
Arlin atau lebih tepatnya Lili mengelus kaca yang ada pada pintu ruang ICU itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia menatap sendu kearah raganya yang kini terbujur lemah dengan banyaknya alat yang menempel diatas brankar rumah sakit itu. Aldo sedikit terkejut saat melihat mahasiswanya itu ternyata memang benar adanya sedang mengalami koma.
Padahal awalnya ia tak percaya kalau mahasiswanya itu koma dan hanya beralasan untuk tidak melanjutkan skripsinya saja. Namun setelah melihat ini, ia jadi percaya kalau mahasiswanya itu sedang sakit. Namun dalam benaknya kini ada berbagai pertanyaan mengenai istrinya yang mengenal mahasiswanya itu.
"Darimana kamu mengenalnya?" tanya Aldo yang penasaran.
"Kami bertemu di taman. Dia lagi sedih dan frustasi karena skripsinya yang disuruh revisi. Eh tau-taunya, dosennya itu suami aku sendiri" jawab Arlin dengan terkekeh pelan.
Awalnya Arlin sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Aldo. Namun dengan cepat ia segera menguasainya kemudian menjawabnya dengan kebohongan. Arlin hanya bisa minta maaf kepada suaminya itu yang sudah berani berbohong kepanya. Namun ini untuk kebaikan semua orang walaupun merupakan jawaban bohong.
Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian memberi kode pada suaminya agar segera menurunkan dirinya. Aldo melakukan apa yang diminta oleh istrinya itu kemudian meletakkan Arlin pada kursi rodanya. Ia hanya ingin melihat tubuhnya saja untuk mengetahui bagaimana keadaannya sekarang.
Walaupun tubuhnya mengurus karena sudah beberapa hari tidak sadarkan diri namun baginya masih tetap cantik. Ia yakin kalau sudah sadar nantinya akan kembali cantik dan bertambah gemuk. Setelah puas, mereka segera berlalu dari ruang ICU itu.
"Terimakasih tante dan om. Sudah mengijinkan saya menjenguk Lili. Semoga Lili segera sembuh dan melanjutkan kuliah juga kehidupannya kembali" ucap Arlin sambil tersenyum tipis.
"Terimakasih, nak. Semoga kamu juga cepat sembuh ya karena datang kesini pasti akan berobat juga kan" ucap Mama Lili tersenyum hangat.
Arlin hanya menganggukkan kepalanya dengan sedikit menundukkan kepalanya. Mereka sedari tadi masih menggunakan masker wajah sehingga tidak tahu bagaimana rupa dari kedua tamunya itu. Ada sedikit rasa haru saat melihat senyum hangat yang dilayangkan oleh Mama Lili itu sehingga Arlin lebih memilih menundukkan kepalanya.
Setelah berpamitan, segera saja Arlin dan Aldo pergi dari sana untuk ke ruang dokter. Ternyata disana Profesor Edi sudah mulai memeriksa antrian pasiennya. Tak berapa lama menunggu, nama Arlin dipanggil kemudian Aldo langsung mendorong kursi roda istrinya itu untuk segera masuk kedalam.
"Selamat pagi, Pak Edi" sapa Arlin yang kemudian membuka maskernya.
__ADS_1
"Nah... Ini dia yang kami tunggu-tunggu dari kemarin tapi tak datang" ucap Profesor Edi sambil terkekeh pelan.
Tentunya kedatangan Arlin ini sangat ditunggu-tunggu oleh Profesor Edi. Beliau ingin segera menyelesaikan perawatannya pada kaki Arlin agar wanita itu bisa langsung berjalan. Pasalnya perkembangan yang kemarin sudah bagus sehingga terapi ini harus segera dilaksanakan. Jangan sampai nanti mereka harus mengulang terapi dari awal lagi.
"Maafkan kami, Pak Edi. Kemarin kami sempat ada kendala sehingga tak jadi kesini" ucap Aldo sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Tidak papa, Pak Aldo. Kami memaklumi karena kalian sedang menjadi artis dadakan bukan" ucap Profesor Edi sambil tertawa.
Tentunya semua yang ada di rumah sakit itu menyaksikan mengenai berita Arlin dan Aldo yang viral kemarin. Bahkan hampir semua karyawan rumah sakit ini langsung saja lebih memilih membela Arlin karena sudah mengenalnya. Mereka tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Papa Madin.
Aldo dan Arlin juga ikut tertawa jika mengingat mengenai kejadian kemarin yang membuat semuanya heboh. Mereka tak menyangka kalau viralnya itu sekarang karena rasa kasihan terhadapnya. Setelah sedikit berbincang, akhirnya mereka kembali melakukan terapi pada kaki Arlin. Semuanya berjalan dengan begitu lancar karena kini perlahan Arlin sudah bisa melangkahkan kakinya lebih lama.
"Syukurlah... Sering-sering digunakan untuk berjalan ya, Arlin. Mungkin akan cepat lelah dan kram jika terlalu lama berjalan, namun sebentar lagi juga pasti terbiasa" ucap Profesor Edi sambil tersenyum hangat setelah menyelesaikan sesi terapi hari ini.
***
"Anak mama... Kei..." teriak Arlin yang kini sangat bahagia langsung saja berteriak memanggil anaknya setelah sampai di mansion Aldo.
Bahkan Kei yang dipanggil mamanya itu langsung saja berlari menuju keluar mansion. Mamanya yang kini sudah dipapah oleh papanya sambil berjalan kearahnya itu begitu bahagia karena melihat Arlin sudah bisa berjalan pelan. Arlin memang meminta Aldo untuk memapahnya saja agar dirinya bisa terbiasa berjalan.
"Wah... Mama cudah bica alan?" tanya Kei dengan mata membulat.
"Iya dong. Ini juga berkat do'a dari Kei lho" seru Arlin dengan senyum sumringahnya.
__ADS_1
Aldo yang melihat kehebohan keduanya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Apalagi tadi saat Arlin berteriak memanggil anaknya hanya bisa menghela nafasnya sabar. Ia harus mengorbankan telinganya yang kini masih berdengung akibat teriakan begitu keras itu. Apalagi teriakan itu tepat sekali pada telinganya karena ia yang memapah istrinya.
Kei pun langsung memegang tangan Arlin untuk membawanya masuk dalam mansion. Keduanya asyik berceloteh tanpa menghiraukan keberadaan Aldo sama sekali yang ada disana. Kei sangat bersyukur karena melihat mamanya kini sebentar lagi akan sembuh.
"Mama, Kei mawu liat don. Mama alan cendili" ucap Kei dengan antusiasnya.
Arlin memandang kearah suaminya yang mengangguk. Baiklah... Sekarang Arlin akan membuktikan kalau ia sudah bisa berjalan tanpa bantuan apapun. Bahkan kini Mama Nei dan Papa Tito yang baru saja datang langsung membulatkan matanya. Mereka segera mendekat kearah ketiga orang itu.
"Arlin sudah bisa jalan?" tanya Mama Nei penasaran.
"Sedikit, ma" jawab Arlin sambil tersenyum.
"Nggak papa. Sedikit-sedikit yang penting nanti bisa berjalan lancar" ucap Mama Nei sambil tersenyum lembut.
Arlin hanya menganggukkan kepalanya kemudian bersiap untuk melepaskan pegangan tangan Aldo. Aldo pun langsung melepaskannya perlahan dan segera memundurkan langkahnya untuk menjaga Arlin agar tidak terjatuh ke lantai. Kei dan kedua orangtua Aldo sudah sangat antusias melihat Arlin yang kini akan menunjukkan kesembuhan kakinya.
Walaupun masih belum berdiri tegak dan tegap, namun kemajuan ini sungguh membuat mereka bahagia. Perlahan Arlin melangkahkan kakinya maju kedepan menuju kearah Kei dan kedua orangtua Aldo.
"Ayo mama tu yang antik. Mama bica..." seru Kei menyemangati.
Bahkan kini Kei sudah merentangkan kedua tangannya seakan menanti mamanya untuk memeluk dirinya. Arlin terus berusaha melangkahkan kakinya satu per satu seperti robot berjalan. Namun ini sudah perkembangan yang besar bagi semua orang yang ada disekitarnya.
Happp...
__ADS_1