
Suasana di dalam ruangan itu sangat canggung. Bahkan berbeda dengan tadi yang saat belum kedatangan Aldo. Bagaimanapun juga, teman-teman Lili yang lebih tepatnya Fina tentu merasa tak enak hati dengan adanya Aldo. Mereka sedikit takut jika salah berucap dan berpengaruh pada nilai di kampusnya.
"Jangan pada canggung gitu. Ini bukan kampus lho. Ini di luar, apa yang terjadi di sini itu nggak akan ngaruh sama di kampus. Jadi kita harus senang-senang tanpa memikirkan kalau Aldo ini dosen kalian" ucap Mama Nei memberitahu teman-teman Lili.
"Om dan tante yang jamin. Walau kalian mau ngomel atau joget-joget di sini, takkan berpengaruh apapun dengan nilai di kampus" ucap Papa Tito.
Semuanya hanya menganggukkan kepala. Mereka makan dengan tenang karena semua makanan sudah disediakan di atas meja. Makanan mewah dan terbaik di restorant ini disediakan di atas meja.
"Wah... Banak cekali ini matananna. Dimana ini talo ndak abis? Pelutna Kei ndak muntin muat buwat matan cemuana" ucap Kei sambil mengelus perutnya yang kecil itu.
"Ya jangan dimakan semua sama kamu, Kei. Ini kita makannya sama-sama. Lagi pula ini sudah disesuaikan porsinya oleh semua yang hadir" ucap Mama Ningrum.
"Oh... Ditu, nek. Tan Kei cuma menanticipaci agal ndak mubadil" ucap Kei.
Lili yang berada di samping Kei pun langsung mengelus lembut rambut bocah cilik itu. Sangat pintar sekali Kei dalam berucap. Lili sangat bangga pada bocah laki-laki itu.
"Mau disuapi atau makan sendiri, Kei?" tanya Lili.
"Cuapi caja, mama" ucap Kei dengan memperlihatkan wajah imutnya.
"Sok imut kalau ada maunya. Dasar licik" ucap Aldo tiba-tiba dengan sedikit menyindir anaknya itu.
Aldo yang sedari tadi diam tentu saja berucap sedikit sinis pada anaknya itu. Apalagi Kei yang begitu manja pada Lili membuatnya sedikit iri. Semua perhatian yang ada di ruangan ini juga tertuju pada Kei yang lucu dan imut. Dan itu membuat Aldo sedikit sebal.
__ADS_1
"Papa ili cama Kei. Matana balik ladi dadi nanak tecil bial dicuapi cama mamana" ucap Kei membalas sindiran Aldo.
"Wah... Luar biasa kamu, Kei. Memang benar papamu itu iri sama kamu soalnya bisa dekat sama Mama Lili terus" ucap Mama Nei yang ikut meledek anaknya.
"Mau papa suapin, Al?" tanya Papa Tito pada anaknya.
Sontak saja Aldo menatap sebal kearah papanya yang seakan meledeknya. Bahkan teman-teman Lili sedikit terkejut melihat sisi lain dari Aldo. Padahal terlihat jelas kalau awalnya laki-laki itu raut wajahnya begitu datar dan dingin. Namun saat bersama keluarga ternyata sangat berbeda.
Aldo segera makan makanannya sambil menatap Kei dengan tatapan permusuhan. Kei pun tenang-tenang saja karena pasti akan ada banyak orang yang membelanya. Masalah tentang papanya, itu urusan belakangan.
***
"Terimakasih sudah menjadi teman Lili. Semoga kalian kelak juga jadi orang sukses, sesuai dengan cita-citanya. Sering-seringlah main ke rumah, biar suasana di sana ramai" ucap Mama Ningrum dengan sedikit membungkukkan badannya.
Setelah acara makan siang bersama, teman-teman Lili memutuskan untuk pulang ke rumah. Mama Ningrum sangat senang dengan teman-teman Lili yang auranya sudah menggambarkan orang baik. Bahkan mereka juga terlihat sopan walaupun bicaranya ceplas-ceplos.
"Tapi kalian mau repot-repot demi Lili lho. Pokoknya tante dan om berterimakasih sekali sama kalian. Teruslah jadi orang baik" ucap Mama Ningrum.
Fina dan yang lainnya menganggukkan kepalanya kemudian pamit pulang ke rumah. Sedangkan Lili dan keluarganya juga Aldo juga langsung pulang untuk istirahat. Sedangkan Kei tetap ingin menginap di rumah Lili. Untuk pakaian dan seragam Kei esok untuk sekolah akan dikirimkan oleh sopir keluarga Aldo.
***
"Sekarang Kei kok jadi suka nginap di rumah Lili sih, ma" kesal Aldo pada anaknya yang sekarang sangat manja pada Lili.
__ADS_1
"Ya biarin ajalah, Al. Namanya juga anak-anak pasti akan dekat dengan ibunya. Apalagi Kei itu sangat mengidam-idamkan Lili agar bisa jadi ibunya" ucap Mama Nei.
Aldo dan orangtuanya sudah berada di mansion setelah seharian pergi. Kini mereka tengah berada di ruang keluarga untuk sekedar berbincang bersama. Apalagi mengenai masalah Kei yang menginginkan dekat dengan Lili.
"Tapi Aldo kan nggak bisa sering-sering sama Lili jadinya. Baru di sekolah Kei atau kampus aja kalau udah ada tuh anak kaya jadi satpam tahu, ma" ucap Aldo yang seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya.
Mama Nei dan Papa Tito hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Aldo yang sudah sepertk anak kecil. Padahal sudah punya anak satu tapi kalau merengek malah melebihi Kei. Apalagi ini Aldo iri dengan kedekatan Kei dengan Lili.
"Suatu saat nanti Kei juga bakalan ngerti kalau papa dan mamanya ingin berduaan. Yang penting sekarang adalah sosok Lili untuk Kei. Kasihan anakmu itu yang tak pernah merasakan sosok ibu semenjak lahir. Apalagi kamu tahu sendiri dulu gimana Arlin bersikap" ucap Papa Tito mengingatkan anaknya.
Aldo pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia ingin dekat dengan Lili namun melihat Kei juga merasa kasihan. Benar kata kedua orangtuanya. Ia tak boleh egois dengan terus menginginkan Lili berada di sampingnya.
***
"Kei, bahagia nggak hari ini?" tanya Lili pada Kei yang berbaring di sampingnya.
"Bahadia dong. Oh ya... Hadiah dali eman-eman mama adi ada dimana? Tok papa ndak tacih mama hadiah?" tanya Kei dengan raut penasarannya.
Mendengar ucapan Kei itu membuat Lili langsung mengingat jika Aldo memang belum mengucapkan selamat dan memberi hadiah padanya. Namun ia tak mempermasalahkan hal itu karena mungkin Aldo belum menyiapkan apapun untuknya.
"Mungkin papa lupa beli hadiah buat mama. Kan tadi Kei tahu sendiri kalau papa itu yang jadi dosennya mama" ucap Lili memberi alasan.
"Alacan. Tan bica caja titip cama oma" ucap Kei yang langsung menyangkal alasan yang diberikan oleh Lili.
__ADS_1
Lili hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pasalnya dia tak menginginkan apapun dari Aldo. Apalagi laki-laki itu memanglah tak romantis. Yang terpenting baginya adalah semua hadir dalam salah satu proses penting dalam hidupnya.
Sedangkan Kei tentunya ia akan menagih papanya hadiah untuk diberikan pada mamanya. Ia tak terima jika Lili tak diberi hadiah padahal uang Aldo banyak. Bahkan Kei juga akan meminta hadiah untuk dirinya sendiri pada Aldo juga oma dan opanya.