Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Praktik


__ADS_3

Hari ini merupakan hari pertama Lili melakukan praktiknya di sebuah rumah sakit. Ia ditugaskan untuk berada di unit gawat darurat. Belum adanya tugas berarti di sana, ia memeriksa semua data pasien yang berada di ruangan.


"Semoga aja nggak ada pasien yang harus ditindak lanjut dengan cepat ya, Mik. Gue sedikit takut nih kalau misalkan ada hal yang tak terduga. Apalagi datangnya malam-malam gitu. Tahu sendiri kan? Pasti ada hal mistis yang menyertai" bisik Mega pada Lili.


Apalagi Mega yang sedikit paranoid itu langsung saja mengedarkan pandangannya kearah semua ruang dokter. Hal itu membuat Lili merinding juga, apalagi ia memang suka ketakutan kalau menceritakan tentang hal mistis.


"Hush... Jangan bilang gitu ah. Kalau kita nggak bahas kaya gitu, pasti tidak akan ada hal begituan" ucap Lili yang langsung menegur Mega.


Mega hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Keduanya menyibukkan diri dengan beberapa rekam medis yang tak sesuai dengan tempatnya. Seharusnya ini ada petugasnya sendiri, namun kebetulan yang biasanya berjaga sedang cuti.


"Permisi calon dokter..." seru seorang dokter yang bekerja di rumah sakit ini membuka pintu ruangan yang digunakan Lili dan Mega praktik.


Sontak saja keduanya segera mengalihkan pandangannya. Mereka segera berdiri kemudian berjalan mendekat kearah dokter laki-laki itu. Keduanya mengernyitkan dahinya heran saat melihat dokter laki-laki itu tersenyum kearah mereka, lebih tepatnya pada Lili.


"Ini ada makanan untuk Lilian. Eh... Maksudnya buat kalian berdua makan malam" ucap dokter yang bernama Adnan itu.


Dokter Adnan merupakan seorang dokter yang sudah bekerja di rumah sakit itu selama 5 tahun. Bahkan dulunya ia menjadi dokter terbaik dan termuda di rumah sakit itu. Kini Dokter Adnan juga sedang menempuh pendidikan spesialisnya.


Paras tampannya membuat beberapa perawat dan dokter yang masih muda terpesona. Namun Dokter Adnan yang memang murah senyum itu menganggap semua perempuan yang ada di dekatnya adalah teman. Dokter Adnan masih berstatus single di usianya yang menginjak 27 tahun.


"Jadi ini yang benar buat kami berdua atau Lilian saja nih, dok?" ucap Mega sambil menaikturunkan alisnya menggoda Dokter Adnan.


"Sebenarnya untuk Lilian saja sih. Tapi kalau kamu mau ikut nyicipin ya tanya sama Lilian" ucap Dokter Adnan dengan sedikit malu-malu.


Memang tidak ada yang mengetahui mengenai status Lili yang sudah menikah di rumah sakit ini. Tentu saja selain teman-teman satu kampusnya dan dokter pembimbing rumah sakit. Selain itu ada beberapa dokter yang memang tak diundang saat pernikahannya, walaupun dia merupakan pekerja di rumah sakit milik Aldo ini. Oleh karena itu, dokter Adnan berpikir kalau Lili ini masihlah single, sama seperti dirinya.


"Wah... Kebetulan nih kita belum makan malam. Makasih ya, dokter. Lili juga pasti senang mendapatkan makanan gratis dari dokter" ucap Mega yang langsung menjawab tanpa persetujuan Lili.


Padahal Lili sudah menyikut perut Mega agar gadis itu menolak atau diam saja. Pasalnya kalau sampai Aldo tahu, pasti akan menjadi masalah yang rumit. Terlihat sekali kalau Dokter Adnan ini mempunyai ketertarikan khusus dengan Lili. Namun Lili tentu tidak akan menggubris pesona yang ditawarkan oleh Dokter Adnan.


"Saya sudah bawa bekal, dok. Makanan ini buat Mega saja. Lagian ini makanan dibuat oleh suami saya. Nggak enak juga kalau tidak saya makan" ucap Lili dengan berbohong.


Tentu saja Aldo tidak mungkin yang namanya memasak atau pergi ke dapur. Bahkan untuk membuat kopi dan mengambil minum saja, laki-laki itu menyuruh oranglain. Berbeda dengan Dokter Adnan yang kini terkejut bahkan tertawa aneh karena mendengar ucapan dari Lili.

__ADS_1


"Suami? Halu sekali Lilian ini. Atau ini sedang bercanda?" tanya Dokter Adnan sambil tertawa.


Mega dan Lili saling pandang karena melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Dokter Adnan yang menurut keduanya sangat aneh. Tak ada yang lucu dari pengakuan Lili, namun Dokter Adnan malah membuatnya seakan itu sebuah candaan.


"Saya tidak bercanda. Saya memang sudah menikah dan mempunyai suami. Sudah satu mingguan ini saya menikah" ucap Lili dengan serius.


Sontak saja Dokter Adnan berhenti tertawa melihat wajah serius dari Lili. Dokter Adnan menatap Mega seakan meminta penjelasan. Pasalnya tadi Mega saja yang menerima makanan pemberian darinya. Sedangkan Lili sendiri memilih diam dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Memang benar dokter. Lilian ini sudah menikah satu mingguan yang lalu. Lilian menikah dengan seorang dosen sekaligus dokter. Mungkin dokter sendiri mengenal suami dari Lilian" ucap Mega.


"Siapa?" tanya Dokter Adnan penasaran dengan sosok suami Lili yang dimaksud.


"Dokter Aldo. Yang punya rumah sakit ini juga" ucap Mega yang memang mengetahui jika rumah sakit yang digunakan untuk praktik mereka ini milik suami Lili.


Namun salutnya Mega dengan temannya itu tak menggunakan koneksi suaminya demi kenyamanannya sendiri. Walaupun rumah sakit ini milik suaminya, Lili tak meminta untuk dibedakan. Bahkan pekerjaannya sama dengan teman-temannya. Lili juga tak meminta jadwal khusus agar tak selalu pulang malam.


"Apa? Pak Aldo yang menikah minggu lalu? Tapi wajahnya kayanya bukan Lilian deh" ucap Dokter Adnan yang masih tak percaya.


Mendengar hal itu, sontak saja membuat Mega mengeluarkan ponselnya dari roknya. Ia membuka ponselnya kemudian memperlihatkan foto pernikahan Lili. Sontak saja Dokter Adnan langsung meraup wajahnya kasar. Tanpa berkata apapun, Dokter Adnan segera pergi dari hadapan dua perempuan itu.


"Mungkin saja ada yang memberitahu fotonya. Tapi kan saat itu wajahku bermake up, pasti beda dong dengan sekarang" ucap Lili.


Mega hanya menganggukkan kepalanya mengert. Tentu saja wajah Lili saat ini yang hanya dilapisi bedak tipis dan lip balm akan berbeda saat pernikahan. Apalagi saat itu wajah Lili dilapisi make up yang cukup tebal. Lili segera menarik tangan Mega untuk masuk dalam ruangannya.


"Itu kamu makan saja. Aku nggak mau makan, entar malah kalau ada peletnya kan gawat" ucap Lili sambil mengedikkan bahunya.


"Dih... Aku juga ogah kali makan makanan yang ada gituannya. Walaupun Dokter Adnan itu ganteng dan ramah, namun itu sama semua cewek yang ada di rumah sakit ini. Kaya ada bibit-bibit playboy gitu kan" ucap Mega yang malah kini meletakkan bungkusan makanan itu kearah Lili.


"Ya elah, aku cuma bercanda lho ini. Udah kamu makan aja, lagian kita butuh tenaga banyak sampai nanti jam 10 lho. Itu pun kalau nggak ada hal darurat yang datang. Aku sudah bawa makanan dari rumah" ucap Lili.


Melihat wajah Lili yang begitu yakin kalau pada makanan itu bersih dari hal yang tak jelas, membuat Mega menganggukkan kepalanya. Keduanya segera saja makan makanan masing-masing. Lagi pula ini sudah melebihi jam makan malam.


***

__ADS_1


"Ada kecelakaan..." seru beberapa perawat.


Sontak saja beberapa dokter yang memang berjaga di unit gawat darurat segera keluar dari ruangannya. Termasuk Lili dan Mega yang tadi sedang berbincang segera melaksanakan tugas pertamanya dalam menangani pasien. Keduanya segera saja berlari menuju ruang UGD.


Ternyata baru saja terjadi kecelakaan beruntun yang mengakibatkan banyak orang menjadi korbannya. Bahkan brankar berisi pasien sampai tidak bisa masuk ruangan. Akhirnya dokter senior memutuskan untuk membawa masuk korban yang lukanya berat. Sedangkan yang luka ringan, dengan terpaksa diobati di ruang rawat inap biasa.


"Astaga... Darahnya banyak banget" gumam Mega di samping Lili.


"Jangan dilihatin mulu, Mega. Buruan bersihkan lukanya. Ini masih mending kita cuma suruh bersihkan luka. Coba kalau yang di dalam ruang UGD itu" bisik Lili pada Mega.


Lili dan Mega langsung membersihkan luka-luka pada korban dibantu oleh perawat. Mereka juga harus bisa memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan. Aktifitas di depan ruang IGD itu baru berhenti pada pukul 3 dini hari. Begitu tak terasa mereka melakukan pemeriksaan hingga tak sadar kalau waktu sudah menunjukkan pagi hari.


Terlihat gurat kelelahan pada perawat dan dokter yang ada. Semua pasien telah tertangani dengan baik. Lili dan Mega yang seharusnya pulang jam 10 malam menjadi tertunda. Mereka akhirnya memutuskan untuk tak pulang sampai matahari terbit. Pasalnya akan sangat bahaya bagi perempuan jika pulang pada jam-jam segini.


"Suamimu nggak nyariin, Li? Bahkan kita nggak sempat pamit sama orang rumah lho" ucap Mega sambil geleng-geleng kepala.


"Nyariin. Nih lihat banyak missed call dari dia. Pasti dia juga tahu dan memahami apa yang terjadi di rumah sakit ini. Yang penting sekarang pesan yang dikirim langsung dibalas" ucap Lili.


Mega dan Lili memutuskan membeli kopi di kantin rumah sakit. Beruntung kantin di rumah sakit itu buka 24 jam. Tentu saja itu membuat mereka setidaknya bisa bertahan hingga matahari terbit dengan meminum kopi. Setelah pulang, Lili pasti akan disibukkan dengan Kei yang merengek ingin diantar sekolah.


***


"Ada kecelakaan beruntun semalam?" Tanya Aldo yang menjemput Lili di rumah sakit sehabis shubuh.


"Iya. Kita sampai nggak sadar kalau sudah pagi" jawab Lili yang kini memejamkan matanya dengan kepala bersandar pada kursi mobil.


Aldo membiarkannya saja karena tahu kalau Lili pasti saat ini tengah kelelahan. Apalagi semalaman tak tidur, dengan saat paginya yang malah mengantar Kei ke sekolah. Aldo mengelus lembut kepala istrinya agar bisa tertidur dengan pulas. Ia memahami bagaimana profesi yang dijalankan oleh istrinya itu, sehingga takkan marah jika Lili jarang memperhatikannya.


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Aldo memasuki halaman mansion. Di depan pintu mansion sudah ada Kei yang menunggu kedatangan mobil Aldo. Bahkan Kei sepertinya baru bangun tidur karena masih mengenakan piyamanya. Aldo keluar mobil kemudian menggendong istrinya masuk dalam mansion.


"Mama tenapa? Tok didendong tayak nanak tecil" tanya Kei dengan pandangan sayunya.


"Mama capek, dia masih tidur. Ayo masuk Kei" ajak Aldo pada anaknya.

__ADS_1


Kei mengekori papa dan mamanya dari belakang. Berulangkali Kei sempat oleng saat berjalan karena ia masih mengantuk. Semalaman, Kei tak bisa tidur karena memikirkan mamanya yang tak kunjung pulang. Berakhirlah Kei yang tidur kemalaman dan saat bangun malah masih mengantuk.


__ADS_2