
"Arlin, kenapa kamu pergi kesini nggak bilang-bilang sama aku?" ucap Aldo dengan sedikit menaikkan intonasi suaranya.
Arlin yang masih shock dengan kejadian yang menimpa Kei bertambah terkejut dengan suara Aldo yang meninggi. Ia semakin merasa bersalah karena memang semua kejadian ini berawal dari dirinya. Ia yang nekat datang ke kampus tanpa ijin dari suaminya yang tentu tak tahu apa yang dilakukannya.
Terlebih ia nekat untuk mendekat di kandang singa yang notabene bisa menerkamnya kapanpun itu. Mungkin Rio dan Nada sudah curiga dengannya yang selalu sering bertemu. Apalagi setiap bertemu, Arlin selalu memperhatikan keduanya dan diam-diam menguping pembicaraan mereka. Tentunya hal ini bisa membahayakan apa yang sudah direncanakan oleh keduanya.
"Maaf" ucap Arlin lirih sambil menundukkan kepalanya.
Ia tak mampu melihat kearah suaminya karena takut. Aldo yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kasar. Ternyata perubahan yang dilakukan oleh istrinya ini malah membuatnya sering khawatir. Kalau dulunya ia khawatir karena karir modelling Arlin, sekarang ia memikirkan tentang banyaknya masalah yang ada.
Aldo yakin kalau istrinya itu sedang melakukan sesuatu untuk memecahkan semua permasalahannya sendiri. Apalagi kini ia sudah bisa berjalan walaupun masih tertatih-tatih. Semakin seperti sudah mandiri saja Arlin kalau seperti ini.
"Pulang, kita bicarakan semua ini di rumah. Aku tak mau permasalahan ini sampai membuat semua orang yang ada disini tahu" ucap Aldo dengan nada datarnya.
Aldo langsung mengambil Kei yang kini tertidur masuk dalam gendongannya. Aldo pun segera pergi meninggalkan Arlin yang yang tak mungkin bisa mengejarnya bersama dengan sopir keluarganya. Sang sopir hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan keduanya itu bahkan keduanya tak menyadari banyak orang yang melihat.
"Ayo non, kita susul Tuan Aldo. Duduklah di kursi roda biar saya yang dorong" ucap sopir itu mengajak Arlin segera pergi.
Arlin hanya menganggukkan kepalanya sekilas kemudian berjalan pelan kearah kursi roda miliknya. Sopir itu segera mendorong kursi roda Arlin setelah melihat majikannya telah duduk. Tentunya Aldo harus meninggalkan pekerjaannya di kampus demi menyelesaikan permasalahannya dengan sang istri.
__ADS_1
***
Mobil yang dikendarai oleh sang sopir sudah berhenti di halaman mansion milik Aldo. Bahkan Aldo juga meninggalkan mobilnya di kampus karena khawatir kalau nanti istrinya malah kabur dan menghindari dirinya. Segera saja mereka semua turun dengan Aldo yang langsung meninggalkan istrinya itu.
Arlin yang melihatnya hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia tak menyangka kalau perbuatannya malah membuat hubungannya dengan sang suami memanas. Padahal tadi ia sama sekali tak menunjukkan gerak-gerik mencurigakan pada Rio dan Nada mengenai dirinya yang menguping permbicaraan keduanya.
Sambil berjalan masuk dalam rumahnya, Arlin berusaha berpikir mengenai alasan apa yang akan digunakannya nanti. Tak mungkin ia membeberkan semua keinginannya ini kepada Aldo. Yang ada nanti malah membuat semuanya ribet.
"Sekarang jelaskan padaku, kenapa kau pergi tanpa ijin dariku? Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan disana?" ucap Aldo dengan nada datarnya.
Kebetulan sekali kalau kedua orangtua Aldo kini tengah pergi ke rumah sakit milik Papa Tito. Sehingga permasalahan ini tak sampai terdengar ditelinga mereka. Sedangkan Kei sendiri sudah ia letakkan dalam kamarnya dengan salah satu maid yang menjaganya.
"Aku hanya ingin membantu temanku yang waktu itu terbaring di rumah sakit. Kecelakaan yang menimpanya itu seperti bukan murni. Ada yanh seperti sengaja ingin mencelakainya" ucap Arlin dengan sedikit bumbu kebohongan.
"Kau tahu? Ini berbahaya. Apalagi kamu belum tahu sifat-sifat orang yang kamu curigai berkaitan dengan kecelakaan itu. Kalau kamu memang ingin menyelidiki semuanya, harusnya kau tak perlu bawa Kei" desis Aldo sambil menatap tajam kearah sang istri.
Arlin hanya bisa menundukkan kepalanya. Kini ia tahu kalau suaminya tengah marah padanya. Bahkan pancaran cinta dan kasih yang selalu ditujukan kepadanya itu sama sekali tak terlihat. Hanya ada pancaran kemarahan yang membuat Aldo kini sudah seperti seorang dosen yang tengah memarahi Lili waktu itu.
Brakkkk...
__ADS_1
Aldo bahkan langsung saja pergi menuju kamarnya kemudian menutup pintunya dengan keras. Hal ini membuat Arlin hanya bisa menutup matanya karena merasa pusing memikirkan semua yang terjadi.
"Astaga... Galak amat tuh dosen satu. Sayangnya... Tuh dosen jadi suami gue sekarang" gumamnya pelan sambil mengelus dadanya sabar.
Tak dapat dipungkiri, jika baru beberapa minggu jadi istri dari seorang Aldo itu ternyata membuatnya mengerti tentang sifat laki-laki itu. Aldo yang selalu bucin dan berkata lembut pada istrinya, bisa saja marah meluap-luap seperti ketika mengajar di kampus. Perbedaan sikap yang ditunjukkan di tempat yamg berbeda membuat Arlin hanya bisa geleng-geleng kepala.
***
"Mama, minta tolong panggil Mas Aldo untuk makan malam. Dia ngambek nih sama Arlin karena lupa nggak minta ijin sama dia waktu pergi ke kampus" bisik Arlin pada Mama Nei yang ada disampingnya.
"Kasih jatah biar nggak ngambek lagi" bisik Mama Nei pada menantunya itu.
Mama Nei terkekeh geli kemudian berjalan pergi meninggalkan menantunya yang malu mendengar ucapannya itu. Tentunya kedua pipi Arlin memerah malu karena ucapan mertuanya itu. Walaupun jiwanya belum pernah menikah namun statusnya yang sudah dewasa, tentu membuat ia paham dengan apa yang tengah diucapkan oleh Mama Nei.
"Masa iya aku harus kasih jatah sama yang bukan suamiku sih? Benar sih ini raga sudah jadi istrinya, tapi kan jiwanya bukan" gumamnya pelan dengan bergidik ngeri.
Tentunya ia belum mau untuk melihat sesuatu yang bukan miliknya. Apalagi membayangkan bagaimana dirinya diunboxing oleh dosennya sendiri. Membayangkannya saja sudah membuatnya panas dingin. Nanti pasti saat kembali pada tubuhnya dan melihat dosennya, akan teringat kejadian yang tak seharusnya itu kalau sampai melakukan hal itu beneran.
Tak berapa lama, Mama Nei datang bersama suami dan anaknya. Sedangkan Kei sendiri sedari tadi sudah duduk disampingnya sambil bermain dengan mobil-mobilannya. Mama Nei yang melihat kearahnya menampilkan senyum jahil dan mata menggodanya membuat ia salah tingkah sendiri.
__ADS_1
"Ayo kita maka" ajak Papa Tito sambil tersenyum tipis.
Semuanya makan dengan tenang. Arlin yang sudah mampu berdiri langsung saja mengambilkan makanan untuk Aldo. Walaupun Aldo masih marah padanya, namun Arlin berusaha untuk melayani suaminya itu dengan baik. Ia juga menyuapi Kei sambil menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh bocah kecil itu. Ia sungguh bahagia melihat anaknya yang semakin hari terus bertambah bobot badannya.