Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Kantor Polisi


__ADS_3

Papa Tito bersama dengan Aldo, Kei, dan Mama Nei kini telah sampai di kantor polisi. Mereka akan melihat dan menanyakan langsung pada pelaku mengenai apa yang telah diperbuat. Tentunya mereka juga akan menanyakan tentang motif pelaku karena menurut keterangan dari polisi, orang-orang itu bukanlah dalang utama. Ada seseorang yang menyuruh mereka untuk melakukan kejadian ini.


"Dimana para pelaku yang menabrak istri saya kemarin, pak?" tanya Aldo dengan nada datarnya.


"Mereka berada di sebelah sini, tuan" ucap salah satu polisi sambil menunjukkan arah menuju ke ruang tahanan.


Mereka berempat pun segera berjalan mengikuti salah satu polisi yang mengantar. Mereka meminta untuk ikut dalam pemeriksaan pelaku agar bisa sekalian menjadi saksi kasus ini. Pasalnya, mereka tak ingin kalau sampai ada yang ditutup-tutupi lagi.


"Silahkan masuk, ada beberapa anggota kami di dalam ruangan ini. Ada juga pelaku yang tengah menjalani pemeriksaan di dalam" ucap polisi itu.


Papa Tito menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. Saat masuk, terlihat kalau ada dua orang pelaku yang tengah menundukkan kepalanya saat diinterogasi oleh pihak yang berwajib. Sekilas, Papa Tito dan Aldo sama sekali tidak mengenal kedua pelaku ini.


"Silahkan duduk sebelah sini, tuan" ucap salah satu polisi disana.


Mereka pun duduk dengan Kei yang ada di pangkuan Mama Nei. Kei sedari tadi juga menatap tajam kearah dua pelaku tanpa takut. Ia yakin kalau disini ada beberapa orang baik yang akan melindunginya.


"Silahkan dilanjutkan dulu, pak. Kami akan menunggu dan tahu secara gamblang dari ucapan mereka" ucap Papa Tito menyuruh polisi agar melanjutkan interogasi kepada pelakunya.


"Jadi apa motif kalian melakukan tabrak lari kepada korban? Tak mungkin kalau kalian tidak sengaja melakukan hal ini. Pada CCTV sudah terlihat kalau kalian sengaja mengincar korban saat dia sendiri" tanya polisi itu.

__ADS_1


Tentunya mereka saling diam dan hanya menyenggol lengan tangan satu sama lain. Hal ini kemungkinan untuk mencari jawaban yang sama agar nantinya tidak mencurigakan. Namun semua gerak-gerik mereka itu tertangkap mata oleh Papa Tito dan Aldo. Tentunya mereka berdua hanya bisa tersenyum sinis melihat semua itu.


Para polisi masih menunggu jawaban dari kedua pelaku yang terlihat gelisah. Mereka tentu hanya punya dua pilihan yaitu jujur atau berbohong. Kalau jujur, mereka harus mengorbankan dalang utamanya yang artinya adalah bosnya sendiri. Sedangkan malau berbohong, akan semakin mempersulit mereka kedepannya.


"Saya hanya disuruh" jawab salah satu pelaku yang memang tidak tahu motif dari semua ini.


"Siapa yang nyuruh?" tanya polisi itu.


"Saya tidak tahu namanya, pak. Tapi saat ini dia sedang berada di penjara" jawab pelaku itu.


Mendengar pengakuan itu sontak saja membuat para polisi dan keluarga Aldo terkejut. Bahkan Papa Tito seakan mengisyaratkan kepada Aldo untuk berpikir mengenai musuh mereka yang ada di penjara saat ini. Aldo mengernyitkan dahinya sambil berpikir keras mengenai orang-orang yang bermasalah dengan Arlin.


"Muda dan laki-laki. Anak kuliahan sepertinya, tuan" ucap pelaku itu.


Tangan Aldo mengepal dengan eratnya saat mendengar ciri-ciri yang disampaikan oleh pelaku tabrak lari itu. Ia yakin kalau dugaannya kali ini benar karena sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan. Aldo tentunya tidak menyangka kalau orang yang berada di penjara bisa melakukan hal ini.


Sungguh luar biasa, bisa menembus keamanan dan penjagaan dari pihak yang berwajib dengan menyewa orang untuk melukai Arlin. Aldo hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar semua ini bahkan sedari tadi ia terus saja menghela nafasnya kasar. Ternyata apa yang diperbuatnya waktu itu, membuat dua orang pelaku malah menyuruh oranglain untuk melukai istrinya.


"Om tau ndak? Gala-gala om yang tablak mama atu, Kei adi ndak puna mama agi. Mama atu inggal tau, dimana talo atu tablak olangtua om duga? Om malah ndak" seru Kei dengan mata memerah dan berkaca-kaca.

__ADS_1


Aldo, Papa Tito, dan Mama Nei yang mendengar ucapan Kei pun merasa hatinya ditusuk-tusuk. Apalagi melihat wajah Kei yang begitu kehilangan akan sosok mama yang baru beberapa minggu menyayanginya. Mama Nei langsung saja membalikkan tubuh cucunya menjadi menghadal kearahnya. Mama Nei memeluk cucunya dengan erat sambil mengelus lembut punggungnya yang bergetar.


Para polisi dan pelaku yang tak mengerti dengan bahasa dari Kei pun mengernyitkan dahinya bingung. Pasalnya ada beberapa ucapan yang tak dimengerti. Mereka juga belum mendapatkan informasi apapun mengenai kondisi korban saat ini.


"Kemarin, korban meninggal. Menantu saya meninggal karena kecelakaan itu. Sebelum kejadian kemarin, menantu saya sudah mengalami kecelakaan juga jadi kondisinya semakin mengkhawatirkan setelah mengalami kejadian yang sama" ucap Papa Tito.


Polisi dan pelaku yang ada disana sontak saja terkejut dengan penjelasan dari Papa Tito. Mereka tak menyangka kalau apa yang diperbuat ternyata sampai menghilangkan nyawa orang. Mereka pikir hanya lecet-lecet saja yang kini malah membuat pelaku ketakutan. Bayang-bayang hukuman penjara lama sudah didepan mata apalagi sampai mengakibatkan korban meninggal dunia.


"Maaf, tuan" ucap kedua pelaku sambil menundukkan kepalanya.


Kedua tangan Aldo sudah mengepal dengan eratnya. Tentu ia emosi karena para pelaku itu hanya bisa mengucapkan maaf yang tak bisa mengembalikan istrinya. Bahkan kini Aldo langsung berdiri dan menatap kedua pelaku dengan tatapan tajamnya. Papa Tito juga langsung dalam mode waspada melihat anaknya ada tanda-tanda akan menghajar pelaku.


"Gara-gara ulah kalian, istri saya meninggal. Impian keluarga kecil saya untuk hidup bahagia, musnah begitu saja. Seharusnya kalau kalian butuh uang, ambil pekerjaan yang halal. Bukan pekerjaan yang bisa buat celaka oranglain" seru Aldo sambil menunjuk-nunjuk kearah dua pelaku.


"Bagaimana kalau saya tabrak juga istrimu biar anda dan anaknya bisa merasakan apa yang kamu rasakan? Lalu saya minta maaf dan masuk penjara. Impas bukan?" lanjutnya.


Kedua pelaku sudah tak bisa berkutik lagi mendengar apa yang diucapkan oleh Aldo. Keduanya merasa sangat bersalah namun juga ingin protes dengan apa yang diucapkan oleh Aldo. Mereka tak ingin kalau sampai keluarganya menjadi korban atas kesalahan yang tak diperbuat. Namun mereka tak berani melakukan protes apalagi melihat sekilas wajah Aldo yang mengerikan.


"Pak, saya ijin mengambil ponsel" ucap Aldo pada polisi yang ada disana.

__ADS_1


Para polisi mengijinkan karena tahu kalau Aldo akan menunjukkan atau melakukan sesuatu. Aldo keluar sebentar dari ruangan itu, meninggalkan keluarganya yang masih ada di sana. Dalam ruangan itu, hanya ada suara isakan tangis dari Kei yang begitu menyayat hati.


__ADS_2