
"Lepaskan cekikan pada leher perempuan itu" seru seseorang yang baru saja masuk.
Bukan lagi seseorang, namun ini adalah gerombolan orang. Mereka adalah polisi, Brama sedikit terkejut melihatnya namun kemudian ia terlihat biasa saja. Brama sama sekali tak melepaskan cekikan pada leher Ajeng, justru mempereratnya.
"Saya takkan pernah melepaskan cekikan pada leher wanita jahat ini. Asal kalian tahu, dia mau menjual anaknya sendiri. Sekarang dimana anakku? Mana?" seru Brama yang kalap dengan emosinya.
"Kalau kalian jadi seorang ayah, apa akan membiarkan anaknya diculik dan dijual begitu? Sekali pun yang melakukan itu adalah ibu kandungnya sendiri" lanjutnya.
"Tenang, pak. Kita bisa bicarakan ini baik-baik" ucap polisi itu.
Polisi itu tak mungkin langsung menembak kearah tangan Brama yang mencekik leher Ajeng. Tadi ia dihubungi oleh salah satu pihak keamanan apartemen kalau ada keributan di sini. Mereka tak bisa langsung asal masuk karena sedikit takut, apalagi Brama merupakan orang penting.
"Bagaimana saya bisa tenang? Anak saya ditemukan depresi karena ulah ibunya yang mau menjualnya pada preman" sentak Brama.
Tentu saja ucapan dari Brama itu membuat Ajeng dan polisi terkejut. Tadi Brama menanyakan tentang keberadaan anaknya, namun kini bilang sudah menemukannya. Ini memang harus digali kembali informasinya agar jelas permasalahannya.
"Brama, lepaskan wanita itu. Kita kan sudah sepakat untuk tak menggunakan kekerasan" seru Papa Tito yang tiba-tiba masuk.
"Siapa kalian?" tanya salah satu polisi pada Aldo dan Papa Tito sambil menodongkan pistol kearah mereka.
"Tenang, pak. Kami ini keluarga dari laki-laki itu. Kami ini sengaja memancing perempuan itu mengaku kalau kemarin menculik anak dari Pak Brama ini. Bahkan semalam kami bertiga menemukan Nadeline dalam kondisi pingsan dan mentalnya terguncang setelah dibawa wanita ini" ucap Aldo.
"Nadeline juga anakku" ucap Ajeng dengan lirih berusaha membela dirinya sendiri.
"Kalau memang anakmu kok mau dijual? Dia manusia, bukan barang" ucap Papa Tito.
__ADS_1
Uhukkk... Uhukk...
Papa Tito langsung menarik tangan Brama agar melepaskan cekikan pada leher Ajeng. Kini Ajeng sampai terbatuk-batuk dan meraup nafasnya dengan kasar. Para polisi segera saja menangkap Ajeng setelah melihat kalau perempuan itu nafasnya perlahan stabil.
"Bisa kalian jelaskan kejadian sebenarnya di kantor polisi? Saya ingin mendapatkan bukti yang kuat mengenai kasus ini. Kalau sampai kalian hanya membual, maka kami tak segan untuk menangkap kalian juga" ucap polisi itu dengan tegas.
"Tenang saja, pak. Kami punya bukti kuat untuk menangkap perempuan ini. Tapi saya juga minta tolong untuk usut tuntas tujuan dari perempuan ini ingin menjual anak kandungnya sendiri" ucap Brama dengan tatapan dinginnya.
"Baik, pak. Kami akan membantu dan tentu memihak pada yang benar" ucap polisi itu.
"Hei... Jangan seenaknya saja menangkap orang. Kalian pikir saya ini apa? Saya tak bersalah sama sekali. Awas kalian... Aku akan balas dendam karena diperlakukan seperti ini oleh kalian semua" seru Ajeng yang memberontak karena tangannya dikunci oleh beberapa polisi.
"Diam..." sentak salah satu polisi pada Ajeng.
Tentu saja Ajeng ketakutan hingga memilih untuk diam. Beberapa polisi segera saja membawa Ajeng pergi diikuti oleh Brama, Papa Tito, dan Aldo. Papa Tito merangkul Brama yang emosinya masih memuncak.
"Iya, om. Brama akan lebih berhati-hati lagi dalam melakukan sesuatu. Terimakasih sudah datang tepat waktu" ucap Brama sambil tersenyum tulus.
***
"Ini pak rekaman suara yang saya ambil saat berada di apartemen. Itu semua berisi perdebatan saya dengan perempuan itu. Sedangkan untuk bukti kondisi anak saya, bisa langsung ke rumah Pak Aldo. Putri saya terkena tekanan mental dan psikisnya terganggu" ucap Brama sambil menyerahkan ponselnya.
Polisi itu hanya menganggukkan kepalanya sambil mendengarkan isi rekaman yang ada. Mereka sedikit terkejut saat tahu kalau Brama sigap merekam semua ini. Padahal yang tak mereka ketahui adalah ini semua telah direncanakan.
"Besok tim dokter akan ke rumah untuk melihat kondisi dari anak bapak. Jika mau, kami bisa mencarikan seorang dokter untuk menyembuhkan psikisnya yang terganggu" ucap polisi.
__ADS_1
"Tolong rekomendasinya saja, pak. Mengenai saya pakai atau tidak, nanti saya akan konsultasi dengan dokter yang merawat anak saya" ucap Brama.
Polisi itu menganggukkan kepalanya. Ketiganya akhirnya pulang setelah memberikan bukti dan kesaksian. Sedangkan Ajeng masih ditahan selama beberapa hari ke depan untuk pemeriksaan yang lebih lanjut.
"Harusnya ada drama peluk-pelukan atau gimana gitu. Ini kaya flat gitu aja, nggak seru" ucap Aldo setelah keluar dari kantor polisi.
"Harusnya ada adegan menyesal. Ini nggak ada tuh menyesal, justru kaya tidak ada rasa bersalah sama sekali" ucap Brama.
"Hatinya keras karena obsesinya pada uang. Ayo kita pulang. Kata Lili, Nadeline sudah bangun dan kondisinya lumayan membuat bingung. Mungkin dengan kehadiranmu bisa membuat dia sadar" ucap Aldo dengan hati-hati.
Brama hanya menganggukkan kepalanya. Ia sudah paham dengan apa yang akan diucapkan oleh Aldo. Tentunya keadaan Nadeline jauh dari kata baik. Apalagi setelah tadi melihatnya histeris saat bangun tidur.
***
"Nanad, sadar dong. Ish... Kei ini bingung mau main sama siapa lho. Tahu nggak, Kei tuh tadi lupa kalau kemarin diajakin main sepak bola sama yang lain. Eh... Kei malah pulang duluan. Kira-kira besok mereka pada musuhin Kei nggak ya, Nad?" tanya Kei yang bercerita pada Nadeline yang pandangannya kosong.
Kei yang tadinya ingin menangis melihat kondisi sahabatnya pun diberi pengertian oleh Lili. Kei tak boleh menangis dan harus terus mengajaknya berbincang walaupun Nadeline tak menjawabnya. Kei pun melakukan apa yang diminta oleh Lili itu.
Nadeline hanya diam dan menatap kosong ke depan walaupun telinganya mendengar Kei bercerita. Lili juga berada di sana bersama dengan Baby Della. Keduanya duduk di kursi sofa yang ada di kamar itu.
"Teman-temannya Kei pasti mengerti kalau kamu harus jagain Nadeline dan Baby Della" ucap Lili yang khawatir kalau anaknya kepikiran.
"Semoga saja, mama. Muka mereka seram-seram lho, ma. Iya kan, Nad?" ucap Kei dengan berinteraksi kepada Nadeline.
Nadeline menganggukkan kepala seakan menyetujui ucapan Kei. Tentu saja Kei dan Lili sangat senang dengan itu. Setidaknya Nadeline mau merespons dengan gerakan tubuhnya walaupun tak bersuara.
__ADS_1
"Makanya Nadeline harus sekolah lagi dan cepat sembuh. Jadinya Kei ada temannya di sekolah" ucap Kei membuat Nadeline menganggukkan kepalanya lagi.