
Ketegasan yang ditunjukkan oleh Arlin kepada semua petinggi perusahaannya itu membuat semua orang yang melihatnya begitu takjub. Bahkan ditengah kondisinya yang tak memungkinkan untuk melawan itu, namun aura kepemimpinan yang kuat itu ternyata mampu juga membuat semua orang takluk. Bahkan ia pikir tadi kalau dirinya akan babak belur karena dikeroyok oleh banyak laki-laki, namun Tuhan masih memberikannya kekuatan luar biasa.
Arlin sudah masuk dalam mobilnya dibantu oleh Papa Tito sedangkan Mama Nei langsung memangku cucunya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang keluar dari area perumahan itu. Sebeleum mobil keluar dari area perumahan, ia meminta Papa Tito mendekat kearah pos satpam yang ada didepan.
"Tolong awasi mereka semua yang hari ini pindahan. Kalau semua sudah pindah, langsung tutup pintu masuk perumahan ini. Hanya jika ada saya saja baru boleh masuk area ini" pesan Arlin kepada satpam yang sudah mengenalnya sejak dari dulu.
"Siap, mbak Arlin" ucap satpam itu dengan ramah.
Satpam itu memang sudah mengetahui tentang kejadian ini. Awalnya mereka semua mau melihat kearah rumah yang ditempati oleh Pak Cipto, namun ia memilih diam di pos saja karena pasti Arlin bisa mengatasinya. Terlebih ia juga kurang dekat dan tidak suka dengan penghuni komplek perumahan ini yang suka semena-mena dengan orang seperti dirinya.
***
"Kita ke kampus aja gimana?" tanya Papa Tito.
Sedari tadi Papa Tito sudah suntuk mengurus perusahaan Arlin yang ternyata banyak kecurangannya. Setelah adu jotos tadi, ia ingin sekali untuk menenangkan dirinya di tempat yang membuatnya mengingat masa-masa remajanya. Tentunya tujuannya itu ke kampus tempat Aldo bekerja, walapun sebenarnya nanti mereka juga kemungkinan takkan bertemu dengan laki-laki itu.
Arlin dan Mama Nei menganggukkan kepalanya setuju. Lagi pula disana nanti mereka bisa saja hanya nongkrong di kantin atau taman saja sekedar untuk melepas penat dan beban yang tengah mereka pikirkan itu. Akhirnya mobil melaju menuju kampus dengan kecepatan sedang. Setelah beberapa menit, akhirnya mobil itu berhenti di tempat parkir khusus tamu.
"Ayo Arlin" ucap Papa Tito sambil membantu menantunya keluar dari mobil.
__ADS_1
Papa Tito segera saja mendorong kursi roda Arlin menuju kearah kantin diikuti oleh Mama Nei dan Kei. Tentu kehadiran mereka menjadi sorotan mahasiswa yang ada disana. Pasalnya beberapa waktu lalu, Arlin dan Kei sudah datang kesini bersama dengan Aldo. Namun kini Aldo tak ada disisi istri dan anaknya seperti waktu itu.
"Dasar tak punya hati dan rasa bersalah sedikit pun" gumam Arlin pelan saat melihat ada orang yang pernah menjadi pengisi hatinya itu sedang bermesraan dengan sahabatnya.
Gumaman pelan itu sama sekali tak terdengar oleh Papa Tito karena memang suasana disana begitu ramai. Saat dirinya hendak menuju ke kantin, ternyata Arlin melihat kekasih dan sahabatnya itu sedang bermesraan tanpa tahu malu. Padahal hampir semua temannya disini tahu kalau laki-laki itu merupakan kekasihnya.
Ingin sekali dirinya tak melihat wajah dua pengkhianat itu, namun Papa Tito malah mendekatkan kursi rodanya kearah tempat duduk dekat dengan mereka. Apalagi tempat duduk area kantin sudah penuh sehingga mereka mendapatkan yang bagian luar. Bagian luar itu merupakan taman namun tersedia banyak kursi untuk makan.
"Biar papa yang belikan kalian makanan. Kalian tunggu saja disini" ucap Papa Tito.
"Kalian mau makan apa?" lanjutnya bertanya.
"Yang pedas-pedas, pa. Kayanya Arlin lagi pengen yang pedasnya level 10 deh" ucap Arlin dengan senyumnya.
Arlin mencuri pandang kearah dua orang sejoli yang tampak bermesraan itu. Bahkan keduanya saling tertaaa seakan tak mempunyai rasa bersalah sama sekali. Mereka kini wajahnya dipenuhi kebahagiaan seakan bunga-bunga cinta sedang bermekaran dalam hati keduanya.
Saat Arlin sedang memandang mereka, tiba-tiba wanita yang tengah diamati olehnya itu menatap kearahnya. Arlin langsung mengalihkan pandangannya agar tak tertangkap basah. Namun hasilnya, Nada curiga dengan Arlin yang sedari tadi menatapnya itu hingga akhirnya gadis itu mendatangi mejanya.
"Hei... Kamu ada urusan apa ya sama saya? Kok ngelihatinnya gitu banget" ucap Nada dengan ketus.
__ADS_1
Bahkan Mama Nei dan Kei yang melihat kehadiran gadis asing itu mengerutkan dahinya heran. Mereka tak paham dengan maksud dari gadis ini yang berbeda dengan Arlin yang mengetahuinya. Arlin berusaha tenang agar tak menimbulkan kecurigaan.
"Enggak, saya pernah merasa melihat anda sebelumnya. Kalau nggak salah dulu anda itu dekat sama Lili, mahasiswa disini juga. Tapi sudah beberapa kali aku kesini, aku nggak ketemu sama dia" ucap Arlin dengan santai.
Arlin ingin mengetahui bagaimana reaksi dari Nada yang notabene adalah sahabatnya dulu saat dirinya masih berada dalam raganya itu. Terlihat sekali raut wajah Nada yang menegang bahkan tampak gelisah dan khawatir.
"Mungkin anda salah orang. Saya nggak punya sahabat yang namanya Lili" ucap Nada mengelak.
Deg...
Jantung Arlin langsung berdetak lebih cepat bahkan kini tubuhnya mematung. Ini merupakan reaksi cepat dari Lili yang merasakan jantungnya seperti ditikam sesuatu. Ia tak menyangka kalau sahabat yang dianggapnya saudara itu ternyata tidak menganggapnya selama ini. Padahal dia selalu ada untuk sahabatnya itu bahkan merelakan hasil kerjanya sebagian untuk diberikan pada Nada.
Nada tergolong dari keluarga kurang mampu. Bahkan untuk kuliahnya ini saja ia dibantu oleh Lili dari sebagian gajinya di sebuah toko karena memang Nada tak bisa mengajukan beasiswa. Nada juga bekerja di sebuah cafe namun penghasilannya tetap tidak mencukupi untuk biaya kuliah sehingga Lili membantunya. Lili kini tak menyangka jika dirinya selama ini tak dianggap siapapun oleh Nada.
"Oh... Tapi di kampus ini ada yang namanya Lili kan? Lilian kalau nggak salah" tanya Arlin setelah berhasil menguasai tubuhnya.
"Lilian yang anak beasiswa itu?" tanya Nada dengan penasaran dan dijawab anggukan kepala oleh Nada.
"Dia mah lagi koma di rumah sakit. Biasa, orangnya kan walaupun dapat beasiswa tapi dia bego" ucap Nada tanpa perasaan.
__ADS_1
Arlin hanya menganggukkan kepalanya sambil berusaha menahan emosinya. Ia ingin sekali menonjok wajah Nada yang songong itu namun ia harus menahannya agar bisa mendapatkan informasi lebih banyak lagi.
"Jangan ngatain gitu. Lili itu baik lho, bahkan dia pernah cerita sama aku kalau uang gaji bekerjanya dia dibagi setengahnya untuk sahabatnya. Pengen ketemu deh aku sama sahabatnya itu, semiskin apa sih dia" ucap Arlin dengan senyum menyeringai.