
Aldo pulang dengan Kei yang berada dalam gendongannya. Kei yang sudah tertidur membuatnya sedikit lega, pasalnya bocah kecil yang kini berada dalam gendongannya itu akan mengadu pada orangtuanya tentang kejadian di mall. Tadi saat berada di dalam mobil, Kei terus berceloteh akan segera menceritakan kejadian di mall dengan oma dan opanya.
"Pototna anti talo cudah campe lumah, Kei mau ilang cama oma dan opa. Kei ngin papa ikah cama ante bial atu celalu temami cama ceceolang talo di lumah" celoteh Kei.
Hal ini tentu membuat Aldo dibuat kelimpungan. Pasalnya orangtuanya yang kepo dan orangnya selalu penasaran itu pasti akan menginterogasinya. Setidaknya melihat anaknya tertidur, itu akan menunda dirinya diinterogasi oleh kedua orangtuanya. Walaupun besok pagi ia harus mencari alasan untuk menghindari mereka.
Bahkan Aldo sampai saat ini masih tak menyangka ketika melihat anaknya yang begitu cerewet. Padahal sebelumnya anaknya ini masih sedih karena meninggalnya Arlin. Walaupun begitu, Aldo bersyukur saat anaknya sudah mulai membuka diri dan ceria kembali.
"Lho... Kei tidur, Al?" tanya Papa Tito yang melihat anaknya menggendong sang cucu.
"Iya, pa. Mungkin dia kelelahan karena tadi agak sedikit rewel di mall" ucap Aldo dengan pelan sambil mengelus lembut punggung anaknya.
Papa Tito hanya menganggukkan kepalanya kemudian Aldo pamit untuk masuk kamarnya. Aldo langsung saja meletakkan anaknya di atas ranjang. Aldo juga dengan sigap langsung mengganti pakaian anaknya itu menggunakan baju tidur. Walaupun tadi anaknya sempat terusik dengan kegiatan yang dilakukan oleh Aldo, namun Kei tak sampai terbangun.
Setelah menyelesaikan kegiatannya itu, Aldo segera mengganti pakaiannya sendiri. Ia masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah semuanya selesai, ia segera saja merebahkan tubuhnya di samping Kei dan memejamkan matanya.
***
Kei sudah bangun sejak pagi hari sebelum shubuh, bahkan Aldo pun sama sekali belum membuka matanya. Kei dengan berusaha keras segera saja turun dari ranjang tempat tidur papanya. Setelah berhasil turun dari ranjang tanpa membangunkan sang papa, Kei keluar dari kamar dengan langkah pelan.
"Oma cama opa cudah angun elum ya? Tayakna cih udah" gumam Kei yang juga menjawab pertanyaan sendiri.
Kei berjalan kearah kamar mereka dan saat sampai di sana, ternyata pintunya sudah terbuka. Itu artinya oma dan opanya sudah terbangun hingga kemungkinan telah keluar dari kamar. Namun untuk memastikannya, Kei segera saja melongokkan kepalanya masuk dalam kamar itu untuk mencari tahu.
__ADS_1
"Hmm... Oma dan opa ndak da. Api tu ada cuala ail alam kamal andi, belalti ada yang cedang andi" gumamnya.
Kei segera saja berjalan masuk dan naik di atas ranjang tempat tidur yang telah rapi itu. Ia memilih untuk menunggu oma dan opanya dibandingkan harus keluar sendirian. Tak berapa lama menunggu dengan menyibukkan diri dengan kedua kakinya, seseorang keluar dari kamar mandi.
Seseorang itu adalah Papa Tito yang sedikit terkejut dengan kehadiran sang cucu. Papa Tito yang hari ini harus memeriksa semua laporan ke perusahaan Arlin pun telah memakai pakaian yang rapi. Kei yang mendengar suara pintu terbuka segera saja mengalihkan pandangannya.
"Opa..." seru Kei sambil tersenyum.
"Lho Kei... Kok jam segini udah bangun. Papa kamu kemana?" tanya Papa Tito dengan penasaran.
"Elum angun" ucap Kei sambil menggelengkan kepalanya.
Papa Tito menganggukkan kepalanya kemudian berjalan kearah meja rias. Setelah merasa kalau penampilannya telah siap, Papa Tito mendekat pada cucunya itu. Papa Tito menggendong Kei kemudian mengajaknya keluar kamar. Bahkan cucunya ini belum mandi.
"Cama oma caja anti" jawab Kei yang mengeratkan pelukannya pada sang opa.
Terlihat sekali kalau Kei masih mengantuk. Papa Tito juga takkan bertanya mengenai cucunya yang bangun sangat pagi ini. Pasti jawabannya akan ngelantur apalagi melihat mata sayu Kei. Papa Tito memilih membawa Kei masuk dalam dapur, yang di sana sudah ada istrinya tengah membantu maid memasak.
"Lho... Kok Kei sudah bangun?" tanya Mama Nei yang saat membalikkan badannya ternyata melihat suaminya tengah menggendong Kei.
"Nggak tahu ini, ma. Tadi masuk kamar kita waktu aku masih di toilet. Papa rasa ada hal yang diinginkan atau disampaikan oleh Kei deh, jadinya bangun pagi sekali. Buktinya nih masih ngantuk matanya" ucap Papa Tito sambil terkekeh geli.
Pasalnya mata Kei kini sudah setengah tertutup bahkan tak menyadari kalau telah berada di dapur. Mama Nei hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari cucunya itu. Bahkan mungkin sebentar lagi cucunya itu akan tertidur pulas dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
Mama Nei lebih memilih menyelesaikan masakannya dibantu oleh maid. Sedangkan Papa Tito segera duduk di kursi sambil menimang-nimang cucunya. Ternyata Kei yang masih mengantuk itu langsung saja tertidur dengan pulasnya.
"Ini kopinya, pa" ucap Mama Nei yang langsung meletakkan secangkir kopi dengan asap yang masih mengepul di atasnya.
"Biar Kei mama bawa ke kamar saja, pa. Udah tidur tuh" lanjutnya saat melihat sang cucu sudah terlelap.
"Nanti saja, ma. Khawatirnya kalau belum tertidur pulas" ucap Papa Tito menolak tawaran istrinya.
Tentu saja Mama Nei hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Bahkan Mama Nei segera saja pergi dari sana kemudian meletakkan beberapa makanan di atas meja makan.
Saat mereka tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, tiba-tiba saja Aldo datang dengan wajah paniknya. Terlihat sekali kalau laki-laki itu terlihat begitu khawatir dengan muka bantalnya sehabis bangun tidur.
"Pa, lihat Kei nggak? Kei hilang dan nggak ada di kamar kami" seru Aldo dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Tenang, Al" ucap Papa Tito yang sedikit terkejut dengan kehadiran anaknya itu.
Sepertinya Aldo tak melihat kehadiran Kei yang tertutup oleh koran yang ada ditangan Papa Tito. Papa Tito meletakkan koran itu diatas meja kemudian terlihatlah Kei yang menempel ala koala pada tubuh laki-laki paruh baya itu.
Aldo yang melihat anaknya ada di sana pun sedikit terkejut namun tak lama menghela nafasnya lega. Tadi saat ia bangun tidur, ia langsung melihat kearah sampingnya. Tentu ia kaget dan terkejut karena tak adanya sang anak berada di sampingnya. Ia langsung saja terbangun kemudian mencari anaknya di semua ruangan namun tak juga menemukannya.
"Aneh-aneh aja sih. Udah bikin panik pagi-pagi" gumam Aldo sambil geleng-geleng kepala.
Aldo langsung saja mengambil anaknya masuk dalam gendongannya. Ia segera berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan meletakkan anaknya di atas kasur. Ia ingin anaknya tertidur nyaman di atas kasur.
__ADS_1