Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Perusahaan 2


__ADS_3

"Lho... Arlin, Aldo kok kalian bisa ada disini?" tanya seseorang itu dengan sedikit gugup.


Seseorang itu adalah Papa Madin. Papa Madin yang tadinya duduk dengan kaki diletakkan diatas meja sambil badannya bersandar pada kursi


kebesaran miliknya. Bahkan kini saat ia berdiri dihadapannya dan sang suami dengan kaki yang bergetar hebat karena sudah ketahuan tingkahnya.


"Ini perusahaan saya. Saya berhak berada disini bahkan mengusir anda juga. Ngapain anda disini? Sudah tahu bukan kalau anda tak punya hak apapun disini. Bahkan anda juga bukan karyawan disini" tanya Arlin dengan sinis.


Tentunya Arlin dan Aldo bingung dengan kehadiran Papa Madin disini. Sepertinya ia harus waspada jika tiba-tiba saja Papa Madin mengambil barang-barang berharga di perusahaan ini. Beruntung semua aset yang ia punya sudah disimpan dengan begitu rapi di tempat yang aman.


Namun ia juga harus menyelidiki tentang hubungan Papa Madin dan karyawan disini. Jangan sampai nantinya ada karyawan disini yang berkhianat dengan bekerjasama bersama Papa Madin. Jika memang itu terjadi, ia takkan membiarkan mereka lolos dengan mudah dari perusahaan ini.


"Papa kesini itu cuma memastikan kalau operasional perusahaan berjalan dengan lancar. Apalagi kan Aldo sangat jarang kesini jadi tidak ada yang mengawasi. Maksud papa itu baik agar perusahaan ini tak gulung tikar karena suamimu tidak memimpinnya dengan serius" ucap Papa Madin mencoba membela diri.


"Semuanya akan lancar kalau tak ada yang menggerogoti keuangan perusahaan. Lebih baik anda pergi dari sini karena saya sudah muak melihat wajah-wajah bermuka dua seperti anda ini" ketus Arlin sambil menunjuk kearah pintu keluar.


"Tapi..."


"Nggaj ada tapi-tapian. Pergi dari perusahaanku" sentak Arlin yang langsung memotong ucapan dari papanya.


Papa Madin pun dengan kesal langsung saja mengambil ponselnya yang ada diatas meja kemudian berlalu pergi dari ruang CEO. Dada Arlin kembang kempis karena setiap berbicara dengan papa kandungnya itu selalu saja emosi. Arlin tak menyangka jika papanya itu masih berani menginjakkan kakinya di perusahaan mendiang mamanya.

__ADS_1


"Mas, panggil office boy untuk membersihkan ruangan ini. Sekalian kalau perlu ganti kursi dan mejanya, aku nggak mau ada bekasnya di ruanganku" titah Arlin pada suaminya.


Aldo pun menganggukkan kepalanya kemudian menghubungi office boy untuk membersihkan semua yang ada di ruangan ini. Setelahnya ia segera mendorong istrinya keluar dari ruangan itu untuk mengembalikan moodnya. Terlihat sekali kalau istrinya ini sedang badmood karena sehabis melihat Papa Madin.


"Tolong keluarkan semua barang-barang disini. Letakkan saja di gudang, lalu minta Pak Nando bagian perlengkapan dan inventaris kantor untuk mengganti semuanya dengan barang baru. Sekalian bersihkan semuanya, minta bantuan yang lainnya" titah Aldo setelah melihat hanya ada satu orang office boy saja yang datang.


Kemungkinan mereka berpikir kalau hanya menyapu dan mengepel saja sehingga hanya mengutus satu orang kesini. Office boy itu menganggukkan kepalanya kemudian pergi untuk memberitahu rekannya yang lain.


"Kita ke ruang rapat dulu yuk sambil nunggu ruangan ini dibersihkan. Aku juga akan panggil Gita untuk menyiapkan semua data perusahaan dan yang lainnya" ucap Aldo membuat Arlin menganggukkan kepalanya.


Sebenarnya Arlin sudah tidak mood lagi untuk berada di perusahaan namun ia tak mau mengecewakan suaminya. Niatnya kesini untuk belajar tentang pengelolaan perusahaan bukan malah ngambek disini. Kursi roda Arlin didorong menuju ke ruang rapat yang ternyata Gita dan Kei juga sudah ada disana.


Arlin dan Aldo terkekeh geli mendengar gerutuan dari anaknya. Gita segera menyerahkan Kei dalam pangkuan Arlin kemudian wanita itu langsung memeluk dengan erat. Sedangkan Gita diminta untuk menyiapkan berkas kerjasama, data perusahaan, karyawan, dan laporan keuangan. Tentunya Gita langsung menganggukkan kepalanya kemudian menghubungi divisi terkait untuk menyerahkan semuanya ke ruang rapat.


"Jangan ngambek dong anak mama. Mama tuh tadi lagi ngusir kecoak di ruangan mama lho" ucap Arlin sambil terkekeh geli.


"Malin ulat, kalang toak. Ish... Temua natang tenapa celalu ekat-ekat cama ita?" kesal Kei.


Arlin terkekeh geli mendengar pertanyaan dari anaknya itu. Ia pun juga tak tahu mengapa orang-orang yang selalu bermasalah dengannya pasti akan ia sebut dengan nama hewan. Seketika saja mood Arlin membaik karena mendengar celotehan dari anaknya itu. Arlin bahkan langsung menggesekkan hidungnya dengan milik anaknya membuat Kei terkekeh geli.


"Permisi bu, pak... Ini sudah saya kumpulkan untuk semua yang kalian butuhkan" ucap Gita sambil membuka sedikit pintu setelah mengetuknya.

__ADS_1


Aldo meminta semua yang ada didepan pintu memasuki ruang rapat. Aldo mendekatkan kursi roda istrinya tepat pada bagian depan ruang rapat. Sedangkan semua karyawannya telah duduk di tempatnya masing-masing. Aldo dan Arlin menatap semua orang yang ada di ruangan.


"Saya mau minta laporan keuangan bulan ini sekalian yang kemarin juga" ucap Arlin dengan tegasnya.


"Ini bu" ucap salah seorang karyawan dari divisi keuangan sambil menyerahkan dua bendel laporan.


Arlin mengambilnya kemudian membuka dan memeriksa dua bendel laporan itu. Arlin hanya menganggukkan kepalanya berulangkali kemudian mengambil bolpoint yang ada didekatnya. Ia terlihat seperti mencoret beberapa tulisan yang ada disana.


"Pengeluaran dari keluarga? Maksudnya apa ini? Mas, kamu mengambil uang 20 juta satu minggu yang lalu?" tanya Arlin sambil menatap suaminya.


Benar saja dalam kertas itu tertulis keterangan mengenai pengeluaran dari keluarga. Tentunya ini menimbulkan pertanyaan yang besar karena sepertinya bukan suaminya lah yang mengambil uang ini. Suaminya bekerja sebagai dosen yang tentu saja takkan butuh uang sebanyak ini apalagi ia masih punya banyak aset.


"Maaf bu menyela. Itu bukan Pak Aldo yang mengambil uangnya tetapi Pak Madin" ucap karyawan divisi keuangan dengan tak enak hati karena menyela ucapan bosnya.


Arlin yang mendengar hal itu tentunya menatap tak percaya kearah karyawannya. Bahkan kini Aldo juga langsung menatapnya dengan tajam. Padahal ia sudah bilang pada semua orang untuk meminta persetujuannya dahulu kalau ingin mengeluarkan uang. Sedangkan karyawan itu hanya bisa menundukkan kepalany karena ketakutan.


"Saya kan sudah bilang untuk tak mengeluarkan uang sama sekali kalau tak ada persetujuan dari saya. Kenapa kalian malah membiarkannya?" sentak Aldo.


Tentunya semua orang terkejut mendengar sentakan dari Aldo. Baru kali ini mereka melihat kemarahan dari Aldo terutama Arlin dan Kei. Arlin bahkan langsung menutup kedua telinga anaknya agar tak mendengar ucapan keras dari suaminya itu.


"Maaf pak. Tapi Pak Madin mengancam saya menggunakan pisau. Bapak bisa lihat CCTV di ruangan saya" ucap karyawan itu dengan ketakutan berusaha untuk membela diri.

__ADS_1


__ADS_2