
Aldo duduk diatas ranjang tempat tidurnya sambil memegang sebuah bingkai foto Arlin bersama dengannya dan Kei. Aldo terus mengelus lembut gambar Arlin yang tengah tersenyum dan duduk di kursi roda dengan Kei yang ada dipangkuannya. Air matanya terus mengalir deras dari pelupuk mata tanpa bisa dicegah lagi.
Bahkan Aldo belum sempat membersihkan tubuhnya setelah pulang dari makam. Ia hanya sempat mencuci kaki dan tangannya saja tadi setelah keluar dari makam. Ia masih shock dan tidak percaya jika kini istrinya sudah tidak ada lagi disampingnya. Rasanya semua masih seperti mimpi yang akan hilang jika ia terbangun nanti.
"Kamu nggak mikirin Kei? Gimana caranya aku membesarkannya nanti tanpa kamu? Kamu kan tahu aku sibuk, nanti siapa yang perhatian sama dia?" gumamnya lirih.
Walaupun pikirannya masih kosong, namun Aldo masih bisa berpikir mengenai kehidupan anaknya kelak. Setelah ini, ia tak tahu lagi harus bagaimana karena merasa bahwa separuh hidupnya telah hilang dan diambil paksa. Isakan terus menggema dalam kamar yang luas itu namun tak ada yang berusaha untuk menenangkannya.
Ceklek...
"Papa..." panggil seorang anak kecil yang tiba-tiba masuk dalam kamar orangtuanya.
Dia adalah Kei yang kini masuk dalam kamar dengan air mata yang masih bercucuran. Bahkan Kei langsung saja melompat kearah kasur agar bisa menaikinya. Aldo yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum tipis kemudian menghapus air mata yang masih membasahi kedua pipinya.
"Ada apa, nak?" tanya Aldo dengan lirihnya.
"Mama udah ndak ada. Cekalang tita tuma beldua, emm belempat cama oma dan opa. Tata oma, mama udah bagia di culga dan ndak cakit agi. Itlastan mama ya, papa" ucap Kei sambil menatap sendu kearah papanya.
Aldo tak menjawab apapun karena pikiran dan hatinya pun kini begitu kacau. Tak ia sangka kalau ini terjadi begitu cepat, padahal semalam dan pagi ini mereka masih tertawa juga makan bersama. Namun siang ini, semuanya terasa hancur karena kenyataan yang harus diterima.
"Kei itlas acal mama bagia. Ndak papa talo Kei ndak tetemu mama agi, ungkin ini cudah adi takdil Tuhan" lanjutnya mencoba menguatkan Aldo.
__ADS_1
Aldo yang mendengar hal itu tentu langsung memeluk Kei. Keduanya saling berpelukan dan menangis bersama karena sejujurnya keikhlasan itu belum ada dalam hati mereka. Hanya pada bibir saja yang dengan mudah berucap ikhlas, namun dalam hati siapa yang tahu.
Tanpa keduanya sadari, dibalik pintu kamar itu ada sepasang pasangan paruh baya yang juga menangis dalam diam dan saling berpelukan erat. Keduanya begitu sesak mendengar dan melihat adegan mengharukan itu. Bahkan keduanya juga saling berpelukan karena tak tahan melihat bagaimana kacaunya dua orang laki-laki yang baru saja ditinggal belahan jiwanya.
***
"Lili, makan dulu yuk" ucap Mama Ningrum sambil membawakan anaknya itu mangkok berisi soup.
Lili sedari tadi hanya diam dan duduk diatas kasurnya sambil menatap lurus kedepan. Ia masih tak habis pikir dengan kejadian yang dialaminya itu. Entah itu hanya mimpi dan khayalan saat ia koma atau memang kejadian itu nyata adanya.
"Huft... Kei udah makan belum ya?" ucapnya lirih.
"Lili, kamu ada mengucapkan sesuatu?" tanya Mama Ningrum yang memang tidak terlalu jelas mendengar ucapan anaknya itu.
"Eh... Enggak, ma" ucap Lili dengan kikuk.
"Makanlah" ucap Mama Ningrum yang diam-diam menghela nafasnya pasrah.
Lili menganggukkan kepalanya kemudian makan makanan yang disuapi oleh Mama Ningrum. Mama Ningrum tersenyum melihat anaknya kini sudah mau makan dengan lahap. Mama Ningrum begitu telaten menyuapi makan dan memberinya minum sampai semua makanan yang ada di mangkok itu tandas.
"Lili, kalau kamu merasa ada yang tidak nyaman maka katakanlah sama mama. Mama jadi bingung kalau kamu diam seperti ini. Apa memang mama dan papa belum kamu maafkan?" tanya Mama Ningrum sambil tersenyum sendu.
__ADS_1
Lili yang mendengar ucapan mamanya hanya bisa menghela nafasnya gusar. Ia sudah memaafkan kedua orangtuanya dan berusaha berdamai dengan apa yang terjadi pada masa lalunya. Namun yang kini ia pikirkan, tentang bagaimana keadaan Aldo dan Kei kini karena yang ia tahu kalau Arlin telah meninggal sesuai dengan mimpinya.
"Lili sudah memaafkan mama dan papa. Lili hanya masih bingung saja, sudah berapa lama aku tak sadarkan diri dan melewatkan apa saja" ucap Lili beralasan dengan terkekeh pelan.
"Terimakasih, nak" ucap Mama Ningrum yang langsung memeluk Lili dengan erat.
Lili juga langsung membalas pelukan hangat itu. Ternyata hatinya sudah lebih lega karena memaafkan dan mengikhlaskan kejadian dulu. Lagi pula buat apa dia kecewa atau membalas perlakuan menyakitkan dari orangtuanya, toh semuanya sudah terjadi.
Setelah melalui proses pemeriksaan panjang, tak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai kondisi kesehatan Lili. Hanya beberapa luka yang memang belum kering dan otot-otot kaki yang masih kaku karena sudah lama tak digunakan untuk berjalan.
"Setelah ini, mama dan papa akan sering berada di rumah kan?" tanya Lili mengalihkan pembicaraan.
"Mama sih lebih tepatnya yang sering berada di rumah 24 jam. Kalau papa kan harus bekerja tapi beliau mengusahakan untuk tak mengambil pekerjaan di luar kota" ucap Mama Ningrum sambil tersenyum.
Papa Dedi memang hari ini harus pergi ke perusahaannya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Beliau juga akan kembali ke rumah sakit saat sore hari sesuai kesepakatannya dengan sang istri. Keduanya saling bahu membahu untuk membuat suasana rumah menjadi nyaman buat keluarga kecil mereka.
Mama Ningrum kini begitu bahagia karena Lili sudah mau berbincang banyak dengannya. Bahkan suasananya tak lagi canggung walaupun terlihat sekali kalau kadang raut wajah Lili terlihat sedikit memaksakan diri. Mama Ningrum mengelus lembut lengan tangan anaknya sambil tersenyum setelah melepaskan pelukannya.
"Iya, ma. Lagi pula biarin saja papa kerja, nanti uangnya kita habiskan untuk belanja" ucap Lili sambil terkekeh geli.
"Iya dong. Tapi jangan lupa berikan pada orang yang membutuhkan juga. Jangan semuanya dipakai untuk belanja" ucap Mama Ningrum.
__ADS_1
Lili menganggukkan kepalanya mengerti sambil tersenyum. Mengingat tentang membantu orang yang membutuhkan, ia jadi teringat dengan mantan sahabatnya. Apa kabar dengan mantan sahabat dan kekasihnya itu di penjara? Apa mereka sudah bahagia? Sepertinya kalau sudah keluar dari rumah sakit ini, ia akan mengunjungi keduanya. Mereka pasti akan terkejut dengan kehadirannya yang masih hidup.