
Tak terasa jika kehamilan Lili sudah memasuki hari kelahiran. Menurut prediksi dokter, kemungkinan Lili akan melahirkan esok hari. Bahkan hari ini Lili sudah mulai melakukan rawat inap di rumah sakit.
Kehamilan pertama yang dilaluinya ini tak mengganggu aktifitasnya dalam praktik di rumah sakit. Hanya saja beberapa kali ia harus menahan mualnya saat bangun tidur. Bahkan Aldo dan Kei juga dengan sigapnya selalu memenuhi acara ngidam Lili.
"Mama, nelualin aditna cakit ndak? Talo cakit, bial Kei caja yang nelualin dali pelut mama. Atau ndak bial Kei malahi aditna cupaya ndak bitin mama cakit" ucap Kei yang kini duduk di samping Lili.
"Mana bisa kamu ngeluarin adiknya dari perut mama, Kei. Yang bisa mengeluarkan bayi itu dari perut mama ya bidan, perawat, dan dokter lho" ucap Mama Nei menegur cucunya itu.
"Ish... Oma tuh nitut-nitut caja cih. Nebelin cekali, ini tan cuma baca-baci caja" ucap Kei.
Mama Nei hanya bisa melongo tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu. Menyebalkan sekali cucunya itu hingga membuatnya ingin menjitak kepalanya. Padahal ia sudah begitu serius menanggapinya, namun Kei malah menganggapnya basa-basi.
Bahkan Lili sampai terkekeh geli mendengar perdebatan cucu dan oma itu. Selalu saja, keduanya tak pernah akur kalau dalam hal seperti ini. Terlebih Kei yang memang sangat usil dengan omanya yang tak pernah sependapat.
"Sudah dong, kalian ini kok malah ribut. Tuh lihat yang mau melahirkan malah ketawa terus. Kalau mbrojol sendiri kan bahaya" ucap Mama Ningrum menegur keduanya.
"Calahkan caja oma itu, nek. Napa dia itut-itut nomong" ucap Kei.
Mama Nei lebih memilih diam karena besannya sudah memelototkan matanya. Pertanda dia tak boleh lagi protes dan membuat suasana semakin gaduh. Kei sendiri tersenyum penuh kemenangan karena neneknya lebih memilih membela dirinya.
Sshhhh...
Lili mendesis kesakitan sambil mengusap perutnya yang tiba-tiba saja sakit. Padahal tadi ia hanya tertawa karena perdebatan antara mertua dan anaknya. Melihat Lili kesakitan sambil memegang perut, sontak saja Mama Ningrum langsung memencet tombol panggilan darurat. Sedangkan Mama Nei langsung menggendong Kei yang sedikit ketakutan.
"Oma, mama ndak napa-napa tan?" tanya Kei yang masih fokus menatap mamanya yang sedang ditenangkan oleh neneknya.
__ADS_1
"Mama nggak papa. Itu memang wajar dirasakan oleh seorang ibu hamil yang akan melahirkan. Jangan panik dan khawatir, biar mama juga nggak takut menghadapi kelahiran adik kamu" ucap Mama Nei mencoba menenangkan cucunya.
Kei menganggukkan kepalanya mengerti. Ia memeluk omanya dengan erat karena tak tega melihat mamanya yang kesakitan. Bahkan Mama Ningrum mencoba menginstruksikan Lili agar menenangkan dirinya.
"Tarik nafas, keluarkan pelan. Tarik nafas... Keluarkan" instruksi Mama Ningrum sambil mengusap perut anaknya yang terlihat lebih menegang.
"Ini perawat atau dokter juga lama amat sih. Mana juga ini Aldo sama papa? Malah pada kerja padahal udah tahu kalau Lili sudah siaga mau melahirkan" ucap Mama Nei mengomel.
"Sabar, mbak. Mereka kan bekerja juga untuk kepentingan orang banyak. Yang penting Lili ada yang menjaga yaitu kita. Mereka juga pasti akan datang ke rumah sakit, apalagi tadi aku udah kirim pesan pada papanya Lili" ucap Mama Ningrum menenangkan besannya itu.
Mama Nei hanya mendengus kesal mendengar jawaban bijak dari Mama Ningrum. Walaupun nanti pasti akan datang, namun menurutnya itu sangatlah lelet. Apalagi Lili sudah bercucuran keringat dan menahan rasa sakitnya.
"Sebentar ya, bu. Kami periksa dulu keadaan Nyonya Lilian" ucap seorang dokter yang memasuki kamar ruang rawat inap Lili.
Mereka menyingkir dan membiarkan dokter juga perawat memeriksanya. Keduanya juga segera menghubungi Aldo dan suami masing-masing. Kei sendiri kebingungan melihat oma dan neneknya sibuk sendiri-sendiri.
"Mohon maaf, bu. Kita harus melakukan operasi caesar pada Nyonya Lilian. Posisi bayinya tak memungkinkan untuk keluar dengan cara lahiran normal" ucap dokter memberitahu.
"Lho... Perasaan kemarin di USG baik-baik saja. Kok sekarang posisinya jadi beda. Jadi yang benar bagaimana ini?" ucap Mama Nei yang tak terima dengan ucapan Dokter Anastasia.
"Ada beberapa faktor mengenai hal itu, bu. Namun ini kondisinya sedang gawat, kami harus segera melakukan tindakan secepatnya. Jadi bagaimana dengan keputusan keluarga?" tanya Dokter Anastasia.
"Nanyanya saja baru beberapa detik yang lalu, eh sekarang dah tanya keputusannya. Sangat aneh, dipikir kami bisa membuat keputusan dalam beberapa detik saja" ucap Mama Nei menggerutu.
Mama Ningrum hanya bisa menepuk dahinya pelan melihat besannya malah mengajak debat dokternya. Ia melihat kearah Lili yang sudah sangat kesakitan dan wajahnya terlihat pucat. Ia harus segera mengambil keputusan agar anak dan cucunya bisa selamat.
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik, dok. Yang penting anak dan cucu saya selamat" ucap Mama Ningrum memutuskan.
"Lho... Mbak, kalau Aldo dan yang lainnya marah gimana? Ini kita bukan orang medis dan nggak tahu apa-apa lho. Kalau terjadi malpraktik gimana?" ucap Mama Nei yang kesal dengan keputusan besannya itu.
"Mbak, lihat anakku kesakitan begitu. Wajahnya udah pucat kaya mayat. Lagian kalau di rumah sakit ini ada malpraktik, berarti Aldo juga dituntut dong. Kan Aldo pemilik rumah sakit ini" ucap Mama Ningrum.
"Cudah... Cudah... Tok talian malah beltengkal cepelti ini cih. Tacian mama tuh dah kecakitan. Doktel, cepat pelikca mama dan kacih obat bial ndak cakit lagi" seru Kei yang mencoba melerai oma dan neneknya.
Kedua perempuan paruh baya itu langsung terdiam mendengar seruan Kei. Bahkan Kei langsung berkacak pinggang dan menatap keduanya tajam. Keduanya memilih memalingkan wajahnya agar tak ditatap sedemikian rupa oleh Kei.
Dokter dan perawat segera melakukan tindakan. Bahkan perawat juga langsung menyiapkan ruang operasi. Brankar Lili didorong keluar ruangan membuat Aldo yang baru saja datang terkejut. Akhirnya Dokter Anastasia menjelaskan pada Aldo dan terlihat laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Ayo, ma. Kita tunggu di depan ruang operasi. Kondisi Lili memang harus segera dilakukan tindakan operasi" ucap Aldo yang langsung menggendong anaknya yang masih mengerucutkan bibirnya.
"Harusnya bisa normal kan, Al? Kok bisa jadi kondisinya kaya gini dan harus operasi sih" ucap Mama Nei yang masih tak terima jika menantunya harus operasi.
"Ini di luar kuasa dokter, ma. Mengertilah... Mau melahirkan normal atau caesar itu sama saja. Yang terpenting ibu dan bayinya sehat" ucap Aldo memberi pengertian.
Mama Nei menganggukkan kepalanya mengerti dan berjalan kearah ruang operasi. Mama Ningrum terlihat khawatir dengan kondisi anaknya. Terlebih tadi ia melihat wajah Lili yang begitu pucat. Rasanya ia ingin menangis melihat wajah kesakitan itu.
"Kita berdo'a untuk keselamatan keduanya, mbak. Semoga saja semua lancar" ucap Mama Nei yang langsung mengelus bahu besannya.
"Iya, mbak. Saya nggak tega lihat Lili kesakitan begitu. Apalagi tadi wajahnya pucat" ucap Mama Ningrum.
Mama Nei hanya menganggukkan kepalanya dan terus mengusap bahu Mama Ningrum. Ia juga khawatir dengan keduanya. Namun ia memilih diam daripada semua panik dan malah pusing. Tak berapa lama, Papa Dedi dan Papa Tito juga datang ke rumah sakit.
__ADS_1
Mereka menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan cemas. Kecuali Aldo yang langsung ikut masuk ke dalam ruang operasi. Ia harus mendampingi istrinya yang tengah berjuang dalam hidup dan mati.