Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Ungkapan


__ADS_3

"Jadi kamu mau menjelaskan kejadian masa lalu yang membuatmu trauma?" tanya Papa Dedi yang baru saja tiba di ruang rawat inap Lili setelah bekerja.


Papa Dedi yang memang dihubungi oleh istrinya agar segera kembali ke rumah sakit pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Ia begitu penasaran dengan apa yang akan dijelaskan oleh anaknya. Terlebih istrinya selalu menerornya tentang Lili yang akan semakin terbuka untuk menceritakan kejadian masa lalunya.


Lili hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lili menutup hidungnya dengan sebelah tangannya kemudian yang satunya mengibas-ngibaskan kearah papanya. Lili memberi kode pada papanya itu agar mandi terlebih dulu sebelum mendekat kearahnya.


"Banyak kuman, pa. Mending papa mandi dulu, mana sampai Lili nyium bau yang tak sedap lagi" ucap Mama Ningrum saat melihat suaminya hanya diam saja karena kebingungan.


"Tapi papa wangi kok nih" ucap Papa Dedi yang sudah mengendus-ngendus area ketiaknya.


Tak lupa kalau ia mengarahkan ketiaknya kearah istrinya itu membuat Mama Ningrum langsung menghindar. Bukannya berhenti menjahili istrinya, namun Papa Dedi seakan terus mengejar Mama Ningrum. Hal itu membuat suasana di ruang rawat inap Lili seketika riuh dengan tawa dan teriakan dari Mama Ningrum.


Hahahaha...


Bahkan Lili juga tertawa melihat kelakuan kedua orangtuanya itu. Padahal selama mereka bersama, orangtua Lili belum pernah melihat tawa lepas dari anaknya itu. Keduanya sontak saja berhenti berlarian karena melihat hal yang sangat langka itu. Keduanya bahkan rela jika harus melakukan hal konyol setiap hari demi melihat anaknya tertawa seperti ini.


"Ups..."


Lili yang tersadar dengan tingkahnya pun langsung menutup mulutnya. Apalagi kini sudah tak lagi terdengar suara teriakan dan tingkah konyol kedua orangtuanya. Ia baru menyadari kalau sudah mengeluarkan sifat aslinya yang ceria hanya karena hal-hal kecil.


"Teruslah tersenyum dan tertawa, nak. Menangislah karena merasa terharu, bukan akibat hal yang menyedihkan. Kami menyayangimu" ucap Mama Ningrum pada anaknya dengan mata yang berkaca-kaca.


Papa Dedi bahkan kini langsung mendekat kearah anaknya kemudian memeluknya dari samping. Ia tak mempedulikan kalau dia baru saja dari luar dan belum membersihkan dirinya. Mama Ningrum pun ikut bergabung bersama anak dan suaminya itu kemudian ketiganya saling berpelukan.


"Kita ubah masa lalu yang buruk itu menjadi kebahagiaan di masa depan" ucap Papa Dedi.

__ADS_1


Lili menganggukkan kepalanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikhlaskan semua yang terjadi. Orangtuanya sudah berubah sehingga ia juga harus bisa membuka dirinya agar lebih terbuka pada mereka.


Setelah acara pelukan itu selesai, Papa Dedi segera saja masuk dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Mama Ningrum memesan makanan untuk ketiganya. Hasil pemeriksaan Lili juga sudah keluar, tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Hanya saja Lili memang tidak boleh merasa tertekan karena bisa saja malah mempengaruhi kondisi psikisnya. Lili yang mendengar hal itu dari dokter hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia sudah tahu sejak awal kalau sakitnya ini memang karena terlalu berpikir keras dan terjebak dalam masa lalunya.


***


"Jadi apa yang ingin kamu ceritakan, nak?" tanya Papa Dedi pada anaknya setelah mereka selesai dengan makan malamnya.


Setelah Papa Dedi keluar dari kamar mandi, selang beberapa menit ada pengantar makanan yang datang. Semua makanan yang dipesan oleh Mama Ningrum itu tersedia di ruang rawat inap Lili. Mereka makan dengan canda tawa hingga banyaknya makanan langsung ludes oleh ketiganya.


"Sebenarnya malam itu Lili ingat kejadian waktu kecil. Kalau nggak salah, waktu masih SD. Lili minta papa untuk datang ambil rapor dan lihat pentas kesenian di sekolah. Papa marah karena dipaksa Lili untuk menemani, pulangnya papa mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan. Bahkan saat itu Lili belum sempat menggunakan seat belt. Hingga sampai saat itu, Lili sudah nggak mau lagi meminta papa untuk ambil rapor atau minta tolong apapun" ucap Lili dengan pandangan sendunya.


Lili sama sekali tak mengungkap kalau malam itu teringat kejadian waktu kecil karena Aldo melakukan hal yang sama dengan papanya. Hal ini agar nanti orangtuanya itu malah memukuli Aldo. Toh dia sudah memaafkan Aldo walaupun sebenarnya masih kesal.


"Memangnya papa pernah melakukan hal itu? Kok mama nggak ingat ya" tanya Mama Ningrum.


"Mama waktu itu lagi di luar kota. Bi Nila yang dulu nenangin Lili di dalam mobil setelah papa masuk rumah. Soalnya Lili ditinggal begitu saja di mobil saat papa masuk rumah. Bi Nila yang memeluk dan menenangkan Lili hingga tertidur pulas" ucap Lili dengan mata yang berkaca-kaca.


Mama Ningrum pun langsung memeluk anaknya itu dengan erat. Ia tak menyangka kalau anaknya akan melewati masa seperti itu. Dulunya ia yang sangat sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak tahu apapun mengenai anaknya. Papa Dedi yang sudah teringat tentang kejadian itu pun langsung memegang kedua tangan anaknya.


"Maaf... Maafkan papa. Pasti waktu itu kamu ketakutan hingga trauma berkepanjangan hingga kini. Maafkan papa" ucap Papa Dedi yang langsung menciumi kedua punggung tangan anaknya.


Lili hanya menganggukkan kepalanya sambil menangis dalam pelukan mamanya. Rasa bersalah Mama Ningrum dan Papa Dedi sangat besar karena ternyata keduanya yang menjadi penyebab trauma Lili.

__ADS_1


Namun waktu sudah berlalu dan masa itu tak mungkin bisa diubah lagi. Yang ada hanyalah masa kini yang harus diubah agar ke depannya tidak ada lagi masalah seperti ini. Ketiganya kini saling berpelukan erat untuk menyalurkan kebahagiaan sekaligus keharuan yang ada.


***


"Hari ini aku jadi pulang kan, ma?" tanya Lili pada mamanya yang tengah membereskan barang-barang yang dibawanya di rumah sakit.


Setelah semalam mengungkapkan segala unek-uneknya, perasaan Lili kini telah lega. Bahkan otak dan pikirannya juga jauh lebih enteng. Hatinya sudah benar-benar lepas seakan tak ada lagi dendam dan kebencian pada kedua orangtuanya itu.


"Iya, nak. Lagian kamu juga udah sehat. Asalkan harus jaga kesehatan dan tak lupa jangan mikir yang berat-berat. Kalau ada masalah, langsung cerita sama kami" ucap Mama Ningrum sambil tersenyum kearah anaknya.


"Sebenarnya masalah berat yang ada di otakku itu cuma satu, ma. Skripsinya kenapa nggak selesai-selesai gitu" kesal Lili sambil mengerucutkan bibirnya.


Mama Ningrum hanya bisa terkekeh geli melihat anaknya yang memberengut kesal itu. Namun tiba-tiba saja mata Mama Ningrum berbinar cerah karena seakan mendapatkan ide agar skripsi Lili cepat selesai.


"Mama punya ide biar skripsimu itu cepat selesai" ucap Mama Ningrum dengan antusias.


"Apa itu, ma?" tanya Lili dengan tatapan penasaran.


Mama Ningrum seakan membuat teka-teki yang membuat Lili kesal. Apalagi ia merasakan ada aura-aura tak enak tentang ide yang akan diungkapkan oleh mamanya itu. Papa Dedi yang melihat tingkah istrinya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia juga yakin kalau istrinya itu akan memberikan ide yang aneh.


"Kamu rayu saja tuh dosen pembimbingmu. Si duda itu lho" ucap Mama Ningrum sambil terkikik geli.


Benar kan kalau Mama Ningrum akan memberikan ide yang aneh. Lili yang mendengar hal itu hanya bisa menatap mamanya itu dengan sinisnya. Tentu saja Lili takkan pernah merayu dosennya yang dingin dan menyebalkan itu.


"Kalau kamu nggak mau dekatin dosennya, dekati saja anak dan orangtuanya" ucap Papa Dedi sambil tertawa.

__ADS_1


Sepertinya menggoda anaknya ini sangat mengasyikkan. Apalagi melihat wajahnya yang memerah entah karena salah tingkah atau kesal. Mama Ningrum dan Papa Dedi dengan kompaknya tertawa karena anaknya itu kini malah seperti ngambek.


Papa Dedi sudah diberitahu oleh istrinya mengenai orangtua Aldo yang ingin dekat dengan Lili. Bahkan katanya Lili sudah dekat dengan Kei yang notabene adalah anak dari Aldo. Namun Lili masih membantahnya karena dekat dengan Kei bukan berarti mau sama bapaknya.


__ADS_2