Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Nadeline


__ADS_3

Nadeline iri dengan Kei yang keluarganya begitu utuh. Setiap kali melihat Kei diantar oleh nenek, kakek, mama, dan papanya, Nadeline selalu merasakan hal aneh pada perasaannya. Nadeline seketika merasa bahwa Tuhan tak adil padanya.


"Kenapa Kei bisa mendapatkan kebahagiaan kaya gitu ya? Kenapa Kei bisa punya keluarga yang lengkap? Sedangkan Nadeline sama sekali tak mempunyai itu. Ibu punya tapi tak sayang pada Nadeline," gumam Nadeline yang menatap sendu interaksi keluarga Kei saat dirinya di sekolah.


Padahal Nadeline tak tahu kalau sebenarnya nasib Kei dulu sama dengan dia. Hanya saja sekarang Tuhan telah menghadirkan sosok ibu tiri yang baik hati dan sangat menyayanginya. Bahkan ibu tiri yang kasih sayangnya melebihi mama kandungnya.


Nadeline pun berjalan mendekati Kei dengan senyum manisnya. Bahkan Kei langsung menyambutnya hangat. Lili pun sama bahkan langsung memeluknya membuang Nadeline merasakan perasaan yang begitu hangat.


"Halo gadis cantik... Nama kamu siapa?" tanya Lili sambil tersenyum.


"Nama aku Nadeline, tante" jawab Nadeline dengan malu-malu.


"Cantiknya. Panggil Mama Lili saja nggak papa," ucap Lili yang begitu terbuka dengan Nadeline.


Apalagi Lili melihat ada tatapan sendu dari mata Nadeline membuatnya tak tega. Aldo pun tak mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh Lili. Yang penting kasih sayang Lili untuk Kei tak berkurang sama sekali.


"Memangnya boleh?" tanya Nadeline dengan tatapan penuh harap.


"Boleh dong. Iya kan, Kei?" tanya Lili pada anaknya itu.


"Oleh dong. Belalti cekalang Kei puna codala. Ladian Nanad tan duga umulna ebih tuwa dali Kei, belalti tamu kakakna Kei" ucap Kei dengan antusias.


Lili tersenyum senang begitu pula dengan Nadeline. Semenjak saat itu Nadeline tak pernah merasakan iri pada kebahagiaan yang didapat oleh Kei. Apalagi ia juga sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Lili. Setiap sekolah, Lili selalu membawakan bekal untuknya juga.


Jika Lili tak bisa datang ke sekolah, maka bekal makanan untuk Nadeline akan dibawakan oleh Mama Nei. Bahkan perempuan itu juga sudah menganggap Nadeline sebagai cucunya. Nadeline sangat bahagia karena bertemu dengan Kei yang mau berbagi kasih sayang dengannya.

__ADS_1


***


"Ugh... Lucunya" pekik Nadeline tertahan sambil menusuk-nusuk pipi gembul Baby Della.


"Nanad, danan ditucuk-tucuk itu pipina Baby Della. Ntal bolong lho" ucap Kei menegur apa yang dilakukan oleh Nadeline itu.


Keduanya kini berada di dalam kamar Lili dan Aldo. Lili sedang berada di kamar mandi sehingga menitipkan Baby Della pada kedua bocah cilik itu. Ia juga sudah berpesan pada keduanya untuk diam saja di atas kasur.


"Mana bisa pipi bolong? Aneh-aneh saja kamu itu, Kei" ucap Nadeline sambil geleng-geleng kepala.


"Bica caja. Itu tamu tucuk-tucuk ditu bica bolong. Tayak teltas itu lho" ucap Kei.


"Halusna Nanad elus tayak dini" lanjutnya sambil mengusap lembut pipi Baby Della.


Baby Della juga tampak antusias dengan terus tersenyum dan menatap kearah Kei juga Nadeline. Keduanya terpekik gemas melihat mata hitam Baby Della yang begitu bersinar.


"Woh... Ndak oleh. Baby Della cuma oleh di cini caja. Nanad ndak oleh ambil Baby Della lho" ucap Kei memperingati.


Semakin hari Nadeline terus saja datang ke rumah Aldo untuk bermain dengan Baby Della. Nadeline begitu ingin mendapatkan seorang adik. Namun apalah daya jika papanya tak juga memiliki seorang istri. Kei dan keluarganya tak keberatan jika hampir setiap hari Nadeline datang ke rumah.


"Kei, makasih ya sudah ijinkan Nanad datang ke sini setiap hari. Bahkan makan juga numpang di sini" ucap Nadeline yang tak enak hati dalam merepotkan teman sekolahnya itu.


"Ndak papa, Nanad. Ladian papa dan mama juda cenang caja talo Nanad celing ke cini kok" ucap Kei sambil tersenyum.


Nadeline menganggukkan kepalanya. Hari ini ia harus pulang ke rumah untuk menemani papanya. Ia tak mungkin membiarkan Brama berada di rumah sendirian terus menerus.

__ADS_1


***


"Papa, makasih sudah ijinkan Nadeline menginap di rumahnya Kei. Papa makanya cepat cari mama baru buat Nadeline. Tapi yang baik kaya Mama Lili ya, pa" ucap Nadeline yang langsung memeluk papanya dari samping.


Kini Nadeline dan Brama sedang berada di ruang keluarga. Brama yang tadinya tengah fokus dengan laptop yang ada di depannya sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Nadeline. Brama menatap anaknya yang matanya menyiratkan penuh pengharapan kepadanya.


"Sabar ya, nak. Pasti suatu saat nanti, keluarga ini akan bertambah anggotanya yaitu seorang mama sekaligus istri buat papa. Namun kita harus sabar dan banyak berdo'a" ucap Brama mencoba memberi pengertian pada anaknya itu.


"Jangan lupa berusaha, papa. Kalau kita berdo'a tanpa usaha ya sama saja" ucap Nadeline.


Brama menganggukkan kepalanya dan tersenyum sedikit kaku. Pasalnya Brama tak yakin bisa mendapatkan seorang istri kembali dan menjadikannya ibu untuk anaknya. Apalagi ia belum bisa menyembuhkan hatinya yang terluka karena seorang perempuan.


Brama segera menggendong anaknya untuk masuk dalam kamar. Ia menemani anaknya itu hingga tertidur pulas. Brama tersenyum melihat anaknya kini jauh lebih ceria setelah masuk ke sekolah. Apalagi berteman dengan Kei yang semua keluarganya menganggap dirinya sebagai bagian dari keluarga itu.


"Selamat malam dan tidur nyenyak, anak papa. Do'akan papa agar bisa selalu membahagiakan kamu" bisik Brama tepat pada telinga Nadeline.


Brama segera pergi dari kamar Nadeline setelah mengecup dahi anaknya. Brama kembali ke ruang kerja karena harus menyelesaikan pekerjaannya. Status dirinya yang single dad membuatnya harus pintar dalam membagi waktu dengan anaknya.


"Huft... Fenita, ku harap kau bisa membuka hatimu untuk Nadeline. Kasihan dia, walaupun kau bukanlah istriku namun setidaknya anggap Nadeline sebagai anakmu" gumam Brama.


Walaupun Brama masih kesal dengan mantan istrinya yang pergi tanpa kabar dan bersama kekasihnya itu, namun ia tak menutup pintu bagi Fenita agar menemui anaknya. Apalagi Nadeline masih membutuhkan sosok seorang ibu yang mengarahkannya.


Namun jika Fenita tak mau mengarahkan pada hal baik, tentu Brama yang akan menegurnya. Brama hanya bisa menghela nafasnya lelah karena mengingat semua kejadian masa lalu yang seperti potongan video itu.


"Aargggh... Kenapa harus terjadi pada anakku? Nadeline nggak bersalah. Yang ada hanya orangtua egois yang tega meninggalkan anaknya demi laki-laki lain" seru Brama yang langsung mengusak rambutnya frustasi.

__ADS_1


Beginilah Brama yang selalu rapuh jika sudah mengingat tentang anaknya yang tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Ia ingin anaknya tumbuh sehat dan bahagia, namun apa daya jika kebahagiaan Nadeline terukur oleh hadirnya sosok seorang ibu.


__ADS_2