Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Konsultasi


__ADS_3

Hari ini Arlin ditemani oleh Mama Nei datang ke rumah sakit milik Aldo untuk konsultasi mengenai kakinya. Beberapa hari ini, Aldo jarang memberikan terapi pada kakinya karena mereka disibukkan dengan banyaknya masalah di perusahaan. Arlin sudah meminta ijin pada suaminya itu untuk melakukan terapi pada kakinya agar segera bisa kembali berjalan lagi.


Ia ingin menyelesaikan semua masalah di perusahaannya diawali dengan kesembuhan kakinya. Ia tak mungkin mengandalkan dan menggantungkan dirinya pada Aldo dan kedua mertuanya terus menerus karena mereka juga punya kesibukan lain. Aldo pun menyetujuinya asalkan melakukan konsultasi dan terapi dengan dokter yang sudah dipilihnya. Arlin pun menyetujuinya karena Aldo pasti akan mengusahakan yang terbaik untuknya.


Kei diajak pergi oleh Papa Tito ke perusahaan Arlin sedangkan Aldo sendiri berada di kampusnya. Papa Tito ingin melihat perkembangan perusahaan Arlin sekaligus memeriksa semua dokumen yang ada disana. Arlin pun menyetujuinya karena ia percaya kalau Papa Tito takkan pernah berbuat curang kepadanya.


"Profesor Edi sudah menunggu didalam, nyonya. Silahkan masuk" ucap salah satu perawat mempersilahkan keduanya masuk.


Perawat disana sudah diberikan informasi mengenai kedatangan istri dan ibu dari pemilik rumah sakit ini sehingga mereka berdua bisa langsung masuk tanpa antri. Mama Nei segera mendorong kursi roda milik menantunya masuk ke dalam ruangan Profesor Edi. Bukan dokter yang awal berkonsultasi dengan Aldo karena yang waktu itu sedang ada di luar negeri.


"Selamat siang, nyonya. Perkenalkan saya Pak Edi yang akan menangani kesembuhan Nyonya Arlin. Panggil saja saya Pak Edi, jangan Profesor hehe" ucap Profesor Edi sambil terkekeh.


Beliau juga merupakan dokter senior yang menangani terapi pada pasien kaki lumpuh. Namun ia tak suka jika dipanggil dengan panggilan formal karena baginya itu menggelikan. Sedangkan Arlin dan Mama Nei ikut tertawa melihat Profesor Edi ternyata tak sekaku gelarnya.


"Saya akan memeriksa kaki Nyonya Arlin secara keseluruhan sebelum nantinya kita akan diskusi langkah apa yang akan diambil. Saya sudah mendengar kalau Dokter Aldo sebelumnya telah melakukan beberapa terapi pada nyonya sehingga nanti kita tinggal melanjutkan saja kalau memang cara itu sudah membuahkan hasil" ucapnya.


"Panggil saya Arlin saja, Pak Edi. Saya belum tua, masa iya dipanggil nyonya" ucap Arlin setelah Profesor Edi menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


Profesor Edi pun langsung saja meminta perawat membantu Arlin naik keatas brankar tempat tidur setelah menyetujui permintaan wanita itu. Profesor Edi begitu teliti dalam memeriksa semuanya bahkan ia juga sedikit melakukan tekanan pada beberapa titik saraf yang ada di kaki Arlin. Arlin sedikit menahan rasa sakitnya ketika dilakukan beberapa tekanan pada kakinya itu.


Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan, Arlin langsung saja menuju tempat terapi jalan. Arlin disana terus berusaha agar kuat sampai akhir karena ingin segera bisa berjalan. Mama Nei yang mendampingi pun hanya bisa memberi semangat kepada menantunya.


"Ayo semangat, nak. Coba bayangkan didepanmu ada Kei dan Aldo. Kamu harus terus berusaha agar kedua laki-laki yang menjadi sosok penyemangatmu itu tersenyum lebar karena kesembuhanmu" seru Mama Nei.


Mama Nei harus memberi semangat kepada Arlin yang sedari tadi berusaha keras untuk berjalan. Walaupun berulangkali wanita itu terjatuh dengan keringat terus mengucur didahinya. Arlin yang mendengar hal itu tentunya semakin bersemangat untuk meraih kesembuhannya.


"Untuk hari ini cukup. Besok pagi kita lanjutkan lagi. Arlin tak perlu takut untuk melangkah, kakimu pasti bisa sembuh. Ini sebenarnya perkembangan kakinya sudah bagus hanya saja memang harus sering digunakan untuk berjalan. Akan kaku kembali nanti otot-ototnya kalau tak digunakan untuk berjalan" jelas Profesor Edi.


Setelah mendengar penjelasan dari Profesor Edi kemudian diberikan resep untuk menebus vitamin, akhirnya mereka keluar dari ruang dokter itu. Setelah menebus resep, mereka segera melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Arlin. Namun sebelum itu, mereka singgah terlebih dahulu ke restorant untuk membeli makanan buat makan siang bersama.


Mobil yang mereka kendarai sudah sampai didepan perusahaan Arlin. Mereka berdua menghela nafasnya kasar saat melihat banyak awak media yang ternyata ada disana menunggu kedatangan Arlin. Mereka sama sekali tak beranjak pergi dari sana sejak semalam. Satpam perusahaan yang meminta mereka pergi pun tak diindahkan sama sekali membuatnya membiarkan semua itu.


Saat tadi Papa Tito dan Kei datang pun mereka langsung dikerumuni oleh para awak media. Namun mereka berhasil lolos karena dibantu oleh karyawan laki-laki yang sudah datang dan satpam yang berjaga. Papa Tito merasa beruntung karena ternyata karyawan disini masih mempunyai rasa simpati yang besar.


"Bagaimana ini, ma?" tanya Arlin yang bingung.

__ADS_1


Mereka berdua akan kesusahan masuk kedalam terlebih Mama Nei yang harus mendorong kursi roda Arlin. Akhirnya Mama Nei menghubungi suaminya untuk membantunya dan Arlin agar bisa masuk ke perusahaan. Tak berapa lama, beberapa karyawan laki-laki langsung membuat pembatas untuk jalan keluar Papa Tito.


Melihat Papa Tito keluar dari perusahaan itu sendirian, tentu saja membuat semua para awak media mengerumuninya. Beruntung para karyawan laki-laki dengan sigap menahannya. Mama Nei juga keluar dari mobil kemudian membantu menantunya duduk di kursi roda. Para awak media langsung berlarian menuju ke mobil namun ditahan oleh beberapa satpam yang datang.


"Nona Arlin, bagaimana tanggapannya tentang berita yang ada di luar sana?"


"Dasar anak durhaka. Masa orangtuanya diusir dan ditelantarkan."


"Ayo dong klarifikasi."


Tentunya Arlin hanya diam sambil terus didorong oleh Mama Nei. Papa Tito pun membantu istri dan menantunya agar bisa segera masuk dalam perusahaan. Mereka tak mempedulikan para awak media yang terus memberi pertanyaan bahkan menghujat Arlin. Mereka baru akan buka suara setelah nanti sore sambil menunggu jawaban somasi yang dilayangkan.


Para awak media mendengus kesal karena tak mendapatkan berita apapun padahal sudah menunggu sejak kemarin. Semua orang terdekat Arlin tak ada yang mau buka suara begitu juga dengan karyawannya. Mereka seakan ditekan oleh Arlin agar tak membicarakan apapun tentang kasusnya.


"Pa, makanannya lupa masih ada di mobil. Kami juga membeli beberapa box pizza untuk karyawan, lagian kan ini perusahaan sedang tak terlalu sibuk jadi bolehlah mereka disuruh bersantai dulu" ucap Mama Nei dengan sedikit antusias.


Arlin pun membiarkan saja dengan apa yang dilakukan oleh Mama Nei. Pasalnya memang benar, karyawannya kini sedang tak banyak pekerjaan karena semua kerjasama masih sepi akibat kasus ini. Lagi pula mereka sepertinya juga butuh hiburan sedikit sebelum nantinya akan kembali bekerja keras.

__ADS_1


Papa Tito segera saja menyuruh satpam dan karyawan untuk mengambil semua makanan yang ada di mobil istrinya. Menu makan siang di paper bag nantinya diminta untuk diletakkan di ruangannya sedangkan box pizza untuk dibagikan rata pada karyawan. Para karyawan begitu senang karena bisa bersantai dan berbincang dengan rekannya disaat jam kerja berlangsung.


__ADS_2