
Ucapan Arlin kemarin tak serta merta hilang dari pikiran Aldo. Ia yang bukan anak kecil lagi tentu mempunyai pikiran lain tentang maksud dari ucapan istrinya itu. Ia merasa kalau sebentar lagi Arlin akan meninggalkannya. Bahkan bisa jadi kalau Arlin akan membuatnya shock karena kejadian yang tak terduga. Bahkan kini saat dirinya duduk di ruang dosen yang ada di kampus pun ia hanya terdiam sambil menatap kearah depan.
Pikirannya kosong bahkan terlihat tak bersemangat dalam mengerjakan semua pekerjaannya. Ia merasa setiap detik dan menitnya selalu saja dihantui rasa takut juga khawatir akan kehilangan istrinya. Bahkan kini semua tugas mahasiswanya hanya ia anggurkan sambil dijadikannya bantal kepalanya.
"Awas saja kalau kau sampai meninggalkanku dan Kei. Aku takkan membiarkannya" gumam Aldo sambil mengepalkan kedua tangannya.
Ia terpaksa harus meninggalkan Kei dan Arlin di mansion karena hari ini dirinya harus menghadiri rapat pemilihan rektor baru di kampus. Ia tak mungkin membawa keduanya karena rapat ini pasti akan berlangsung sangat lama. Lagi pula Arlin kini tengah belajar mengurus perusahaan kepada Papa Tito.
"Pak Aldo, ayo kita ke ruang rapat segera" seru dosen lain sambil mengetuk pintu ruangan Aldo.
"Iya, duluan saja" ucap Aldo dari dalam.
Dosen itu pun segera saja pergi berlalu setelah mendengar jawaban dari Aldo. Aldo memejamkan matanya sambil terus menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya. Ia segera saja berdiri dari duduknya kemudian pergi berlalu dari ruangannya setelah berhasil menenangkan diri.
***
"Pa, kalau yang ini bagaimana? Kenapa ini bisa nggak seimbang, sudah aku hitung berulangkali tapi tetap tidak sama" ucap Arlin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sedari tadi, ia sudah mencoba untuk mempelajari semua berkas yang ada didepannya. Namun saat sudah bertemu dengan laporan keuangan selalu saja pikirannya buntu. Terlebih sedari tadi banyak transaksi janggal selama satu tahun terakhir. Ini juga akibat dari laporan yang dikirim Pak Cipto selalu berbeda dengan file dari Divisi Keuangan. Sampai saat ini pun Pak Cipto belum bisa dihubungi membuatnya semakin pusing.
"Coba kamu cek pengeluaran dan pemasukannya sudah kamu masukin semua belum. Soalnya ini papa juga pusing kenapa bisa file yang diberikan oleh divisi keuangan dan yang didapat Aldo bisa berbeda seperti ini" ucap Papa Tito kesal.
__ADS_1
Walaupun Papa Tito seorang dokter, namun mengenai hal seperti ini ia juga mengerti dan paham. Pasalnya semua laporan tentang administrasi di rumah sakit yang dibangunnya itu selalu dipantau olehnya. Walaupun ia sendiri sebenarnya jarang ke rumah sakit karena sibuk liburan. Namun beruntungnya ia mempunyai orang kepercayaan yang bertanggungjawab.
"Apa kita ke rumah itu Pak Cipto, pa? Bukannya semua fasilitas rumah dan mobil itu diberikan oleh perusahaan karena apresiasi kinerjanya. Tapi ini kan kita mencurigai dia melakukan kecurangan, sebelum dia kabur nantinya lebih baik kita lihat kesana dulu" ucap Arlin memberikan ide.
"Mama setuju sama ide Arlin. Kalau bisa kita sita semua barang-barang dan rumah itu dulu" ucap Mama Nei dengan semangat.
Papa Tito terlihat terdiam mendengar saran dari dua wanita yang berharga dalam keluarganya ini. Akhirnya Papa Tito menganggukkan kepalanya menyetujui setelah menimbang-nimbang. Setelahnya semua bersiap didalam kamar begitu pula dengan Kei yang sangat semangat.
"Kei, mau adi polici bial bica indungin mama dan nek" ucap Kei dengan semangat.
"Lho... Katanya mau jadi pengusaha buat nerusin perusahaan mama" ucap Arlin dengan tatapan heran.
"Iya, duwa. Mau adi pengucaha dan polici" ucap Kei meralat ucapannya.
Arlin segera menggandeng tangan mungil Kei untuk berjalan keluar dari kamar. Ia juga menggerakkan sebelah tangannya untuk melajukan kursi rodanya. Terlihat disana Mama Nei dan Papa Tito sudah siap dengan setelan formalnya.
"Apa kalian sudah siap menghancurkan image si Cipto itu?" tanya Papa Tito dengan senyum menyeringai.
"Siap dong. Kalau perlu hancurkan juga rumah pencuri itu" ucap Mama Nei dengan antusias.
"Angan di hanculkan don, nek. Tan bica dicewatan, bial apat wuwang" ucap Kei memberi ide.
__ADS_1
Tentunya Arlin menyetujui ide yang meluncur dari bibir mungil anaknya. Terlebih saat ini memang dirinya membutuhkan uang banyak untuk mengganti rugi sesuatu yang diambil oleh Cipto dan Papa Madin. Beruntung kemarin saat meminta uang lagi ke perusahaan itu bisa dicegah.
Bahkan kini Papa Tito dan Aldo langsung menyewa bodyguard untuk mengamankan perusahaan agar Papa Madin dan keluarganya tak bisa masuk kesana. Arlin hanya tak mau kalau sampai nantinya terjadi keributan jika mereka semua datang ke perusahaannya.
Mobil yang dikendarai mereka berempat sudah melaju ke alamat tujuan yang diberikan oleh kepala HRD. Tak berapa lama, mobil berhenti di sebuah lokasi perumahan khusus untuk petinggi perusahaan. Mereka segera turun dari mobil setelah memastikan nomor rumah yang dituju.
"Pa, itu kan ada mobil kantor di halaman terus jendela juga terbuka. Berarti Pak Cipto dan keluarganya ada di rumah dong? Bukannya ia ijin sama kepala HRD itu cuti untuk liburan ke luar negeri bersama keluarganya" ucap Arlin dengan tatapan bertanya.
"Kita langsung cek saja. Mungkin saja ini alibi untuk dia menyiapkan alasan jika ketemu kamu dan Aldo. Apalagi katanya kan dia dekat dengan papamu, bisa saja dia diberitahu mengenai kehadiranmu di kantor" ucap Papa Tito.
Arlin menganggukkan kepalanya paham kemudian mereka turun dari mobil. Arlin langsung didorong kursi rodanya oleh Mama Nei sedangkan Papa Tito menggandeng tangan Kei. Lingkungan disini memang begitu sejuk karena setiap rumah sudah diberikan tanaman begitu pula dengan tepi jalannya.
"Permisi..." seru Papa Tito sambil terus memencet bel yang ada di rumah itu.
Tak berapa lama ada seorang ART yang membuka pintu. Ia menatap bingung kearah orang-orang didepannya yang belum pernah ia temui itu.
"Permisi bu, kami mau bertemu dengan Pak Cipto? Apa beliau ada di rumah?" tanya Arlin dengan senyum ramahnya.
"Oh... Ada nyonya, tuan. Pak Ciptonya ada di rumah, silahkan masuk dulu biar saya panggilkan" ucap ART itu dengan ramah.
"Kami tunggu disini saja karena tak lama" ucap Papa Tito.
__ADS_1
Akhirnya ART itu langsung saja berjalan masuk lagi ke dalam rumah meninggalkan Arlin dan keluarganya. Arlin menatap sekitar rumah yang tampak biasa saja bahkan tak ada penerangan tambahan seperti yang lainnya. Bahkan cat dinding yang telah pudar pun dibiarkan saja.