
"Lili, kok kamu jalannya pelan-pelan begitu? Kaya mau jadi model-model gitu deh" ucap Mega menegur temannya saat sudah masuk di dekat ruangan dokter rawat inap.
"Nggak papa. Cuma ingin santai saja jalannya. Lagian ngapain jalan cepat-cepat, kaya mau dikejar setan saja" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
Mega hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pasalnya dia merasa ada yang aneh dengan cara jalan temannya itu. Bukan seperti orang santai dalam berjalan, lebih tepatnya sangat berhati-hati dalam melangkah.
"Hari ini kita tugas di rawat inap 2B kan?" tanya Lili pada temannya itu sekalian mengalihkan pembicaraan.
"Iya, katanya di sana pasiennya kebanyakan lansia. Jadi kita sebagai dokter harus sabar dan sopan agar enggak ada keributan" ucap Mega memberitahu informasi yang didapatkannya.
"Sama pasien siapa saja entah itu lansia atau bukan, kita harus sabar dan sopan. Apalagi kalau menghadapi orang sakit itu pasti ada saja keluhannya" ucap Lili.
Mega hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka segera masuk dalam ruangan dan mendengarkan briefing. Akan ada beberapa informasi penting yang diberikan oleh dokter kepala rawat inap pada semua calon dokter.
***
"Nanad, Kei mau puna adit tecil lho" pamer Kei pada Nadeline.
Kini keduanya sedang makan bersama di taman sekolah. Sedangkan Mama Nei juga duduk tak jauh dari sana untuk mengawasi dua bocah kecil itu. Ia ditemani oleh babysitter Nadeline. Keduanya tampak akrab karena Mama Nei tak pernah membeda-bedakan siapapun dalam pergaulannya.
"Wah... Benarkah? Berarti Nanad juga bakalan punya adik dong" ucap Nadeline tak mau kalah.
"Lho kan mamamu ndak hamil, tok Nanad mau puna adit duga?" tanya Kei yang bingung dengan ucapan temannya itu.
"Kan adiknya Kei itu juga adikku. Kamu gimana sih? Boleh kan kalau dia juga jadi adikku nanti?" tanya Nadeline dengan tatapan penuh harap.
"Boleh dong. Pati aditna Kei batalan cenang talo puna dua kakak" ucap Kei dengan antusiasnya mau berbagi.
Nadeline langsung menganggukkan kepalanya antusias. Ia sangat senang jika mendapatkan saudara baru lagi. Apalagi Kei sudah ia anggap sahabat sekaligus saudaranya sendiri. Bahkan Kei rela jika harus berbagi suapan dengannya saat bersama Lili.
Berita mengenai kehamilan Lili ini sungguh membahagiakan Nadeline. Nanti dia akan bercerita kepada papanya kalau akan punya saudara lagi. Ia juga berharap bisa meminta papanya agar sering mengajaknya bermain di rumah Kei.
__ADS_1
***
"Ibu, kami tidak akan menyuruh untuk minum obat kok. Yang penting ibu di sini makan nasi juga buah yang disediakan. Setidaknya ini untuk kekuatan ibu agar bisa beraktifitas lagi nanti" ucap Lili mencoba membujuk salah satu ibu-ibu yang sama sekali tak mau makan.
"Nggak enak makanannya, dok. Saya ingin makan seblak level 10 tapi sama perawat nggak diijinkan" adu pasien itu pada Lili yang tengah memeriksanya.
"Ibu kan mempunyai masalah pada lambung. Kalau makan pedas, yang ada ibu akan lama lho nginap di rumah sakitnya. Masa ibu mau pakai jarum infus terus" ucap Lili dengan sabarnya menjelaskan.
"Tapi itu kesukaan saya. Kalau makan pedas, saya jadi sangat lahap makannya" ucap pasien itu.
Lili hanya bisa tersenyum mendengar aduan dan omelan yang diucapkan oleh pasien itu. Pasalnya hanya pasien kali ini yang sangat susah ia bujuk. Tadi yang lain sudah berhasil ia bujuk, namun untuk ibu kali ini rasanya ia sudah tak mampu.
Bahkan Mega dan anggota keluarga pasien saja sudah menyerah sedari tadi. Keluarga pasien menyadari kalau beliau memang sangat keras kepala. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan makanan sangat susah dibujuknya.
"Sekarang makannya yang soup dan segar-segar dulu, ibu. Biar lambungnya juga nggak kaget karena makanan pedas" ucap Lili masih mau mencoba membujuknya.
"Kamu sedang hamil ya?" tanya pasien itu tiba-tiba tanpa menggubris ucapan Lili sambil menunjuk kearah perut perempuan itu.
"Tahulah. Saya kan juga pernah hamil kaya kamu. Itu kamu kan masih muda, ini hamil duluan apa memang sudah menikah?" tanya pasien itu dengan to the point.
Bahkan kalimat yang diucapkannya terdengar begitu nyelekit sehingga membuat Lili sedikut tersinggung. Apalag kini Lili sedang sensitif perasaannya akibat dari kehamilannya ini. Namun Lili hanya memejamkan matanya dan mencoba untuk tidak terpengaruh dengan ucapan itu.
"Saya sudah menikah, bu. Saya menikah muda dan kebetulan baru sekitar 2 bulan ini" ucap Lili menjawab dengan tenang walaupun kedua tangannya mengepal erat.
"Oh... Saya kira hamil duluan. Boleh saya usap perut kamu?" tanya pasien itu dengan tatapan penuh harap.
Lili sedikit terkejut dengan permintaan pasiennya itu. Sedangkan Mega dan anggota keluarga pasien sejak tadi memilih untuk diam saja karena merasa bingung. Apalagi Mega yang langsung mengingat dengan cara berjalan Lili pagi tadi yang kemungkinan berhubungan mengenai kehamilannya.
"Saya tidak akan menyakiti bayi kamu" lanjutnya seperti tahu kalau ada keraguan dalam diri Lili.
Lili hanya meringis pelan mendengar hal itu. Ia seperti tak enak hati karena secara tak langsung tahu kalau takut jika terjadi sesuatu dengan bayinya. Lili menganggukkan kepalanya kemudian dielua perutnya oleh pasien ibu-ibu itu.
__ADS_1
"Jadi anak yang sholeh atau sholehah kelak ya, nak. Jangan menyusahkan ibu atau keluargamu. Semoga kelak kamu lahir dengan selamat dan bisa membanggakan orang di sekitarmu" ucap pasien itu dengan tulus.
Lili mengaminkan do'a baik yang diucapkan oleh pasien itu di dalam hatinya. Lili tak menyangka jika dibalik kejutekannya itu ternyata ucapan dan do'anya begitu tulus. Lili juga langsung mengusap pergelangan tangan pasien itu.
"Terimakasih atas do'a baiknya, bu. Semoga apa yang ibu do'akan ini diijabah sama Tuhan. Oh ya bu, anak saya ini sedang ngidam sesuatu lho" ucap Lili dengan antusiasnya.
"Ngidam apa itu? Kalau kamu ngidam ya minta sama suamimu, masa sama ibu" ucap pasien itu yang sedikit kesal dengan ucapan Lili.
"Tapi ngidam itu cuma bisa dilakuin sama ibu bukan suami saya" ucap Lili dengan menatap permohonan kearah pasiennya.
Lili mempunyai ide jahil yang nanti bisa membuat pasien di depannya ini mau melakukan apa yang diinginkannya. Mega dan anggota keluarga lainnya sudah mulai was-was dengan permintaan Lili itu. Sedangkan pasien itu sudah mendengus kesal karena mendengar penuturan Lili yang menyebalkan.
"Apa? Kamu ngidam apa bayi? Ah... Kayanya ini hanya akal-akalan ibunya saja" ucap pasien itu yang sedikit tak percaya.
"Pasti ibu dulu juga suka ngidam aneh-aneh bukan? Ibu juga pasti tahu kalau ngidamnya nggak terpenuhi nanti anaknya bisa ngecesan. Ah... Pokoknya saya nggak mau kalau sampai anak saya begitu ya. Kalau sampai begitu, saya nyalahin ibu" ucap Lili dengan sedikit merajuk.
"Hah... Iya-iya. Buruan apa ngidamnya?" ucap pasien itu dengan ketus.
"Anak saya ini ingin ibu makan nasi, sayur, dan buah itu sampai habis. Tak lupa harus banyak minum air putihnya ya" ucap Lili sambil terkekeh geli.
"Mana ada ngidam seperti itu?" ucap pasien itu tak terima hingga melayangkan protesnya.
"Buktinya itu ada. Ayo buruan, bu. Keburu anak saya ganti keinginannya" ucap Lili dengan sedikit merengek.
Akhirnya dengan terpaksa, pasien itu langsung mengambil makanan yang ada di atas nakas. Ia mengambilnya dengan sedikit kasar dan menatap Lili dengan tatapan permusuhan. Sepertinya ia memang tengah dijahili oleh calon dokter itu.
"Amin, besok-besok kalau ada nih calon dokter ini di rumah sakit jangan mau disuruh periksa ke ibu. Kapok ibu kalau ada dia" ucap pasien itu pada anaknya.
"Padahal calon dokter ini baik, cantik, dan penuh kasih sayang lho, bu. Kok ibu nggak mau diperiksa dan dirawat sama saya sih? Jadi sedih lho ini anak dalam kandungan Lili" ucap Lili dengan wajah yang disedih-sedihkan.
"Drama" ucap pasien itu dengan sedikit menyindir.
__ADS_1
Semua yang ada di sana malah tertawa pelan mendengar perdebatan keduanya. Anggota keluarga pasien juga sangat bahagia karena melihat beliau mau makan walaupun dengan paksaan. Mereka tahu jika apa yang dilakukan oleh Lili itu hanyalah akting semata.