
"Kei bolos cekolah caja, papa. Kei nantuk ini, mau temani mama bobok caja" ucap Kei pada Aldo.
Bahkan bocah kecil itu langsung menaiki kasur milik orangtuanya kemudian tidur di samping Lili. Lili bahkan tak menyadari kalau dirinya digendong Aldo dan dibaringkan di atas kasur. Sepertinya perempuan itu sangat kelelahan.
Bahkan saat Kei berbaring di sampingnya dan memeluk Lili dengan erat, perempuan itu tak bangun. Kini malah keduanya berpelukan dan tertidur, tanpa mempedulikan Aldo yang hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Astaga... Kei udah pintar sekali kalau mau bolos. Pakai minta ijin segala lagi" gumamnya sambil geleng-geleng kepala.
Aldo pun segera saja merebahkan badannya di samping Lili. Ia memeluk erat Lili dan Kei yang tertidur di sana. Akhirnya mereka malah tidur sampai siang. Lili pun terbangun karena merasa gerah belum mandi dari kemarin.
"Astaga... Ini udah jam berapa? Kok nggak ada yang bangunin" gumamnya yang langsung mengalihkan pandangannya kearah Kei dan Aldo yang memeluk dirinya posesif.
Lili hanya bisa geleng-geleng kepala kemudian melihat kearah jam dinding. Ternyata jam menunjukkan pukul 10 siang. Ia harus segera bangun karena hari ini ia juga mendapatkan jadwal masuk shift malam. Pastinya ia akan kembali pulang pada saat jam-jam yang tidak jelas.
Lili segera saja melepaskan diri dari Kei dan Aldo kemudian memasuki kamar mandi. Lili yakin kalau hari ini Kei kembali tidak berangkat ke sekolahnya. Ada sedikit perasaan tak enak melihat anaknya berulangkali tidak berangkat sekolah.
"Apa aku nggak usah lanjutin ini ya? Kok kayanya waktu sama keluarga jadi berkurang gini. Apalagi jarang ada waktu buat Kei. Aldo juga jadi kurang perhatian" gumamnya yang bimbang dengan kegiatannya ini.
Ia ingin sekali bisa melanjutkan untuk menggapai cita-citanya. Hanya saja, kasihan juga dengan Kei yang jarang mempunyai waktu bermain bersama. Alalagi Aldo yang takut juga jika sampai tak terurus dan malah berpaling pada perempuan yang lain.
"Hah... Tapi kasihan mama dan papa yang berharap aku jadi dokter. Huft... Baiklah Lili. Nggak boleh letoy kaya gini. Ini sudah pilihan kamu buat melanjutkan pendidikan. Kamu harus bisa membagi waktumu dengan anak dan suamimu" ucap Lili yang bertekad untuk bisa mengatur jadwalnya lagi.
Lili kini langsung membersihkan dirinya dengan cepat. Ia juga akan memasak untuk anak dan suaminya. Tak berapa lama, Lili keluar dari kamar mandi dan terlihatlah Kei sudah bangun dari tidurnya. Lili segera saja menggendong Kei dan memandikannya.
"Mama ndak capek talo mandiin Kei dini? Kei bica lho talo mandina nanti caja cama papa atau opa" ucap Kei yang kasihan pada mamanya.
"Enggak dong. Masa mandiin anak sendiri capek sih. Justru mama senang karena dengan begini sekalian bisa main sama Kei. Maafkan mama ya Kei, baru sehari praktik aja udah nggak ada waktu buat kamu" ucap Lili dengan tatapan bersalahnya.
"Ndak papa, mama. Ladian Kei nelti talo dadi doktel itu memang cibuk. Tacian olang-olang yang cakit talo ndak ada doktel yang obatin" ucap Kei bijak.
Lili menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Setelah memandikan Kei, Lili segera saja membawa Kei menuju kamarnya. Ia menggantikan baju Kei dengan telaten kemudian membawanya ke ruang makan.
"Kei tunggu di sini. Mama mau masak makanan khusus buat kamu dan papa ya" ucap Lili setelah mendudukkan anaknya di kursi.
"Kei mau bantu mama caja. Kacian nanti mama capek" ucap Kei dengan tatapan penuh harap.
Lili menganggukkan kepalanya mengerti. Akhirnya Lili membawa Kei ke dapur karena tak tahan dengan wajah memelas Kei. Apalagi Kei sangat berharap diajak memasak bersama. Kei memekik senang karena Lili langsung menggendongnya untuk ikut serta ke dapur.
__ADS_1
Walaupun sebenarnya Kei hanya duduk di pantry saja. Ia melihat dan bertanya pada Lili apapun yang ingin diketahuinya. Bahkan Lili dengan senang hati menjawabnya walaupun pertanyan Kei itu sangat menyebalkan dan berulang. Setelah beberapa menit, makanan telah masak dan diletakkan di atas meja.
"Wah... Lual biaca. Kei bica macak telnata" ucap Kei penuh bangga.
"Kan yang masak mama. Sedari tadi Kei cuma tanya saja lho" ucap Lili dengan sedikit menggoda Kei.
"Mama, Kei itu padahal bantu macak lho. Tan tadi yang menemani mama macak itu Kei bial ndak kecepian" ucap Kei sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
Lili terkekeh pelan mendengar ucapan anaknya itu. Bahkan bibirnya yang mengerucut lucu itu ingin sekali dirinya langsung mencium bocah kecil itu. Lili langsung saja memeluk anaknya dengan erat. Saat keduanya tengah bercanda, tiba-tiba saja Aldo datang dengan raut wajah segarnya.
"Keluar kamar nggak bangunin dan ngajak papa ya" sindir Aldo.
"Mana sekarang pelukan nggak ngajak-ngajak lagi" lanjutnya.
Keduanya sontak saja melepaskan pelukannya kemudian duduk di kursinya masing-masing. Mereka hanya terkekeh geli melihat Aldo yang kesal karena tidak diajak. Sedangkan Aldo langsung memeluk istrinya tu dari samping untuk mengurangi rasa rindunya.
"Papa bolos kelja duga?" tanya Kei yang penasaran.
"Iya, mau ikut Kei yang juga bolos sekolah" ucap Aldo dengan santainya.
Lili tersenyum mendengar anaknya yang malah seperti ingin mempengaruhi dirinya itu. Ia juga ingin tak berangkat ke rumah sakit, hanya saja itu akan merusak citra suaminya. Ia tak boleh seenaknya sendiri, apalagi sudah menyangkut pendidikannya.
"Mana bisa? Kan orang sakit nggak bisa diprediksi. Kasihan dong nanti yang sakit, bisa-bisa nggak ada dokter yang menangani kalau bolos semua" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
Kei hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal dengan apa yang diucapkan mamanya. Mereka pun melakukan makan siang bersama. Setelah makan, Kei dan Aldo mengantar Lili ke rumah sakit untuk melakukan tugasnya. Tentu mereka ingin selalu bersama Lili walaupun hanya mengantar saja ke rumah sakit.
***
"Mas, kamu tahu dokter Adnan?" tanya Lili.
Kini mereka bertiga ada di dalam mobil menuju ke rumah sakit. Kei duduk di atas pangkuan Lili, sedangkan Aldo yang mengemudikan mobilnya. Kei terus saja memeluk Lili dengan erat membuat perempuan itu terus mengelus lembut punggung anaknya.
"Tahu. Dokter di rumah sakit aku kan? Ada apa dengannya? Apa dia membuat masalah di rumah sakit?" tanya Aldo dengan pertanyaan beruntun.
"Enggak sih. Masa dia ngira kalau Lili masih single dan nggak percaya kalau istri kamu. Padahal kayanya dia datang kan waktu di pernikahan kita?" tanya Lili.
"Nggak tahu juga dia datang apa enggak. Soalnya banyak dokter yang ku undang, tapi dia enggak. Lagian aku kan emang nggak terlalu kenal sama dia" ucap Aldo dengan santainya.
__ADS_1
"Dia pikir foto saat pernikahan dengan aslinya sangat berbeda, makanya nggak ngenalin aku" ucap Lili.
Ia pikir Dokter Adnan itu diundang oleh Aldo, ternyata tidak. Pantas saja sih kalau tak terlalu mengenali wajahnya. Apalagi kalau melihat dari foto ya jelas berbeda wajahnya. Aldo hanya menganggukkan kepalanya walaupun merasa aneh dengan apa yang diucapkan istrinya.
"Jadi apa hubungannya dengan dia yang tak mengenali wajamu? Apa dia menyuruhmu melakukan sesuatu yang berat?" tanya Aldo dengan tatapan penasarannya.
"Tadi malam, dia memberiku dan Mega makanan. Terus dia kelihatan marah saat tahu kalau aku istri kamu. Entah itu perasaanku saja atau bukan sih, tapi kayanya dia sedikit menaruh perasaan padaku" ucap Lili dengan sedikit ragu.
Pasalnya menurut beberapa perawat yang ada di rumah sakit itu, hanya Lili saja yang sedari mengerjakan pasti ditatap oleh Dokter Adnan. Bahkan sedari awal perkenalan kemarin, Dokter Adnan dengan giat mencari tahu tentang Lili. Walaupun laki-laki itu baru mengetahui kalau Lili adalah seorang istri dari pemilik rumah sakit itu kemarin.
"Bukannya dia memang suka goda-godain perawat yang ada di rumah sakit? Pernah juga sih aku dengar begitu. Tapi katanya itu bukan menggoda, hanya ramah saja sama perempuan itu. Kalaupun dia menyukaimu, akan ku hajar dia sampai babak belur" ucap Aldo dengan tegasnya.
"Batalan Kei tendang tuh tatina talo belani lebut mama dali Kei dan papa. Nenak caja main cuka cama mamana Kei" ucap Kei menimpali ucapan papanya.
Aldo dan Lili terkekeh pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu. Mereka tak menyangka juga kalau Kei ternyata mendengar apa yang diucapkan oleh Lili dan Aldo. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Aldo itu memasuki halaman rumah sakit.
"Mama, ati-ati ya keldana. Talo ada yang danduin, langcung bilang cama Kei" ucap Kei memberi pesan pada mamanya.
"Siap, anak mama" ucap Lili yang langsung menciumi pipi anaknya itu.
"Lebih baik kita antar mama masuk ke dalam saja, Kei. Biar kita tahu kalau ada yang mengganggu mama" ucap Aldo memberi ide.
"Cetuju" seru Kei sambil menganggukkan kepalanya dengan antusias.
Lili hanya bisa menganga tak percaya mendengar perbincangan keduanya itu. Ketiganya segera keluar dengan Lili yang hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka kalau anak dan suaminya sekarang bertambah posesif jika menyangkut dengannya.
"Kalian mau sampai mana mengantar mama?" tanya Lili setelah sampai di dekat ruang UGD.
"Sampai ketemu tuh dokter Adnan. Biar dia tahu kalau kamu memang istri aku dan mamanya Kei. Iya kan, Kei?" ucap Aldo meminta persetujuan dari anaknya.
"Betul. Bial cemua olang tahu talo mama ini cudah ada yang puna" ucap Kei dengan penuh keyakinan.
Sontak saja Lili hanya bisa menatap tak percaya kearah keduanya. Sepasang ayah dan anak yang biasanya memperebutkan dirinya kini malah kompak. Keduanya sangat kompak untuk memperjuangkan apa yang dimilikinya.
"Terserah kalian saja. Kalau memang mau liat dokter Adnan ya tunggu saja di sini" ucap Lili yang langsung pergi kearah ruangannya diikuti Aldo dan Kei.
Tak berapa lama berjalan, ada seorang laki-laki yang mendekat kearah Lili. Bahkan terlihat sekali kalau laki-laki yang juga berprofesi dokter di sana itu tersenyum pada Lili. Segera saja Aldo dan Kei memasang sikap waspadanya agar Lili tak diganggu.
__ADS_1