Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Dugaan


__ADS_3

Kei tertawa renyah melihat adegan keseruan antara Lili dengan Aldo. Apalagi melihat papanya yang kepedasan dengan bibir merahnya. Lili bahkan sampai tertawa terbahak-bahak karena berhasil menjahili Aldo. Beberapa mahasiswa yang berada di kantin hanya bisa menahan tawanya.


Tentu mereka takut kalau sampai tertawa nantinya pasti akan berpengaruh pada nilai. Apalagi Aldo itu merupakan salah satu dosen yang mengajar mereka. Setelah mendapatkan minuman dingin dari penjual kantin, Aldo segera kembali ke mejanya dengan Lili yang masih tertawa.


"Puas, kamu?" tanya Aldo dengan tatapan sinisnya.


"Puas dong. Makanya jadi orang, jangan asal nyosor kaya bebek gitu dong. Mana ini di kantin, banyak orang. Emang situ nggak malu atau jaga image di depan mahasiswanya? Bisa-bisa ntar situ dibilang pengajar yang tak punya akhlak" ucap Lili memperingatkan dosennya itu.


Aldo pun langsung terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Lili itu. Memang benar adanya kalau dirinya seakan lupa diri kalau sedang berada di tempat umum. Padahal imagenya saat berada di kampus itu adalah sebagai dosen berwajah datar dan dingin. Namun karena menikmati suasana candaan dengan Lili dan Kei membuatnya mengeluarkan sisi lainnya.


Aldo pun meneruskan makan bakso yang masih ada di hadapannya. Sedangkan Lili sudah memesan makanan baru dengan Kei yang sibuk bermain mobil-mobilan di tangannya. Bakso yang ada di hadapannya sudah habis ia lahap karena lama menunggu perdebatan Lili dan Aldo.


***


"Mau pulang kapan?" tanya Aldo.


Setelah makan dari kantin tadi, Aldo yang masih harus mengajar pun tak bisa langsung pulang begitu saja. Sedangkan ia tak mungkin meminta Lili dan Kei menunggunya di sini. Pasti mereka akan kebosanan dan Kei memang butuh tidur siang. Terlihat sekali kalau wajahnya begitu lesu dan matanya sudah sayu.


"Saya bawa Kei ke rumah saja, pak. Kasihan Kei, kayanya dia sudah kecapekan sekali" ucap Lili memberi ide.


"Baiklah. Naik taksi ya, soalnya saya habis ini masih harus mengajar. Apa kamu mau bawa mobilku saja? Biar nanti aku pulangnya suruh jemput sopir dan menjemput Kei ke rumahmu" ucap Aldo.

__ADS_1


Lili menggelengkan kepalanya pertanda tak setuju dengan saran terakhir dari Aldo. Ia tak mau mengendarai mobil sendiri apalagi ini hanya bersama Kei. Ia malah takut kalau nantinya terjadi sesuatu dengan Kei karena kecerobohannya. Apalagi ia sudah lama tidak mengemudikan mobil.


"Biar kami naik taksi saja. Tolong pesankan" ucap Lili.


Aldo pun menganggukkan kepalanya kemudian memesankan taksi online. Bahkan Aldo menunggu keduanya sampai taksi itu datang. Ia tak ingin kalau terjadi sesuatu dengan keduanya. Sepertinya sikap Aldo kali ini sudah lebih luluh dan baik ketika berhadapan dengan Lili. Atau mungkin ini karena ada Kei saja jadinya Aldo bersikap baik pada Lili.


"Pak, tolong jaga calon istri dan anak saya. Hati-hati dalam berkendara, tak usah ngebut-ngebut" ucap Aldo dengan percaya dirinya setelah Lili dan Kei memasuki taksi itu.


Bahkan Aldo tak menghiraukan tatapan tajam dari Lili setelah gadis itu mendengar ucapan laki-laki itu. Lili sungguh kesal dengan Aldo yang sudah seenaknya mengklaim dirinya sebagai calon istrinya di hadapan oranglain. Padahal hubungan keduanya saja masih asing, bahkan sering bertingkah konyol.


"Siap, pak. Saya akan mengantarkan mereka sampai di rumah dengan selamat" ucap sopir taksi itu dengan senyumannya.


"Hati-hati pulangnya. Kalau sudah sampai rumah, kabari saya. Nanti kalau saya sudah selesai bekerja akan langsung ke rumah untuk ambil Kei" uap Aldo memberi pesan pada Lili.


"Tak lupa juga buat apel sama calon istri" lanjutnya.


Bahkan Aldo langsung saja pergi berlari memasuki kampus setelah mengucapkan kalimat itu. Mata Lili melotot tak terima dengan apa yang diucapkan oleh Aldo itu. Aldo juga langsung berlari pergi karena takut mendapatkan omelan dari Lili akibat ucapannya itu.


Aldo sekarang sudah merasa nyaman jika berada di dekat Lili. Sepertinya Aldo sudah ketularan Kei yang selalu igin berada di dekat gadis itu. Setelah memastikan penumpangnya siap, sopir taksi itu segera saja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


***

__ADS_1


"Lho... Ini Kei kok dibawa ke sini? Apa nggak pulang ke rumahnya setelah sekolah?" tanya Mama Ningrum yang melihat Lili masuk dalam rumah sambil menggendong Kei.


"Di rumahnya nggak ada oma dan opa juga papanya. Makanya ini Lili bawa pulang saja, lagian Pak Aldo nanti jemput ke sini" ucap Lili.


Mama Ningrum hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Lili itu. Ia sedikit kasihan sebenarnya dengan Kei yang seakan harus berpindah tangan untuk siapa yang menjaganya. Apalagi semua keluarganya sibuk sendiri-sendiri membuat bocah cilik itu seprti kekurangan kasih sayang.


Lili langsung membawa Kei ke kamarnya dan menggantikannya dengan baju santai. Setelah memastikan Kei aman dan tidur di atas ranjang, Lili keluar kamarnya. Ia mendekati Mama Ningrum yang fokus dengan majalah fashionnya. Tiba-tiba saja Lili duduk di samping mamanya dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa nih anak mama kok tumben manja?" tanya Mama Ningrum yang kemudian meletakkan majalahnya.


"Padahal lagi didekati sama duda anak satu kok masih manja sama mamanya lho. Mana tuh udah ada tuyul satu di atas" lanjutnya dengan sedikit menggoda anaknya.


"Dih... Mama mah ngada-ngada deh. Mana ada aku didekati si duda itu. Toh tuh duda hanya memanfaatkan Lili buat jaga Kei" ucap Lili dengan elakannya.


Tentu saja Lili tidak suka dan percaya dengan apa yang diucapkan oleh mamanya. Selama ini Lili merasa hanya dimanfaatkan oleh Aldo untuk menjaga Kei. Lagi pula ia tak terlalu dekat atau bahkan berkomunikasi intens dengan Aldo. Keduanya berinteraksi pun karena Kei saja, bukan hal lainnya.


"Bukannya dulu si duda itu nggak suka kalau kamu dekat dengan Kei? Kok sekarang jadi kaya setuju dan senang saja. Coba deh kamu ingat, pasti si duda itu punya ketertarikan sama anak mama ini deh" ucap Mama Ningrum mencoba menebak-nebak isi hati dari Aldo.


"Udahlah, ma. Nggak usah bahas itu lagi. Lili malas bahas itu duda aneh" ucap Lili yang langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan mamanya.


Mama Ningrum hanya bisa menghela nafasnya pasrah melihat ketidakpekaan anaknya itu. Mama Ningrum langsung mengelus lembut rambut anaknya dan Lili malah memejamkan matanya. Lili tertidur pulas di atas pangkuan mamanya membuat Mama Ningrum ingin menjitak anak gadisnya itu.

__ADS_1


__ADS_2