
Kedatangan Lili, Mama Nei, dan Papa Tito benar-benar dirahasiakan oleh semua petugas rumah sakit. Bahkan dokter dan perawat yang memeriksanya juga dilarang mencantumkan rekam medis Lili mengenai pemeriksaan kandungan ini di dalam database. Tentu saja ini hanya bersifat sementara sampai esok hari agar kejutan untuk Aldo berhasil.
Sedangkan Papa Tito yang tadinya berada di perusahaan langsung melaksanakan perintah dari Mama Nei. Bahkan Papa Tito memilih datang ke rumah sakit untuk menemani istri dan menantunya. Ia juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Pasalnya saat menghubunginya tadi, Mama Nei tak menjelaskan secara langsung.
"Jadi ini kita mau ke dokter kandungan? Yang mau program hamil atau sedang mengandung itu siapa? Atau mama mau pasang alat KB?" tanya Papa Tito penasaran saat kini ia bertemu dengan istri dan menantunya di lobby.
"Enak aja. Mama akan emang udah tua dan menopause, ngapain juga pakai pasang KB. Kalaupun ngelakuin hubungan suami istri juga takkan hamil" ucap Mama Nei kesal dengan ucapan suaminya itu.
"Lha terus? Makanya mama tuh kalau jelasin jangan setengah-setengah dong" ucap Papa Tito.
"Lili menduga kalau dia hamil. Makanya kami ke sini untuk memastikan. Kita rahasiakan dulu dari Aldo sebelum semuanya pasti. Kalau memang benar, biarkan ini jadi kejutan buat Aldo dan Kei nanti malam" ucap Mama Nei.
Sontak saja Papa Tito terkejut dengan apa yang disampaikan oleh istrinya itu. Ia tak menyangka kalau ia akan mendapatkan cucu lagi secepat ini. Rumahnya pasti akan bertambah ramai dengan adanya tangisan anak kecil.
"Syukurlah... Semoga memang benar kalau Lili hamil. Kalau begitu ayo" ajaknya dengan antusias.
Justru Papa Tito kini yang begitu antusias dengan berita kehamilan cucunya itu. Tak berapa lama, mereka sampai di depan ruang dokter kandungan. Bahkan Papa Tito langsung saja masuk padahal antrian di sana begitu banyak. Hal itu membuat Lili tak enak hati, apalagi tatapan tajam para ibu-ibu itu mengarah kepadanya.
"Pak, antri dong. Kami sudah menunggu sejak pagi lho" seru salah satu ibu-ibu di sana saat Papa Tito hendak masuk ke dalam ruang dokter.
"Sus, masa itu dibiarkan masuk begitu saja sih. Kami saja belum ada yang dipanggil lho" seru ibu-ibu lainnya protes.
Sontak saja perawat itu langsung mengalihkan pandangannya. Ia tadi ingin keluar untuk mencari pasien khusus yang telah didaftarkan oleh ibu dari pemilik rumah sakit ini. Bahkan saat Papa Tito hendak masuk, ia mengetahui itu dan memilih diam karena tahu kalau beliau adalah ayah dari Aldo.
"Silahkan Nyonya Nei dan Nyonya Lilian bisa langsung masuk" ucap perawat itu mempersilahkan masuk.
"Maaf ya ibu-ibu sekalian, saya sudah reservasi ke dokter ini sejak dua hari yang lalu. Bukannya saya mau mendahului kalian atau sombong, tapi kami ini adalah keluarga dari pemilik rumah sakit ini juga" ucap Mama Nei dengan sedikit berbohong.
__ADS_1
Padahal Mama Nei baru juga reservasi satu jam yang lalu. Ia hanya tak ingin kalau sampai malah menjadi masalah kalau jujur. Lagi pula yang ada di sini bukan pasien gawat darurat jadi Mama Nei berpikir untuk mendahului satu antrian saja.
Mama Nei langsung saja menarik tangan Lili agar segera masuk. Daripada mereka nanti diamuk oleh massa. Lagi pula Papa Tito juga sudah masuk ruangan tanpa mempedulikan protes dari mereka. Papa Tito juga paham kalau ia akan mendahulukan yang darurat dulu dan di sini tak ada yang memerlukan dokter dengan cepat.
"Sus, yang benar kalau itu adalah keluarga dari pemilik rumah sakit ini?" Tanya salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
"Iya, bu. Itu orangtua pemilik dari rumah sakit ini yang berbicara. Kalau yang digandeng tadi, itu istrinya" ucap perawat itu sambil tersenyum.
Semua orang di sana hanya tersenyum tipis mendengar fakta yang baru saja didengar. Mereka juga tak bisa apa-apa karena yang mempunyai rumah sakit yang mendahului. Walaupun dalam hati mereka pasti sudah menggerutu kesal.
***
"Jadi bagaimana, dok? Apa benar menantu saya sedang hamil?" Tanya Mama Nei dengan tak sabaran.
"Benar, bu. Nyonya Lilian sedang hamil memasuki usia 4 minggu. Kandungannya masih muda, jadi tolong dijaga dengan baik ya" ucap Dokter Anastasia sambil tersenyum.
"Terimakasih, dok. Saya akan berhati-hati untuk menjaga kandungan ini" ucap Lili dengan senyum manis yang mengembang.
"Saya akan memberikan resep obat mual dan vitamin penguat kandungan. Jadi ini nanti bisa ditebus di apotek rumah sakit" ucap Dokter Anastasia.
Lili menganggukkan kepalanya dan menerima resep yang diberikan oleh Dokter Anastasia. Ketiganya segera keluar dari ruangan dokter dengan beberapa orang yang melihat kearah mereka. Ketiganya sama sekali tak peduli kemudian segera pergi dari sana.
***
"Bagaimana keadaan kamu? Apa sudah lebih baik?" tanya Aldo pada istrinya setelah pulang kerja.
Lili yang sedang duduk di ruang keluarga bersama mertua dan orangtuanya juga Kei pun hanya menjawab dengan anggukan kepala. Aldo begitu khawatir dengan kondisi istrinya tadi pagi. Bahkan saat berada di kampus dan rumah sakit, Aldo terus saja kepikiran tentang istrinya itu.
__ADS_1
"Kalau masih sakit, kita bisa ke rumah sakit. Kita cek semuanya, siapa tahu ada penyakit serius" ucapnya.
"Enggak, Mas Aldo. Lili sudah baik-baik saja. Mungkin kemarin hanya kelelahan dan masuk angin sehingga mual-mual" ucap Lili menenangkan suaminya itu.
"Oh ya... Kamu lebih baik mandi dulu sana. Nanti kita makan malam bersama. Aku ada kejutan buat kamu setelahnya" lanjutnya dengan senyum antusias.
"Kejutan apa?" tanya Aldo yang menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Namanya juga kejutan, masa dikasih tahu sekarang. Buruan sana mandi dulu, keburu malam" suruh Lili pada suaminya itu.
Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian pergi dari ruang keluarga. Setelah kepergian Aldo, mereka langsung menuju ruang makan. Kei dan orangtuanya belum mengetahui tentang dirinya yang hamil. Yang mengetahui ini hanyalah kedua mertuanya.
"Li, emang kamu mau kasih kejutan apa buat suamimu? Makan malam romantis atau apa?" tanya Mama Ningrum penasaran.
"Nanti mama juga tahu. Ini kejutan buat mama, papa, dan Kei juga lho" ucap Lili.
"Apa tu, mama?" tanya Kei menatap kearah Lili.
"Nanti dong, nak. Kan harus ada papa juga" ucap Lili meminta anaknya itu untuk bersabar.
Kei hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal dengan jawaban mamanya itu. Ia juga sama penasarannya dengan nenek dan kakeknya. Namun tak berapa lama, Kei menatap oma dan opanya yang terlihat biasa saja.
"Oma cama opa tok ndak tepo? Biacana oma tuh tutang tepo talo tayak dini" ucap Kei dengan sedikit menyindir omanya.
"Apa kamu bilang?" ucap Mama Nei dengan memelototkan matanya kearah sang cucu.
Yang lainnya hanya bisa terkekeh geli mendengar perdebatan keduanya itu. Sedangkan Kei langsumg bersembunyi di balik badan Mama Ningrum untuk berlindung dari amukan omanya. Mama Ningrum mengelus lembut kepala Kei seakan mengisyaratkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Dahal Kei benal lho talo oma tuh tutang tepo. Apa caja celalu dia ninin tau" gumam Kei pelan sehingga hanya Mama Ningrum yang mendengarnya.