Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Takut


__ADS_3

"Lili, kamu kenapa? Kok kaya takut gitu. Apa ada setan di luar? Tapi ini kan belum malam, masa ada setan" ucap Mama Ningrum dengan panik.


Bahkan kini Mama Ningrum yang sudah berada di hadapan Lili itu langsung dipeluk oleh gadis itu. Lili sama sekali tak menjawab pertanyaan dari mamanya namun malah memeluk Mama Ningrum dengan erat. Ketakutannya pada ucapan Aldo itu seakan membuatnya kalang kabut.


"Lili takut, ma" ucap Lili lirih.


"Takut kenapa? Ada setan atau seseorang yang menyakiti kamu?" tanya Mama Ningrum.


Lili hanya menggelengkan kepalanya dalam pelukan sang mama. Tentu saja bukan dua alasan itu yang membuatnya ketakutan seperti itu. Lili langsung melepas pelukannya dari Mama Ningrum yang kini kebingungan.


"Hah... Lili dilamar sama pak duda. Kayanya tuh pak duda kesambet setan di jalan deh. Lili takut setelah mendengar ucapan dari pak duda itu" seru Lili membuat mamanya terkejut.


Seruan yang benar-benar membuatnya terkejut. Mama Ningrum tak menyangka kalau anaknya akan dilamar beneran oleh duda itu. Namun jangan harap semuanya berjalan dengan mudah karena Papa Dedi yang belum bisa menerima kehadiran Aldo.


"Siapa yang dilamar?" seru Papa Dedi yang tiba-tiba saja masuk dalam rumah.


Papa Dedi yang baru saja pulang dari bekerja dan mendengar obrolan keduanya dengan samar-samar itupun langsung bertanya. Ia masih belum rela jika anak gadisnya menikah. Apalagi nanti laki-laki yang menikahinya tak jelas.


Mama Ningrum dan Lili yang mendengar suara dari Papa Dedi pun langsung mengalihkan pandangannya. Lili langsung merentangkan kedua tangannya bak anak kecil membuat Papa Dedi langsung mendekat kearahnya. Papa Dedi langsung memeluk Lili dengan eratnya.


"Jadi siapa yang mau dilamar?" tanya Papa Dedi mengulangnya.


"Lili, pa. Lili mau di lamar sama pak duda. Masa iya mama yang dilamar, bisa langsung adu tonjok entar" ucap Mama Ningrum.

__ADS_1


Papa Dedi yang mendengar hal itu langsung saja membawa anaknya menuju ruang keluarga. Ia harus memastikan kebingungannya itu agar tak timbul salah paham. Mereka bertiga kini duduk di ruang keluarga dengan Lili yang bergelayut manja pasa lengan tangan papanya.


"Dih... Dah kuliah juga, masih manja-manjaan sama papa" julid Mama Ningrum pada tingkah anaknya itu.


"Biarinlah. Mama iri ya karena papa manjain aku" ledek Lili.


Mama Ningrum hanya mencebikkan bibirnya kesal dengan apa yang diucapkan anaknya itu. Sedangkan Papa Dedi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat mereka memperebutkan dirinya. Papa Dedi mengelus lembut rambut panjang anaknya itu.


"Ini yang mau melamar Lili itu siapa? Pak duda? Itu namanya atau memang statusnya yang duda" tanya Papa Dedi mencoba memperjelas semuanya.


"Itu si Aldo. Dia kan duda, nah yang melamar Lili itu ya si Aldo itu" ucap Mama Ningrum memperjelas semuanya.


Papa Dedi yang mendengar ucapan dari istrinya itu langsung melotot tak terima. Ia sedikit tak terima jika anaknya menikah dengan laki-laki itu. Seorang laki-laki yang ucapannya begitu pedas dan mempersulit kuliah anaknya. Apalagi waktu itu sudah merendahkan harga diri keluarganya.


"Tapi pa, walaupun begitu dia itu bibit unggul lho. Kerjaan ada, harta mapan, masa depan terjamin tujuh turunan sepuluh tanjakan, dan wajah tampan. Minusnya ya itu, kalau ngomong nyinyir" ucap Mama Ningrum yang memuji Aldo kemudian menjatuhkannya.


"Papa masih bisa bantu kalau masalah keuangan keluarga mereka. Yang penting itu, si laki-laki tidak suka main tangan atau menyakiti hati anakku. Seumur hidup papa takkan sudi jika anakku disakiti fisik dan hatinya. Itu juga berlaku bagi Aldo, dia sudah menuduh anakku sembarangan" ucap Papa Dedi dengan menggebu-gebu.


Lili begitu terharu dengan ucapan papanya itu. Ternyata memang benar jika Papa Dedi telah berubah menjadi sosok papa yang baik untuknya. Bahkan kini Lili langsung memeluk papanya dari samping dengan mata yang berkaca-kaca.


Bahkan Mama Ningrum juga merasakan kasih sayang yang besar dari Papa Dedi. Dulunya hubungan mereka hanya sebatas membahas pekerjaan saja, itu membuat keduanya tak harmonis. Apalagi setelah keduanya sibuk dan jarang bertemu.


"Papa, sebaiknya kita tanya dulu sama Aldo. Siapa tahu ini hanya salah paham atau bagaimana. Kita kan juga harus tahu kalau pernikahan bukan permainan. Jadi kita harus memastikan dulu keinginan Aldo itu benar atau tidak" ucap Mama Ningrum berusaha menenangkan suaminya.

__ADS_1


"Mama kenapa sih pakai bela terus Aldo itu dari tadi. Kalau memang mama mau Aldo menjadi menantu, ya sana. Tapi papa tidak akan pernah setuju" ucap Papa Dedi dengan tegas.


Bahkan kini Papa Dedi langsung beranjak dari duduknya. Melepaskan pelukan Lili dengan lembut kemudian pergi menuju kamarnya. Mama Ningrum yang ingin menjelaskan lebih seakan tak diberi waktu sama sekali. Lili yang mendengar perdebatan orangtuanya langsung meluruhkan bahunya lesu.


"Kita bahas nanti saja, kalau semuanya sudah tenang. Apalagi ini Pak Aldo juga belum pasti akan melamar Lili. Siapa tahu tadi ucapannya itu karena habis kesambet jin tomang" ucap Lili.


Mama Ningrum menganggukkan kepalanya mengerti. Ada sedikit rasa bersalah dalam hati Mama Ningrum karena kekeh dengan egonya sendiri. Apalagi mereka malah bertengkar di depan Lili. Akhirnya Lili juga ikut pergi dari ruang keluarga menuju kamarnya.


Sedangkan Mama Ningrum menyusul suaminya ke kamar karena ingin minta maaf. Ia tak ingin kalau sampai pertengkaran ini malah membuat hubungan mereka renggang lagi. Apalagi di depan Lili seharusnya mereka membicarakan semuanya dengan pikiran terbuka.


***


"Kesurupan demit apa aku ini? Sampai melamar mahasiswaku sendiri. Apa jangan-jangan ini hanya obsesiku saja atau karena Kei yang sefera menginginkan seorang ibu?" gumam Aldo yang bimbang dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Kini Aldo tengah rebahan di atas kasurnya dengan nyaman. Ia memikirkan dan memutar ulang kejadian siang tadi saat bersama Lili. Ia pun seakan tak sadar kalau apa yang diucapkannya ini malah seakan berpengaruh pada semuanya. Terutama jiwanya yang tanpa sadar mengeluarkan sisi lainnya.


"Papa, napa melamun?" tanya Kei tiba-tiba.


Kei yang sedari tadi berada di samping Aldo pun langsung bertanya pada papanya. Apalagi papanya itu terlihat seperti sedang berbicara sendiri. Tentu saja itu membuat Kei sedikit khawatir. Bahkan kini Aldo langsung tersentak kaget dan tersadar kalau disampingnya ada anaknya.


"Nggak papa, Kei. Papa hanya kangen sama mama Arlin" jawab Aldo dengan sedikit berbohong.


"Tangen cama Mama Alin tok adi nebut Ante Lili?" tanya Kei dengan serius.

__ADS_1


Deg...


__ADS_2