
"Adi papa ental ladi mau ikah cama ante" seru Kei dengan kegirangan.
Papa Tito dan Mama Nei tentunya terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Kei. Mereka paham dengan ucapan Kei mengenai Aldo yang akan menikah dengan tante yang dimaksud. Mereka berdua bertanya-tanya mengenai tante siapa yang dimaksud oleh Kei itu.
"Tante siapa yang kamu maksud, Kei?" tanya Papa Tito.
"Tu yang tetemu di kantol polici tu lho" kesal Kei.
Pasalnya Kei pernah menceritakan mengenai pertemuannya dengan Lili saat di kampus. Namun ternyata oma dan opanya itu sudah melupakan apa yang diceritakannya. Kei kesal bahkan mengerucutkan bibirnya membuat Papa Tito hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Sedangkan Mama Nei saat ini begitu penasaran dengan tante yang dimaksud oleh cucunya itu. Sedari kemarin, ia begitu penasaran. Bahkan ingin sekali bertemu dengan sosok perempuan yang telah menarik hati cucunya hingga tak larut dalam kesedihan.
"Namanya siapa?" tanya Mama Nei.
"Ndak tau. Mulidna papa di campus" ucap Kei sambil menggelengkan kepalanya.
Kei memang tidak tahu nama dari Lili itu. Setiap bertemu, Kei selalu memanggilnya dengan tante. Bahkan kini Papa Tito dan Mama Nei yang mendengarnya hanya bisa menepuk dahinya pelan. Ingin sekali mereka menemui gadis itu, namun cucunya malah tak tahu namanya.
"Tita te campus aja yuk. Temu ante" ajaknya dengan girang.
Mama Nei menganggukkan kepalanya dengan antusias. Tentunya wanita paruh baya itu begitu senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan calon menantunya. Kei seperti memberikan provokasi kepada oma dan opanya membuat keduanya mau untuk mengikuti kemauannya.
Papa Tito meninggalkan pekerjaannya kemudian pergi bersama dengan Kei dan Mama Nei. Keduanya begitu antusias karena diajak cucunya ke sana. Pasalnya mereka sangat penasaran dengan bagaimana sikap dari Lili yang bisa meluluhkan hati Kei itu.
__ADS_1
***
"Mana Kei? Sudah ketemu belum calon mamamu itu" tanya Mama Nei yang sudah tidak sabaran.
"Cabal don, oma. Yang cuka temu cama ante tan atu, napa oma itut-itutan" gerutu Kei sambil menggembungkan kedua pipinya.
Saat ini Kei, Papa Tito, dan Mama Nei sudah berada di kampus. Ketiganya segera saja berjalan masuk kearah taman dekat dengan kantin. Menurut Kei, beberapa kali ia bertemu dengan tante yang ia maksud itu di dua tempat itu. Mereka akhirnya memilih untuk menunggu di sana.
Mama Nei yang sudah tidak sabaran, berulangkali bertanya kepada Kei. Hal ini juga yang membuat Kei kesal karena sedari tadi ia sudah melihat kearah sekitar. Namun memang belum ada tanda-tanda kalau Lili terlihat.
"Ish... Oma kan juga penasaran ingin ketemu sama dia" ucap Mama Nei tak mau kalah.
Papa Tito hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya yang begitu heboh dan tak sabaran itu. Pasalnya mencari satu orang diantara ribuan mahasiswa di kampus ini juga akan susah. Terlebih mereka tak tahu jadwal gadis itu kapan masuk kuliahnya.
Ternyata apa yang dilihat oleh Kei itu memang benar adanya kalau itu Lili. Lili yang telah selesai dengan bimbingan skripsinya pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Namun saat berjalan keluar area halaman kampus, tiba-tiba saja ia mendengar suara panggilan.
Gadis itu segera saja melihat kearah sekitarnya untuk mencari arah sumber suara yang begitu ia kenali. Saat Lili tengah mencari sumber suara itu, tiba-tiba ia dikagetkan dengan adanya seseorang yang menarik celananya dari bawah. Sontak saja Lili begitu terkejut saat melihat Kei ada dibawahnya sambil tersenyum dengan manisnya.
"Astaga... Kamu ngagetin aja sih, Kei. Ku kira tadi siapa" ucap Lili sambil mengelus dadanya.
"Yang delas Kei ukan tuyul" ucap Kei sambil tersenyum.
Lili pun langsung menggendong Kei untuk menuju kearah dua orang yang menunggunya. Awalnya Lili sempat terkejut saat melihat adanya orangtua Aldo di sana, namun dengan cepat ia menguasai mimik wajahnya. Ada perasaan rindu dalam pancaran mata Lili saat melihat kehadiran orangtua Aldo itu.
__ADS_1
"Nalin oma, opa. Ini ante yang atu macud" ucap Kei memperkenalkan Lili pada keduanya.
"Selamat siang tante, om. Perkenalkan nama saya Lili. Saya temannya Kei" ucap Lili memperkenalkan diri dengan begitu canggung.
Pasalnya Lili memperkenalkan diri sambil menahan segala perasaan yang ada di dalam dadanya. Perasaan rindu pada keduanya begitu membuncah karena bagaimanapun juga, mereka adalah sosok yang begitu menyayanginya. Walaupun menggunakan raga Arlin, namun kasih sayang tulus mereka itu sampai pada relung hatinya. Terlebih untuk pertama kalinya Lili mendapatkan kasih sayang dari orangtua.
"Panggil kami mama dan papa saja. Lagian sebentar lagi kan kamu menjadi menantu kami" ucap Mama Nei keceplosan.
Lili menatap tak percaya kearah Mama Nei yang mengungkapkan keinginannya. Sedangkan Papa Tito langsung mengalihkan pandangannya sambil menepuk dahinya pelan. Tentu saja Papa Tito merasa malu dengan sikap ceplas ceplos istrinya itu. Terlebih melihat istrinya yang sepertinya sudah merasa pas dengan Lili.
Mama Nei pun tersenyum kearah Lili seakan menatapnya dengan tatapan pengharapan. Tentunya Mama Nei bisa merasakan kalau dekat dengan gadis itu merasa seperti mempunyai anak perempuan. Makanya dengan cepat Mama Nei segera saja mengucapkan keinginannya.
"Duduk dulu sini. Masa iya Lili yang baru saja datang diajak ngobrol berdiri seperti ini sih" ucap Papa Tito memecah kecanggungan diantara mereka semua.
Lili pun akhirnya duduk di dekat Mama Nei dengan Kei yang berada dalam pangkuannya. Sedangkan Papa Tito duduk di depan mereka bertiga. Lili terlihat begitu canggung setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Mama Nei. Sedangkan Mama Nei sama sekali tak merasa bersalah.
"Lili ini mahasiswanya anak saya? Aldo?" tanya Papa Tito dengan raut penasaran.
"Iya, om. Pak Aldo itu dosen pembimbing skripsi saya. Oh iya... Saya juga mau mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Kak Arlin. Saya minta maaf, karena gara-gara membantu saya mengungkapkan keburukan sahabat dan mantan kekasihku malah membuat beliau tiada" ucap Lili dengan raut bersalahnya.
"Maksudnya gimana ini?" tanya Mama Nei yang kebingungan.
"Ini hanya salah paham saja, ma. Aldo berpikir kalau gara-gara Arlin membantu menyelesaikan masalah Lili malah membuatnya celaka" ucap Papa Tito yang melihat raut kebingungan dari istrinya.
__ADS_1
Mama Nei masih terdiam tak mengerti. Pasalnya sang suami memang belum menceritakan apapun tentang ini. Lili hanya bisa menghela nafasnya pasrah kalau suatu saat nanti malah dibenci oleh Mama Nei karena mengetahui hal yang sebenarnya. Lili yakin kalau Mama Nei tak tahu apapun mengenai kejadian di kantor polisi itu.