
Mama Nei dan Lili membiarkan perdebatan yang terjadi antara Fina juga Kei. Mereka malah sibuk makan karena merasa terhibur dengan perdebatan itu. Sesekali Lili menyuapi Kei makanan agar bocah kecil itu segera menghabiskan makanannya.
"Ah cudahlah... Capek nih Kei talo nomong telus cama Ante Pin" ucap Kei yang langsung fokus dengan makanannya.
Sedangkan Fina hanya mendengus kesal saat nama panggilannya kini sudah berubah. Sungguh dirinya kesal dan malas untuk meladeni Kei lagi. Sepertinya bertemu dengan Kei adalah sesuatu yang patut ia hindari agar tak menimbulkan sakit kepala yang berlebihan.
Fina juga langsung fokus dengan makanannya sendiri setelah perdebatan itu selesai. Fina segera saja pergi setelah selesai makan karena hari ini ia masih ada jam kuliah. Mama Nei langsung menatap Lili dan cucunya yang asyik bercanda berdua.
"Li, maafkan Aldo kemarin ya. Dia itu malah ngrepotin kamu buat jaga Kei kemarin. Padahal kami ada di rumah lho, tapi kok ya nggak dititipkan ke kami saja" ucap Mama Nei sambil geleng-geleng kepala.
Mama Nei dan Papa Tito baru mengetahui kalau Kei ternyata dititipkan pada Lili kemarin. Padahal keduanya berada di rumah. Mereka pikir Aldo membawa Kei ke kampus untuk menemaninya bekerja. Ternyata malah membawanya ke rumah sakit yang berakhir di rumah Lili.
"Nggak papa, tante. Lagi pula Kei nggak merepotkan. Malah dia kayanya senang sekali di rumah Lili. Mama Lili juga sangat senang karena rumahnya sangat ramai dengan kehadiran Kei" ucap Lili sambil tersenyum.
"Iya, oma. Kei cenang di lumah Ante Lili. Di cana ada plosotan cama ayunan lho. Becok lencanana Kei mau inap caja di cana, celamana" seru Kei dengan antusias.
Mama Nei yang mendengar kalau cucunya berniat untuk menginap di rumah Lili itupun langsung memelototkan matanya. Bukannya tidak setuju dengan rencana Kei, hanya saja itu hanya akan menimbulkan perdebatan. Perdebatan antara Aldo dan Kei tentunya.
Aldo yang tak suka jika anaknya nanti akan lebih dekat dengan orang baru. Pasti Aldo juga mempertimbangkan itu, terlebih laki-laki itu jika bertemu Lili selalu saja bertengkar. Mama Nei juga tak enak hati dengan Mama Ningrum karena pernah menggosipkan anaknya dan Aldo yang mempunyai hubungan khusus.
__ADS_1
"Kei kan punya rumah, masa iya mau menginap di tempatnya Tante Lili seterusnya" ucap Mama Nei.
"Kei ndak puna lumah, oma. Tu lumahna papa" ucap Kei yang langsung mengelak ucapan dari omanya.
Mama Nei hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Biarlah nanti itu menjadi urusan Kei dan Aldo saja kalau sampai mereka adu debat. Lagi pula memang cucunya ini kalau dilarang sesuatu pasti akan menangis. Sifat ini muncul setelah Arlin sadar dari komanya waktu itu dan sedikit memanjakan Kei.
"Biar nanti Lili yang kasih pengertian sama Kei, ma" bisik Lili pada Mama Nei yang seperti orang frustasi.
Mama Nei menganggukkan kepalanya mengerti. Lili segera menggendong Kei kemudian pergi untuk membayar semua makanan yang dipesan. Mama Nei hanya mengikuti Lili saja, pasalnya tadi ia yang ingin membayar namun tak diijinkan oleh gadis itu. Setelah selesai membayar, ketiganya segera saja berjalan menuju ruangan Aldo.
***
Tadi sepanjang perjalanan menuju ruangan Aldo, Lili menjelaskan tentang kehadirannya di kantin. Itu semua karena Aldo yang mengusirnya dari ruangannya kemudian memintanya menunggu skripsinya diperiksa. Itupun sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Hal itulah yang membuat Lili sangat kesal.
Mama Nei kemudian langsung berucap akan membantu Lili agar skripsinya segera selesai. Lagi pula Mama Nei tahu kalau Aldo itu mungkin saja sedang mengerjai Lili saja. Melihat adanya sang mama dan mendengar ucapannya itu, sontak saja Aldo langsung menatap tajam kearah Lili. Lili menjulurkan lidahnya di balik punggung Mama Nei seakan mengejek Aldo.
"Udah, ma. Nih... Revisi sekalian yang saya coret" ucap Aldo yang seakan tersenyum penuh kemenangan karena melihat wajah terkejut dari Lili.
Lili yang yakin kalau skripsinya sudah benar pun seperti tak terima dengan ucapan Aldo. Sudah ia periksa berulangkali namun masih saja menurut Aldo salah. Mama Nei langsung saja mengambil satu bundle skripsi Lili kemudian melihatnya. Mata Mama Nei juga langsung melotot karena banyaknya coretan di kertas itu.
__ADS_1
"Aldo, ini namanya bukan revisi. Kok malah kaya total kaya gini sih salahnya" kesal Mama Nei yang langsung duduk di depan meja kerja anaknya.
Lili juga tak menyangka dengan banyaknya coretan yang ada di dalam bundle kertas itu. Usahanya dua hari ini dalam mengerjakan itu seperti sangat sia-sia. Mama Nei tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Aldo ini kepada Lili.
"Lili, sekarang kamu ambil kursi dan duduk di sebelah Aldo. Kamu bawa file skripsimu kan? Kerjakan sesuai dengan apa yang dicoret oleh Aldo di depannya langsung. Dan kamu Aldo, kamu langsung saja kasih tahu salahnya dimana" seru Mama Nei memberi perintah.
Aldo menatap mamanya tak terima namun ia juga tak bisa membantahnya. Sedangkan Lili hanya bisa pasrah kemudian membawa Kei ke dalam pangkuan Mama Nei. Lili segera saja mengambil kursi kemudian duduk di samping Aldo. Ia mencolokkan flashdisk dalam laptop Aldo.
"Syukurin dimarahin sama mama. Nyusahin skripsi orang sih" bisik Lili pelan agar hanya Aldo yang mendengarnya.
Aldo melirik sinis kearah Lili yang seakan merasa menang. Lili sebenarnya kesal harus memperbaiki skripsinya itu di samping Aldo. Hanya saja, ini demi skripsinya segera selesai. Apalagi ada Mama Nei yang mengawasinya, tentu Aldo takkan berbuat macam-macam padanya.
"Pa, tuh diajalin Ante Lili. Bial Ante Lili cepat lulus telus nitah cama papa" ucap Kei dengan polosnya.
Tentu saja itu ucapan Kei itu berasal dari bisikan Mama Nei. Lili dan Aldo langsung saling pandang kemudian bergidik ngeri saat tatapan keduanya bertemu. Mereka seperti geli dan ngeri sendiri, membayangkan kalau suatu saat menikah. Apalagi Lili yang ketika melihat Aldo itu sudah seperti membayangkan yang ada di depannya itu adalah skripsi. Membuatnya malas dan kesal sekaligus.
"Nggak boleh ngomong gitu, Kei" tegur Aldo pada anaknya itu.
"Napa? Benal tok itu. Tata oma, talo mau baleng-baleng telus tu papa dan Ante Lili halus nitah" ucap Kei dengan polosnya.
__ADS_1
Mama Nei langsung menepuk dahinya pelan. Padahal Mama Nei sudah memperingatkan cucunya itu agar diam saja. Namun malah berbicara tentang siapa yang memberitahu ini semua. Mama Nei hanya bisa cengengesan saat melihat Aldo menatap tajam kearah dirinya.