Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Perdebatan


__ADS_3

Kei masih sedih dengan apa yang terjadi. Bahkan Kei sampai saat ini masih duduk sendirian di gazebo belakang mansion. Sedangkan Mama Nei hanya bisa memandang dan melihat Kei yang terdiam itu dari jauh. Ia tak berani mendekat kearah cucunya yang kemungkinan tengah marah kepadanya itu.


Mama Nei langsung mengambil foto Kei yang tertunduk lesu itu kepada Aldo. Tentu saja Aldo harus megetahui bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh anaknya. Aldo harus berpikir bagaimana mengubah anaknya itu agar kembali ceria seperti sedia kala. Tak boleh lagi Aldo egois dengan memikirkan dirinya sendiri karena ada Kei yang memang butuh perhatian lebih.


"Apa kamu tega menghancurkan anakmu secara perlahan seperti ini, Al? Coba kamu pikirkan ulang mengenai usulan anakmu untuk membuka hati pada Lili yang diharapkan bisa jadi mamanya" tulis Mama Nei diertai gambar Kei yang tertunduk lesu.


"Semoga setelah ini, kamu bisa memikirkan matang-matang untuk masa depanmu dan Kei. Kami sebagai orangtua hanya bisa mendo'akan demi kebahagiaan kalian" gumam Mama Nei.


***


Saat ini Aldo tengah memandang kearah ponselnya yang tengah menyala, pertanda ada sebuah pesan masuk. Terlihat nama mamanya yang muncul di sana. Aldo seperti enggan untuk melihat pesan yang dikirimkan oleh mamanya itu, namun ia juga khawatir kalau terjadi sesuatu dengan keluarganya.


Akhirnya Aldo memutuskan untuk membuka ponselnya. Aldo membuka pesan yang dikirimkan oleh mamanya itu. Mata Aldo begitu terpaku dengan foto yang dikirimkan mamanya. Aldo meraup wajahnya yang begitu frustasi karena memikirkan keinginan anaknya terlebih melihat wajah Kei yang begitu sedih.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa benar kalau mulai sekarang aku harus membuka hati untuk gadis itu? Setiap aku mengingatnya saja selalu teringat akan Arlin yang meninggal karena ulahnya" gumam Aldo sambil menatap langit-langit atap ruangannya.


Tok... Tok... Tok...


Saat dirinya tengah melamun dan berperang antara hati dan pikirannya, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan ketukan pintu yang ada di ruangannya. Aldo langsung saja menegakkan badannya dan menutup ponselnya tanpa membalas pesan yang dikirimkan oleh sang mama. Bahkan ia merapikan wajahnya yang lesu itu dengan mengusapnya sebentar kemudian memasang wajah datar.


"Masuk..." titah Aldo dengan berseru.


Ceklek...

__ADS_1


"Permisi, pak. Saya ingin berkonsultasi mengenai skripsi saya" ucap seorang gadis dengan kalimat formalnya itu.


Ternyata itu adalah mahasiswanya sendiri. Seorang mahasiswa yang menjadi satu-satunya yang bimbingan skripsi kepadanya yaitu Lili. Lili masuk dengan wajah datarnya kemudian berdiri di depan meja kerja Aldo. Sebelum dipersilahkan untuk duduk, Lili akan tetap berdiri seperti itu.


"Kamu mau berdiri seperti patung terus-terusan?" tanya Aldo dengan nada sinisnya.


"Bapak belum mengijinkan saya untuk duduk, makanya saya akan berdiri seperti ini" ucap Lili dengan santainya.


"Ya sudah, kalau begitu silahkan berdiri seperti itu saja karena saya takan mempersilahkan kamu untuk duduk. Buang-buang waktu" ketus Aldo.


Lili yang mendengar ucapan dari Aldo itu sontak saja mulutnya hanya bisa menganga lebar. Lili pikir setelah mengucapkan kalimat sindiran itu akan membuat Aldo segera mempersilahkannya duduk. Namun pada faktanya tak sesuai dengan harapannya. Aldo yang ternyata tak peka dengan oranglain pun hanya membiarkannya saja.


Akhirnya Lili menyerahkan skripsinya yang telah ia revisi. Semalam, dosen pembimbingnya itu menghubunginya tentang skripsinya yang bisa dilanjutkan. Entah kesambet setan apa hingga membuat Aldo memutuskan untuk bisa melanjutkan skripsi itu. Padahal sebelumnya Aldo sama sekali tak menerima skripsinya yang lama dilanjutkan.


"Silahkan lanjutkan bab 3" ucap Aldo yang langsung memberikan tanda tangan pada buku bimbingan Lili.


Bahkan hanya dibaca beberapa menit saja membuat Aldo langsung menyetujui bab 2 yang ia ajukan. Padahal dari sebelum koma itu, bab 2 selalu menjadi sasaran empuk Aldo untuk revisi. Ada beberapa buku yang dijadikan landasan teori oleh Lili itu seperti tak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh gadis itu.


Dengan sigap Lili menganggukkan kepalanya kemudian mengambil kertas yang diserahkan oleh Aldo. Walaupun dia harus berdiri selama beberapa menit di depan meja kerja Aldo, namun itu tak sebanding dengan kebahagiaannya saat ini.


"Terimakasih, pak. Semoga bapak Aldo ini yang memudahkan skripsi saya juga dimudahkan saat nanti dihisab sama Allah" ucap Lili dengan asal.


"Kamu do'akan saya cepat mati?" kesal Aldo dengan mata yang mendelik kesal.

__ADS_1


"Wah... Bapak ini suka suudzon lah kalau sama saya. Padahal kan benar kalau semua orang suatu saat nanti akan dihisab apa yang dilakukannya di dunia ini. Jadi kalau do'anya seperti itu nggak papa, kan?" ucap Lili dengan polosnya.


Aldo sungguh kesal dengan ucapan ceplas ceplos yang dilontarkan oleh Lili. Walaupun benar adanya, namun Aldo seakan tak suka dengan itu. Perdebatan keduanya itu berakhir saat Aldo memilih melengoskan wajahnya agar tak melihat kearah Lili.


"Kalau begitu saya permisi dulu, pak. Dua hari lagi saya ke sini untuk bimbingan bab 3" ucap Lili dengan senang karena merasa telah menang dari Aldo.


Tanpa menunggu jawaban dari Aldo, Lili segera saja keluar dari ruangan dosennya itu. Bahkan senyumnya terus mengembang karena merasa dilancarkan dalam skripsinya kali ini. Lili berjalan keluar dari ruangan Aldo itu dengan langkah riangnya.


"Oiii... Lili" seru seorang gadis yang berlari kearahnya, dia adalah Fina.


"Kenapa, Fin?" tanya Lili yang melihat wajah gadis itu seperti panik dan khawatir.


Fina yang tadinya berlarian di koridor kampus itu langsung menghentikan langkahnya. Tadi Fina memang mencari Lili untuk menginformasikan sesuatu. Saat sampai di depan Lili, nafas gadis itu ngos-ngosan karena berlarian. Bahkan berulangkali Fina ingin mengucapkan sesuatu namun harus terhenti karena nafasnya belum stabil.


"Atur nafas dulu. Tarik lalu hembuskan" perintahnya kepada temannya itu.


Fina melakukan apa yang diperintahkan oleh Lili hingga nafasnya perlahan mulai stabil. Setelah pernafasannya sedikit stabil, Fina segera mengucapkan alasannya sampai berlarian seperti ini.


"Itu... Hari ini akan ada olah TKP di kantin mengenai kejadian istri dari Pak Aldo dan anaknya yang hampir dilukai oleh Rio dan Nada" ucap Fina.


"Bahkan pelakunya juga dihadirkan. Ini satu kampus heboh, terlebih mereka tahu kalau ada kamu di sini" lanjutnya dengan antusias.


Lili hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat. Tentu saja Lili santai saja dengan apa yang terjadi hari ini. Walaupun semua bukti telah mengarah pada mereka, namun olah TKP ini juga harus dilakukan agar bisa mengungkap sebenarnya yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2