Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Permintaan Maaf 3


__ADS_3

Arlin tersenyum miring melihat kegugupan yang diperlihatkan oleh Papa Madin dan Mama Irene. Bahkan saat pengacara Aldo dan Arlin yang tak lain adalah Pak Lion telah menyerahkan sebuah surat salinan somasi yang dibuat untuk keduanya dihadapan mereka, tambah pucatlah wajahnya itu. Tentu saja Pak Lion berusaha menekan agar keduanya segera jujur dihadapan semua orang karena pihak kepolisian kini sudah mengepung gedung ini.


Bukan tanpa alasan gedung ini dikepung oleh pihak berwajib, hal ini dikarenakan banyaknya massa yang begitu antusias. Mereka pun baru saja datang karena tadi ada awak media yang menginformasikan tentang kejadian ini. Tentunya kerumunan ini tidak ada ijin sehingga pihak yang berwajib tak mengetahuinya.


"Baiklah karena kedua orang ini mendadak bisu. Saya yang akan membacakan surat somasi yang dilayangkan oleh client saya" ucap Pak Lion memutuskan.


Ia sudah kesal sedari tadi menunggu lama untuk mendengar pengakuan dan kelanjutan dari surat somasi ini. Namun saat sampai disini, justru lawannya itu malah terdiam seakan tak berniat untuk melanjutkan ucapannya. Padahal saat tadi dirinya berada didalam mobil, ia bisa mendengar sendiri bagaimana kedua orang itu sedang bersandiwara dengan hebatnya.


"Hmm... Jadi client saya yang bernama Nyonya Arlin ini melayangkan somasi ini kemarin siang. Beliau ini merasa tak terima dengan video viral mengenai kehidupan Tuan Madin. Memang benar, kalau Nyonya Arlin ini mengusir papa kandung dan ibu tirinya itu dari rumah peninggalan almarhumah mamanya" ucapnya.


Mereka semua mendengarkan ini dengan seksama, bahkan tak ada yang bersuara. Sedangkan Papa Madin dan Mama Irene sudah memejamkan matanya kemudian saling bersenggolan seakan sedang memberi sebuah kode. Tentunya hal ini tak luput dari pandangan Arlin dan Aldo yang hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Tuh... Benar kan apa cerita saya kalau memang anakku itu mengusir kami dari rumahnya" ucap Papa Madin tiba-tiba memotong ucapan dari Pak Lion.


Tentunya semuanya juga ikut terpancing bahkan kini tak segan-segan ada massa yang ingin merangsek kedepan. Tentunya pihak yang berwajib langsung saja menahannya dan berusaha untuk meredam semua emosi dari massa yang hadir. Mereka pun diam setelah diancam akan dipidanakan membuat Papa Madin hanya bisa menghela nafasnya gusar.

__ADS_1


"Diam dulu. Beliau itu masih ada yang ingin diucapkan" seru salah satu pihak berwajib.


"Huft... Jadi begini, saya tak mau bertele-tele lagi daripada nanti dipotong terus ucapannya. Jadi isi video yang viral itu tidak benar. Yang benar hanya Tuan Madin dan Nyonya Irene itu diusir dari rumah itu karena sudah tidak ada hak disana. Itu rumah hasil kerja keras dari mendiang ibu Nyonya Arlin, jadi tak sepantasnya yang sudah cerai mati masih tinggal disana. Apalagi Tuan Madin hanya selang beberapa hari setelah meninggalnya sang istri langsung menikah dengan Nyonya Irene. Kalian bisa menyimpulkan sendiri bukan kelakuan Tuan Madin itu?" ucap Pak Lion dengan menggebu-gebu.


Sontak saja pernyataan yang dilayangkan oleh Pak Lion itu langsung disambut riuh oleh beberapa orang disana. Bahkan para awak media yang sedari tadi diam saja langsung berdiri menatap tak percaya kearah semua ini. Tentu saja melihat reaksi beberapa orang didepannya ini membuat Papa Madin dan Mama Irene merasa terintimidasi.


Apalagi Arlin sudah menampilkan senyuman sinisnya karena sebentar lagi keadaan akan segera berbalik. Biarkan saja mereka yang kemarin menghina dan meremehkannya tertampar oleh semua kenyataan ini. Bahkan mungkin rekan kerjanya yang akan berbondong-bondong kembali ingin menjalin kerjasama dengannya dengan menampilkan wajah tak tahu malunya.


Tentunya Arlin yang tegas dalam kepemimpinan perusahaannya kali ini, tidak akan pernah membiarkan orang-orang bermuka dua itu mendekatinya. Ia akan langsung menghempaskannya bahkan seumur hidup perusahaan itu berdiri, tak boleh bekerjasama dengan mantan clientnya yang bermuka dua itu.


Sepertinya ini ungkapan perasaan Arlin asli sehingga dirinya bisa merasakan sesak dan matanya memanas. Bahkan dengan suara serak dan mata berkaca-kaca, ia mengingat bagaimana senyum mama kandungnya itu. Aldo yang berada disampingnya langsung saja mengelus bahu bergetar dari Arlin.


Tentunya fakta mengenai Mama Irene yang merupakan ibu tiri dari Arlin pun langsung membuat riuh. Ada beberapa ibu-ibu yang ingin melempar telur kearah Mama Irene namun diberi kode oleh Pak Lion dengan mengangkat tangannya agar berhenti dulu. Mereka masih mau mengungkapkan fakta-fakta sebenarnya.


"Mereka ini sekarang tinggal di rumah sederhana yang ada di Jl Harso kalau tidak salah. Rumah itu dibeli dari hasil penjualan barang-barang yang ada di rumah ibu dari Nyonya Arlin. Jadi mereka itu tak tinggal didekat pembuangan sampah itu, kalian semua dibohongi. Oh ya... Jangan lupa, tujuan mereka membuat isue ini adalah biar nama Arlin jelek dan keduanya bisa dapat uang dari donasi. Ha yo... Siapa kemarin yang buka donasi? Selamat karena kalian ditipu, mereka tak semiskin itu. Bahkan mungkin hasil penjualan barang-barang itu lebih dari 1 M" ucap Pak Lion sambil terkekeh.

__ADS_1


Benar saja, setelah mendengar ucapan dari Pak Lion itu semuanya berbondong-bondong untuk merangsek masuk dalam area buat awak media. Mereka geram karena merasa ditipu dengan cerita palsu dan air mata buaya yang diperlihatkan oleh Mama Irene dan Papa Madin. Bahkan beberapa awak media kesal karena donasi yang seharusnya untuk membantu kalangan bawah malah jadinya ditipu seperti ini.


"Ganti rugi".


"Ganti semua hasil donasi kami".


"Dasar tak punya malu. Main memfitnah orang sembarangan".


"Penjarakan saja dia".


Mama Irene dan Papa Madin tentunya panik karena tiba-tiba saja beberapa orang berhasil maju kedepan. Para pihak berwajib kuwalahan karena jumlah massa yang berkali-kali lipat. Bahkan yang tadinya hanya melihat tayangan di TV saja, langsung berbondong-bondong ke tempat konferensi pers.


Mereka tak menduga jika kejadiannya akan semakin ricuh seperti ini. Arlin langsung diamankan oleh Aldo dan Pak Lion agar bisa menghindar dari kerumunan massa. Mereka harus segera pergi dari sana sebelum nantinya kemarahan mereka berakibat buruk pada kondisi Arlin.


Kini Papa Madin dan Mama Irene kebingungan karena saat akan berlari pergi malah langsung dilempari telur membuat tujuannya terhambat. Apalagi mereka kini sudah dikepung massa yang seakan ingin memangsanya hidup-hidup.

__ADS_1


__ADS_2