Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Sedih


__ADS_3

Setelah dimandikan oleh papanya, Kei terus saja merengek untuk bertemu Lili. Bahkan ia tak mau melanjutkan sarapannya dan berangkat sekolah jika tidak bertemu dengan Lili dahulu. Aldo bingung karena nanti pasti Kei takkan pergi ke sekolah kalau melihat kondisi Lili.


"Lebih baik Kei berangkat sekolah dulu baru nanti ketemu mamanya. Mama hari ini nggak ke rumah sakit kok, jadi bisa seharian sama kamu" ucap Aldo mencoba membujuk anaknya.


"Ish... Kei cuma mau lihat mama cebental. Cuma liat doang lho, ndak dandu mama bobok" ucap Kei yang kekeh dengan keputusannya.


Larangan dari Aldo, oma, dan opanya untuk bertemu Lili membuat Kei sedikit curiga. Ia curiga kalau terjadi sesuatu pada mamanya. Pasalnya Lili juga tak keluar sama sekali untuk sarapan. Padahal walaupun pulang malam, Lili selalu menyempatkan waktunya untuk bangun pagi dan sarapan bersama.


Bahkan kini Kei langsung melompat dari kursinya kemudian berlari menuju kamar mamanya. Aldo dan kedua orangtuanya seketika terkejut dengan aksi Kei itu. Ingin marah namun bocah kecil itu sudah berlari pergi.


"Susul, Al. Masa iya anakmu kau biarkan naik tangga sendirian" titah Papa Tito yang ikut berdiri.


Aldo dan Mama Nei juga langsung berlari menyusul Papa Tito juga Kei. Mereka melihat jika Kei sudah menaiki tangga dengan digendong oleh salah satu maid. Mereka menghela nafasnya lega karena ada orang dewasa yang mendampingi bocah cilik itu.


***


"Huaaaaa...."


Suara tangisan menggema di kamar milik Lili dan Aldo. Saat Kei memasuki kamar orangtuanya itu, ia sudah dilihatkan pemandangan wajah Lili yang lebam. Bahkan kedua pipinya sedikit bengkak akibat tamparan tadi malam.


"Mama napa?" tanya Kei di sela isak tangisnya.


"Mamanya Kei sedang sakit. Makanya jangan diganggu dulu ya" ucap maid itu sambil mengusap lembut punggung Kei.


"Napa pada ndak bilan talo mama cakit. Cemuana malah pada cembuniin dali Kei" ucap Kei yang protes.


Maid yang menemani Kei itu hanya diam saja. Ia saja tak tahu kalau majikannya ingin menyembunyikan kondisi Lili. Ia juga sedikit khawatir karena membantu Kei menuju kamar majikannya malah membuat dia dipecat.

__ADS_1


"Berikan Kei pada saya" ucap Aldo yang baru saja datang dari belakang keduanya.


"Eh..."


Ucapan tiba-tiba dari Aldo itu membuat maid itu terkejut. Ia segera menormalkan ekspresinya kemudian menyerahkan Kei pada Aldo. Setelahnya ia memilih pamit undur diri karena melihat wajah Aldo yang sedikit galak.


"Papa dahat. Cembuniin ini cemua dali Kei" protes Kei pada papanya.


"Papa nggak sembunyiin ini semua dari Kei. Kan tadi papa bilang kalau mama masih tidur makanya jangan diganggu dulu" ucap Aldo memberi alasan.


"Cama caja. Malah culuh Kei cekolah padahal mama ladi cakit" ucap Kei yang masih tetap protes dengan apa yang dilakukan oldh papanya itu.


Aldo hanya bisa menghela nafasnya pasrah saja karena terus disalahkan anaknya. Aldo membawa Kei duduk di atas ranjang. Di sana Lili masih tertidur dengan pulasnya padahal sedari tadi ada suara berisik.


"Mama emam" ucap Kei yang tangannya memegang kening Lili.


"Nggak papa. Mama pasti baik-baik saja. Papa kan dokter hebat. Pasti bisa menyembuhkan mama" ucap Mama Nei mencoba menenangkan Kei.


Tak berapa lama, Aldo datang dengan sebuah tas hitam bersisi peralatan medis. Mama Nei menggendong Kei untuk menjauh dari Lili. Aldo memeriksa Lili dengan telaten dan segera menyuntikkan sesuatu pada pergelangan tangan istrinya.


"Semoga saja dengan ini demamnya langsung turun" ucap Aldo yang juga memasang infus pada Lili.


Ia akan terus memantau keadaan Lili sampai wanita itu sembuh. Ia akan menghubungi kedua orangtua Lili agar bisa datang ke sini. Setidaknya mereka harus mengetahui bagaimana kondisi anaknya.


"Mungkin dia masih shock dengan keadaan semalam sampai demam seperti ini" ucap Papa Tito.


"Iya, pa. Aku harus buat perhitungan sama orang itu" ucap Aldo dengan mengepalkan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Apa yang teljadi cemalam? Mama tenapa?" tanya Kei yang sudah menghentikan tangisannya.


"Mama hanya jatuh saja" ucap Aldo memberi alasan.


Sebenarnya ia terkejut dengan anaknya yang tiba-tiba menanyakan tentang kejadian semalam. Aldo pikir Kei itu hanya melihat kearah Lili dan fokus di sana namun ternyata anaknya itu mendengarkan pembicaraan orang dewasa.


"Tapi napa papa mau buat pelhitunan cama olang? Pelhitunan itu tan adana di cekolah. Mata pelajalan matematita" ucap Kei.


"Oh... Itu papamu mau mengajar perhitungan matematika di kampus sama mahasiswanya" ucap Papa Tito memberikan alasan.


Aldo sempat bingung ingin menjawab apa sehingga memilih diam. Beruntung Papa Tito punya jawaban yang menurutnya masuk akal. Sedangkan Mama Nei langsung saja mendekati Lili dan mengajak Kei. Beliau tak ingin cucunya itu bertanya macam-macam.


"Kei, sekolah dulu yuk. Masa kemarin sudah bolos sekolah dan sekarang nggak berangkat lagi" ucap Aldo membujuk anaknya agar mau sekolah.


"Ndak mau. Kei mau daga mama caja. Kei ndak atan bialin ciapapun nakitin mama. Kei duga lagi cedih talna mama ndak angun-angun ini" ucap Kei dengan tatapan sendunya.


"Biarkan saja Kei tak berangkat. Lagi pula dia anak yang cerdas. Nanti biar mama saja yang ajarin di sini tentang pelajarannya sambil jaga Lili" ucap Mama Nei membela cucunya itu.


Aldo hanya bisa mendengus kesal. Pasalnya ia akan membahas dan mengajak ngobrol Lili saat bangun nanti. Kalau ada anaknya, ia takkan bisa membahas masalah ini dengan Lili. Namun ya sudahlah, Aldo pasrah dan kemudian mengajak keluar papanya.


***


"Oma, napa cih mama cakit-cakit telus? Nih lho tananna ditucuk-tucuk jalum ladi" ucap Kei sambil menunjuk pada pergelangan tangan Lili yang terpasang infus.


"Kalau sakit itu berarti sedang diuji sama Tuhan. Anggap saja ini peringatan agar kita senantiasa jaga kesehatan dan berserah diri sama Tuhan" ucap Mama Nei.


Kei hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia merebahkan badannya di samping sang mama kemudian memeluknya erat. Mama Nei mengelus lembut punggung Kei yang terlihat sedikit bergetar. Ia yakin kalau cucunya itu begitu sedih karena melihat mamanya berulangkali sakit.

__ADS_1


"Semoga setelah ini nggak ada lagi yang nyakitin kamu, Li. Kamu harus bahagia bersama Kei, Aldo, dan kita semua. Lagian orang yang menculikmu itu hanya kurang kerjaan saja atau mungkin terobsesi dengan kecantikanmu" gumam Mama Nei yang sebenarnya juga geram dengan pegawai rumah sakit Aldo itu.


__ADS_2