Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Pesta


__ADS_3

Pesta kecil-kecilan diadakan oleh Papa Tito. Apalagi Aldo yang sok sibuk itu malah lebih memilih pekerjaannya dibandingkan keluarga. Papa Tito kesal, padahal sudah jelas kalau tugas akreditasi itu dosennya ada tim khususnya. Terutama untuk para administrasi kampus yang mengumpulkan semua data-datanya.


"Pa, apa kita nggak nunggu Mas Aldo pulang?" tanya Lili pada mertuanya itu.


"Nggak perlulah, Aldo itu lagi sibuk. Mana mentingin pekerjaannya. Padahal udah ada tim khususnya lho buat ngurusin itu" ucap Papa Tito.


"Mungkin Mas Aldo nggak enak sama yang lainnya, pa. Masa yang lainnya lembur tapi dia malah pulang duluan. Lagi pula tadi Mas Aldo sudah mengirim pesan pada Lili kalau minta maaf atas kejadian ini kok" ucap Lili mencoba mengerti.


Walaupun mungkin ia juga merasakan kesal pada Aldo, namun ia tak boleh egois. Terlebih Aldo memang mempunyai tanggungjawab atas pekerjaannya itu. Papa Tito hanya menganggukkan kepalanya kemudian memulai acara barbeque di halaman belakang rumah.


Bahkan di sana juga ada Mama Ningrum dan Papa Dedi yang diundang langsung. Mereka sangat senang ada pertemuan keluarga yang setidaknya bisa menjadi suatu hal yang dapat mempererat silaturahmi.


"Lili, kamu duduk saja sama Kei. Kalau mau, langsung makan itu jagung bakar yang udah matang. Minta sama papamu" ucap Mama Nei.


"Nanti saja, ma. Lagian Lili ingin bantu bakar-bakar daging dan sosis ini. Biar Kei saja yang duduk" ucap Lili yang tak mau berhenti bergerak.


"Mama caja yang uduk. Tan mama ladi hamil, tacian lho adit tecilna macak diculuh beldili telus. Anti pedel tatina" ucap Kei yang menyuruh mamanya duduk saja.


"Kan mama yang berdiri, masa adiknya pegal sih. Aneh sekali kamu tuh, Kei. Ini juga adiknya di perut mama sedang duduk kalau mama lagi berdiri gini. Iya kan, dek?" tanya Lili pada bayi yang ada di kandungannya dengan mengelus lembut perutnya itu.


"Macak cih? Aditna ladi calto-calto tayakna coalna mama cukana beldili dan dalan telus" ucap Kei dengan santainya.


Para orangtua terkekeh pelan mendengar celotehan Kei yang mengatakan adiknya sedang salto-salto di dalam perut Lili. Sedangkan Lili hanya mendelikkan matanya tak terima. Lili pun langsung mengajak Kei duduk agar tak dikatai kembali.


"Duduk, Kei. Mending kita makan jagung bakar ini dibandingkan ngatain adikmu lagi salto-salto" ucap Lili membuat Kei menganggukkan kepalanya mengerti.

__ADS_1


"Ini dimana cala matanna, mama? Talo tayak mama dididit ditu, ya Kei ndak bica. Mulut Kei tecil ini" ucap Kei yang kebingungan saat akan makan jagung bakar.


"Biar mama yang lepaskan jagungnya dikit-dikit" ucap Lili sambil melepaskan butiran jagung satu-satu kemudian menyuapkannya pada Kei.


Keduanya makan bersama dengan satu jagung yang sama. Lili menyuapi Kei dengan telaten karena perempuan itu takut anaknya tersedak. Apalagi ini baru pertama kalinya Kei makan jagung seperti ini.


"Nenak, mama. Apu tayak ada gocong-gocongna dan pait ditu" ucap Kei mengomentari apa yang dimakannya itu.


"Itu bekas bakarannya, Kei. Yang penting enak sih ini, bisa dimakan sama kamu" ucap Lili.


Kei menganggukkan kepalanya. Mereka semua akhirnya makan bersama dengan suasana penuh canda. Tanpa kehadiran Aldo yang ternyata tidur di kampus bersama dengan dosen-dosen lainnya. Bahkan Aldo sampai lupa kalau ia seharian ini belum makan.


***


"Astaga... Ini perut kenapa perih sekali" gumam Aldo saat ia terbangun dari tidurnya.


"Pak Aldo, Pak Sandy... Ayo pada bangun dan sholat shubuh dulu. Kita juga nanti makan sama-sama, sudah disiapkan oleh pihak kampus" seru Pak Deden yang mengetuk pintu ruangan Aldo.


"Iya, pak. Kami akan menyusul" seru Aldo.


Mendengar suara langkah kaki menjauh, Aldo segera membangunkan Sandy. Setelah Sandy bangun, ia langsung keluar dari ruangannya diikuti oleh rekannya. Badan mereka terasa remuk apalago tidur dalam kondisi duduk.


***


"Terimakasih bapak, ibu sekalian yang sudah mengerjakan laporan sampai lembur bahkan menginap di kampus ini. Semoga apa yang kita kerjakan ini mendapatkan hasil yang terbaik" ucap Pak Sandy selaku ketua dari tim akreditasi.

__ADS_1


"Kalian boleh pulang untuk istirahat dan membersihkan diri. Untuk saya dan tim inti dimohon untuk membersihkan diri di kampus saja karena nanti siang sehabis jam 12 langsung berkumpul di aula. Kita akan menyambut tim akreditas dari lembaga yang bersangkutan" lanjutnya.


Aldo langsung saja pergi kemudian bersiap pulang. Badannya sudah terasa remuk. Beruntung sekali dia tak ikut dalam tim inti, bisa-bisa ia tak pulang berhari-hari. Aldo berjalan gontai kearah parkiran mobilnya dengan kampus yang sudah mulai ramai oleh mahasiswa.


"Ke sekolahnya Kei dulu aja kali ya? Sekali-kali nungguin dia di sekolah" gumam Aldo yang berencana menemui Kei.


Aldo pun langsung masuk mobilnya kemudian melajukannya ke sekolah Kei. Hanya butuh waktu 5 menit saja untuk sampai sekolah anaknya itu. Ia sedikit menunggu Kei datang karena memang hari masihlah pagi.


"Mana tuh, Kei? Apa jangan-jangan dia mau bolos lagi?" gumamnya sambil mengedarkan pandangannya kearah semua area sekolah.


Aldo terus saja melihat kearah jam tangannya. Waktu kurang 5 menit lagi sebelum bel sekolah berbunyi. Namun Kei sama sekali belum kelihatan batang hidungnya. Tak berapa lama, Kei datang bersama Lili dan Mama Nei dengan langkah riangnya. Itu membuat Aldo tersenyum lega.


"Kei..." seru Aldo memanggil anaknya.


Sontak saja Kei, Lili, dan Mama Nei langsung melihat kearah seseorang yang memanggilnya. Ternyata itu adalah papanya sendiri. Kei pun langsung melepaskan genggaman tangannya dari Lili dan Mama Nei kemudian berlari kearah papanya.


"Papa..." seru Kei yang kini sudah berada di pelukan Aldo.


"Papa napa ndak pulan cemalam? Nebelin cekali. Tita cemalam peta batal-batal cocis cama dading lho, papa" ucap Kei yang protes akan ketidakhadiran papanya.


"Kalian pesta? Bakar-bakar sosis?" tanya Aldo setelah melepaskan pelukannya dari Kei.


Aldo mengernyitkan dahinya heran. Pasalnya ia sama sekali tidak tahu mengenai acara pesta semalam. Ia menatap kearah Lili dan Mama Nei yang langsung membuang muka. Aldo sepertinya harus menginterogasi keduanya karena saat ini Kei sudah terlambat.


"Kei buruan sana ke kelas. Udah terlambat lho kamu, bisa dihukum guru" suruh Mama Nei pada cucunya itu.

__ADS_1


Kei langsung menepuk dahinya pelan. Kei segera mencium pipi dan memeluk papa juga mamanya kemudian berlalu pergi dari hadapan keluarganya. Sedangkan Lili hanya tersenyum melihat wajah Aldo yang terlihat kesal pada mereka.


"Jadi semalam pada pesta? Saat nggak ada aku" tanya Aldo dengan sinisnya.


__ADS_2