Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Waktu


__ADS_3

Waktu terus berlalu hingga tak terasa Lili sudah kembali dalam tubuh aslinya itu sekitar 5 bulan. Bahkan selama itu juga, Lili berhasil mendapatkan dosen pembimbing baru. Walaupun saat pengajuan penuh dengan drama dan emosi, namun Lili kini sangat lega. Apalagi dosen pembimbingnya kali ini lebih terbuka jika mahasiswanya kesulitan.


Selama beberapa bulan ke belakang ini juga, Lili tak melihat ataupun bertemu dengan Aldo juga keluarganya. Ada rasa rindu dalam diri Lili pada Kei, namun ia tak berani untuk menjenguk atau mendatanginya secara langsung. Lili hanya tak ingin mendengar penghinaan dari Aldo kembali.


"Udah lebih dari 3 bulan nggak ke kampus, kaya sudah berasa jadi alumni loe ya" ucap Fina dengan sedikit menyindir Lili.


Memang benar adanya kalau selama lebih dari 3 bulan ini Lili tak datang ke kampus. Pengajuan penggantian dosen pembimbing skripsi pun ia lakukan lewat online. Ia juga tak ke rumah sakit Aldo untuk penelitian karena pastinya ia akan mengulang semuanya dari awal.


Saat Fina melihat temannya datang ke kampus dengan senyum sumringahnya pun, ia segera mendekatinya. Lili hanya tersenyum mendengar sindiran yang dilayangkan oleh Fina itu. Pasalnya itu bukan sebuah sindiran, melainkan kenyataan.


"Calon alumni dong. Kan bentar lagi pasti skripsi gue lancar kaya jalan tol" ucap Lili penuh percaya diri.


"Busyet... Percaya diri sekali anda. Jangan dipikir dapat dosen pembimbing Pak Sandy terus mikirnya gitu. Ingat oyyy, Pak Sandy tuh diam-diam menghanyutkan. Apalagi dia dekat tuh sama Pak Aldo, bisa saja beliau sudah dipengaruhi" ucap Fina dengan sedikit berbisik pada kalimat terakhirnya.


"Suudzon amat sih loe" kesalnya.


Ada sedikit kekhawatiran dalam benak Lili setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Fina. Memang benar adanya kalau Pak Sandy terlihat beberapa kali ngobrol bersama Aldo, namun juga dengan dosen lainnya. Mereka tampak akrab bahkan saling melemparkan candaan.


Kalau benar sampai itu terjadi, Lili akan melabrak Aldo. Apalagi dia sudah bertanya pada alumni sebelumnya tentang Pak Sandy yang memang mudah kalau diajak diskusi. Kalau sampai ucapan kakak tingkatnya itu berbeda, pasti ada seseorang di sebaliknya.


"Banyakin do'a. Semoga kamu diberikan jalan lancar menuju toga" ucap Fina sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


Kini Fina langsung mengajak Lili untuk duduk di kantin. Jika keduanya lancar dalam skripsi semester ini, mereka akan lulus secara bersamaan. Walaupun masih ada beberapa tahapan lagi setelah itu hingga nanti baru bisa bekerja sesuai bidangnya, namun setidaknya mereka bisa sama-sama. Apalagi Lili sudah nyaman mempunyai sahabat seperti Fina ini.


"Lalu gimana nih kabar skripsimu yang tiap malam minggu kamu galauin?" tanya Lili sambil tertawa.


"Entahlah... Kaya abu-abu gitu lho skripsiku tuh. Entah kapan berwarnanya tuh" ucap Fina yang seakan pasrah dengan skripsinya.


"Banyakin do'a. Biar skripsinya lancar kaya jalan tol" ucap Lili sambil terkekeh pelan karena berhasil menirukan ucapan Fina.


Fina itu kelihatannya saja santai menghadapi kuliahnya, namun dalam hati dan pikiran selalu terngiang-ngiang. Apalagi orangtuanya ingin anaknya itu lulus tepat waktu, sedangkan Fina masih ingin bersantai ria. Itulah kadang yang membuat Fina dilema karena kalau terlalu santai akan mengecewakan kedua orangtuanya.


"Eh... Loe tahu nggak?" ucap Fina.


"Enggak tuh" sambar Lili dengan cepat.


Lili hanya bisa terkekeh geli melihat kekesalan Fina itu. Bibirnya yang mengerucut dengan nada rengekan yang membuatnya sudah seperti anak kecil. Sudah mirip dengan Kei kalau merengek karena menginginkan sesuatu.


"Iya... Kenapa emangnya? Kan gue emang belum tahu apa yang mau loe omongin" ucap Lili dengan bahasa gaulnya yang terlihat kagok.


"Itu lho anaknya Pak Aldo, si Kei. Sering banget ke kampus ini buat cariin kamu. Tapi kan kamunya nggak pernah ke kampus beberapa bulan ini. Dia juga sering tanya ke aku tentang keberadaan kamu. Pernah mau aku antar ke rumahmu, tapi Kei takut kalau dimarahi papanya. Kasihan tahu, oma dan opanya sedang di luar negeri jadi Kei itu nggak ada yang jagain makanya sering dibawa Pak Aldo ke kampus" ucap Fina menjelaskan.


Mata Lili melebar mendengar apa yang diucapkan oleh Fina itu. Ia tak tahu kalau Mama Nei dan Papa Tito di luar negeri. Apalagi semenjak kejadian malam itu, mereka sudah tak lagi berkomunikasi. Lili juga tak menanyakan kabar tentang Kei pada Mama Nei.

__ADS_1


"Memangnya oma sama opanya pergi ke luar negeri kenapa nggak ngajakin Kei? Kan Pak Aldo nggak bisa tuh kalau jagain Kei terus-terusan karena kerja" tanya Lili dengan tatapan penasarannya.


"Kata Kei sih mereka kerja di sana. Kei mau diajak sama mereka tapi nggak dibolehin sama Pak Aldo" ucap Fina dengan berbisik pelan.


Pasalnya Fina khawatir kalau tiba-tiba saja ada Aldo yang memasuki kantin ini. Beberapa kali Fina duduk di kantin dan Aldo selalu datang ke sini setiap paginya bersama Kei. Alhasil Kei memilih untuk duduk di kantin dan menghampirinya. Tentunya Kei mendekati Fina setelah Aldo pergi dari kantin.


Fina pun sedikit heran dengan Aldo yang seperti membiarkan saja anaknya sendirian di kantin. Namun setelah tahu kalau ada ibu kantin yang dititipi oleh Aldo mengenai Kei, akhirnya ia sedikit lega. Pasalnya kasihan juga jika anak sekecil ini ditinggal begitu saja.


"Egois memang tuh Pak Aldo. Seharusnya kalau nggak bisa jaga Kei itu mending dibawa oma dan opanya. Kan kalau sendirian gitu ntar pas diculik nyesal baru tahu rasa" ucap Lili sambil geleng-geleng kepala.


"Jangan keras-keras ngomongnya. Entar kalau tiba-tiba Pak Aldo ke kantin dan dengar kan bisa bahaya. Biasanya pagi-pagi gini Pak Aldo suka ke kantin buat nitipin Kei ke ibu kantin tahu" ucap Fina memperingati temannya.


Lili hanya bisa mendengus kesal mendengar apa yang diucapkan oleh Fina itu. Entahlah... Setiap apa yang dilakukan oleh Aldo itu selalu salah di mata Lili. Pokoknya yang benar itu adalah ucapan dan sikap Lili.


Benar saja, Aldo dan Kei masuk dalam kantin. Beruntung posisi duduk Lili membelakangi pintu kantin sehingga Aldo tak melihat kehadirannya. Namun Lili mengetahui jika Aldo datang karena Fina memberitahunya menggunakan kode lewat mata.


Tanpa diduga, Lili bangkit dari posisi duduknya kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya mendekat pada Kei. Hal itu membuat Fina memelototkan matanya. Fina tak ingin kalau sampai pagi ini terjadi keributan di kantin akibat dua orang yang kalau ketemu pasti ribut.


"Kei..." seru Lili.


Kei dan Aldo sontak saja mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang memanggil. Kei tersenyum ceria melihat adanya Lili di kampus. Sedangkan Aldo sudah menatapnya tajam nan sinis namun Lili tak mempedulikannya.

__ADS_1


Lili bahkan langsung saja menggendong Kei yang sudah diturunkan oleh Aldo dari gendongannya. Dengan secepat kilat, Lili langsung saja membawa lari Kei keluar kantin. Sedangkan Aldo yang melihat kejadian itu hanya bisa memelototkan matanya.


"Penculik..."


__ADS_2