masalah ini selesai. Ryan hanya masih penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Ajeng hingga bersangkutan dengan polisi segala.
"Saya nebeng. Malas buat bawa mobil" ucap Ryan dengan santainya setelah sampai di tempat parkir mobil.
"Malas atau takut kalah saing karena mobilnya butut" ledek Brama pada Ryan.
__ADS_1
"Sudah... Jangan banyak berdebat hal tak penting. Brama, kamu diam saja. Biarkan dia ikut mobil kita biar nggak kabur" ucap Papa Tito melerai perdebatan itu.