Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Ungkap Kembali


__ADS_3

"Lebih baik kalian istirahat di kamar. Pasti kalian sangat lelah karena mengurusi hal nggak penting seperti ini. Apalagi perusahaan sedang goyah karena berita ini, namun papa takkan membiarkan kalian kesusahan. Kalau tak ada yang mau bekerjasama dengan perusahaanmu, biar papa yang mengajukan proposal kesana" ucap Papa Tito dengan percaya dirinya.


Tentunya Papa Tito akan melakukan apapun untuk membantu anak dan menantunya itu. Terlebih hanya urusan bisnis, ia mempunyai banyak rekan yang terjun menjadi pengusaha yang bisa dimintainya pertolongan walaupun menggunakan namanya. Bahkan perusahaan rekannya itu sudah pada melejit dengan banyaknya cabang dimana-mana.


Arlin dan Aldo menganggukkan kepalanya mengerti dengan ucapan dari Papa Tito. Kei sudah masuk dalam gendongan Mama Nei dan memilih untuk tak mengikuti orangtuanya. Tadi ia dibisikkan sesuatu oleh omanya membuatnya tak mau mengikuti Arlin dan Aldo. Arlin dan Aldo pun membiarkannya selagi anaknya itu ada yang menjaga. Lagi pula mereka memang butuh istirahat yang banyak agar esok hari bisa menjalankan kegiatan seperti biasa.


Aldo mendorong kursi roda istrinya kemudian mereka pergi dari ruang keluarga. Wajah keduanya sedikit santai setelah mendengar ucapan dari Papa Tito. Arlin begitu bahagia karena keluarga Aldo ternyata sangat baik dan pengertian kepada menantunya yang dulu bahkan acuh kepada mereka.


"Pa, minta sama teman-temanmu itu untuk mengajukan proposal kerjasamanya ke perusahaan Arlin sesegera mungkin. Kasih mereka pengertian juga tentang kasus ini, pasti ada saja nanti ketidakpercayaan pengusaha apalagi beritanya viral lho" ucap Mama Nei memberi saran.


"Iya, tapi kalau yang nggak mau percaya ya sudah. Tinggalkan saja, biar mereka semua pada menyesal setelah tahu kalau yang terjadi ini salah" ucap Papa Tito.


Mama Nei menganggukkan kepalanya. Ia percaya pada suaminya yang takkan pernah meninggalkan anak dan menantunya saat kesusahan. Mama Nei langsung saja menggendong Kei masuk dalam kamarnya, meninggalkan Papa Tito yang sibuk dengan ponselnya. Sepertinya Papa Tito sedang menghubungi beberapa rekan kerjanya untuk membantu perusahaan Arlin.


***


"Kamu tak sedih kalau sampai membuat papa kandungmu sendiri masuk penjara?" tanya Aldo memastikan.


Aldo tak ingin jika nantinya Arlin malah menyesal karena sudah memenjarakan papa kandungnya. Sudah jelas kalau keduanya ada hubungan darah yang tak bisa diputus yang membuat Aldo harus benar-benar meyakinkan istrinya. Ia bukan laki-laki plin plan yang nantinya takkan pernah membiarkan siapapun mencabut tuntutan yang sudah dilayangkannya.

__ADS_1


"Tidak" jawab Arlin dengan penuh keyakinan.


"Lagian dia bukan papa kandungku, ngapain juga aku harus nggak yakin. Biar syukurin tuh si tua bangka di penjara, hidupku pasti akan lebih tenang. Lagian kalau memang dia papa kandungku, aku tak peduli toh dia sudah berbuat jahat sama anaknya" ucapnya melanjutkan dalam hati.


"Baiklah" ucap Aldo sambil menganggukkan kepalanya.


Dulunya Aldo tak mau sama sekali berurusan dengan keluarga Arlin karena khawatir kalau wanita itu akan marah kepadanya. Terlebih Arlin terlihat sayang kepada mereka walaupun harus memberikan banyak uang setiap bulannya pada keluarga itu. Hanya untuk sekedar menegurnya pun ia sungkan karena wanita itu begitu menjaga jarak darinya.


Setelah kehadiran Kei pun tak mengubah apapun dari Arlin membuat Aldo sempat frustasi. Terutama saat melihat istrinya itu kecelakaan dengan mantan kekasihnya, hatinya sungguh sakit. Mengenai kecelakaan itu, mereka belum mempunyai bukti apapun tentang siapa dalangnya.


"Arlin, kamu nggak lupa kan? Kalau kita masih harus cari bukti mengenai dalang kecelakaanmu waktu itu. Kamu kan waktu itu bilang pelakunya ibu tirimu, kita harus bisa membuktikan itu" ucap Aldo tiba-tiba.


"Apa disana tak ada CCTV?" tanya Arlin dengan tatapan penasaran.


"Mati" jawab Aldo.


Arlin menghela nafasnya kasar karena jawaban yang diberikan oleh Aldo itu. Sebelum meninggalkan tubuh Arlin asli, ia harus menyelesaikan masalah ini. Namun ia tak yakin bisa mengungkap dalang dari kecelakaan ini yang artinya akan susah bagi dirinya untuk kembali ke raga aslinya. Padahal saat nanti di raga aslinya, ia juga harus menyelesaikan banyak permasalahan dengan orangtua maupun kekasih dan sahabatnya.


"Apa mungkin ada permainan disini? Kalau sampai ada permainan dengan pihak berwajib sih bisa jadi kasus ini kembali besar. Mana yang tersangkut juga oknum besar kan?" ucap Arlin mengutarakan pikirannya.

__ADS_1


Ia menduga ada permainan besar disini sehingga kasus ini dengan mudah ditutup begitu saja. Padahal jelas-jelas mengakibatkan korbannya sampai koma dan mantan kekasih Arlin hilang. Tak mungkin juga mantan kekasih Arlin itu bisa hilang seperti ini kalau tak disembunyikan oleh seseorang.


Namun yang membuat aneh, jika memang keluarganya yang melakukan ini sudah pasti mereka akan kalah. Pasalnya kekuasaan keluarga Aldo lebih besar dibandingkan dengan Papa Madin dan Mama Irene. Sehingga jika ini nantinya terbongkar, pasti akan ada orang-orang besar didalamnya.


"Berarti kita nggak bisa melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib sebelum semua bukti ada di tangan. Kita sewa saja hacker dan detektif untuk mengungkap kasus ini. Setelah dapat bukti, kita jerat di kepolisian" ucap Aldo memberikan saran.


Arlin menganggukkan kepalanya mengerti dan setuju atas ide yang diutarakan oleh suaminya itu. Ia sangat beruntung karena orang-orang terdekat Arlin ini ternyata pintar dan selalu mendukungnya sehingga ia tak merasa sendirian. Arlin bahkan kini dengan refleks memeluk suaminya karena merasa bahagia.


"Terimakasih sudah menerimaku dan memaafkanku. Aku bahagia berada di keluarga yang begitu hangat dan saling menyayangi seperti ini. Semoga kelak kalian akan bahagia selamanya" ucap Arlin sambil tersenyum.


"Bukan hanya kami, tapi kamu juga harus bahagia" timpal Aldo.


Arlin hanya menganggukkan kepalanya agar Aldo tak merasa curiga dengan kalimat yang diucapkannya. Ia tak mau berharap lebih berada dalam posisi ini karena kehidupan ini bukanlah miliknya. Arlin masih tak menyangka kalau ternyata Aldo yang ketus dan menyebalkan di kampus ternyata bisa semanis ini jika di rumah.


Mereka masih terus berpelukan erat hingga tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka membuat keduanya melepas pelukan itu. Mereka mengalihkan pandangannya kearah pintu yang terbuka dengan tak adanya seseorang pun yang masuk.


"Mici... Mamap Kei anggu. Tuma mawu ilang talo diculuh mandi cama oma tlus anti cegela ke luang matan" ucap Kei dengan melongokkan kepalanya masuk dalam kamar orangtuanya.


Aldo dan Arlin tertawa mendengar ucapan dan melihat tingkah laku dari Kei. Sungguh lucu, bahkan hanya terlihat kepalanya saja dengan mata terus berkedip.

__ADS_1


__ADS_2