
Kei mengoceh panjang lebar karena pesanannya tak sesuai dengan keinginannya. Apalagi yang berada di atas piringnya itu berisi nasi goreng dengan sosis dan potongan batang brokoli yang dibentuk seperti cabai. Tentu saja Kei tak suka dibohongi seperti ini.
"Atu penen naci goleng lepel celatus lho, ini tok malah cocis dan atang apa ini" kesalnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Beberapa maid di sana tentu saja tertawa karena kelucuan dari tuan kecil di mansion itu. Apalagi kedua pipinya yang menggembung dengan bibir yang mengerucut itu. Sungguh pemandangan yang begitu menggemaskan. Bahkan para maid seperti menahan untuk tidak mencubit pipi lucu itu.
"Itu juga sudah benar nasi goreng, tuan kecil" ucap Bibi Yuyun sambil terkekeh pelan.
"Doca lho, bibi. Ni butan cabe, api cocis tan? Ah... Ndak pedas lho ni" kesalnya.
Bibi Yuyun tak menanggapi ucapan dari Kei. Bibi Yuyun langsung saja menyuapkan satu sendok berisi nasi goreng kearah mulut kecil Kei. Kei pun langsung mengunyahnya dengan mata melotot tajam kearah Bibi Yuyun.
Setiap kali makanan di dalam mulut Kei habis, Bibi Yuyun dengan cepat menyuapkannya. Bibi Yuyun tak mau kalau ocehan Kei itu malah membuat bocah cilik itu tak jadi makan. Setelah makanan habis, Kei meneguk air putih yang ada dalam gelas hingga tandas.
"Kei malah ya cama bibi. Atu tau, pati bibi buwat matanan nenak ni bial Kei diam caja tan?" ucap Kei dengan tatapan menyelidiknya.
"Kami kalau memasak makanan pasti selalu enak, Den Kei. Ayo kita main atau mau main dimana? Biar kita temani" ucap Bibi Yuyun yang langsung mengajak Kei bermain.
Tentu saja ini agar Kei lupa dengan pemandangan pertengkaran antara Aldo dan Mama Nei. Mereka tak ingin kalau sampai otak polos Kei ini tercemar oleh pertengkaran orang dewasa. Kei pun langsung saja berjalan dengan menggandeng tangan Bibi Yuyun untuk keluar dari ruang makan.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Lili dengan semangatnya berangkat ke kampus. Hari ini dia akan mengajukan untuk perubahan dosen pembimbingnya. Walaupun sebenarnya baru bisa diajukan saat mulai awal semester baru, namun setidaknya ia sudah tahu tentang syarat-syaratnya.
Ia akan mengajukan untuk setidaknya memberitahu dari awal kalau sudah tak lagi meneruskan skripsinya pada Aldo. Pasti akan ribet secara administrasi dan hal lainnya, sehingga dari sekarang harus ia persiapkan. Lili sampai kampusnya dan langsung memasuki ruangan DPA kelasnya.
"Permisi, Bu Rahma. Saya ada keperluan sebentar dengan ibu. Boleh saya bicara sebentar?" tanya Lili pada DPA-nya.
Bu Rahma yang tak lain adalah Dosen Pembimbing Akademik khusus kelasnya itu pun menganggukkan kepala sambil tersenyum. Bu Rahma adalah sosok wanita paruh baya yang mau mendengarkan keluh kesah dari mahasiswanya. Ia akan membantu sebisanya untuk membuat mahasiswanya nyaman.
"Silahkan, Lilian. Duduklah di sini" ucap Bu Rahma sambil tersenyum dan menepuk kursi sofa yang ada di depannya.
Dengan senang hati Lili duduk di samping dosen pembimbing akademiknya itu. Waktu itu Bu Rahma tengah cuti sehingga tak tahu adanya keributan mengenai skripsinya yang mendapatkan bimbingan Aldo. Bahkan waktu itu, Lili hanya menanyakan tentang syarat penggantian dosen kepada salah satu petugas administrasi.
Lili hanya tersenyum miris. Pasalnya keinginan Bu Rahma itu sangat jauh dari kenyataan. Apalagi kini Lili berniat untuk memulai skripsinya dengan yang baru saat awal semester depan. Tentu saja itu membuat Lili takkan bisa menyelesaikan kuliahnya tahun ini.
"Begini, bu. Ehm... Lili ingin mengajukan pergantian dosen pembimbing" ucap Lili tak enak hati.
"Lho... Kenapa, nak? Bukannya dosen pembimbing kamu itu Pak Aldo. Dia itu cerdas, bahkan ilmunya banyak. Dosen-dosen di sini saja ingin sekali punya otak cerdas sepertinya. Kamu beruntung lho dapat dosen pembimbing sepertinya" ucap Bu Rahma dengan memuji Aldo.
__ADS_1
Tentu sana Bu Rahma akan memuji Aldo. Pasalnya Aldo juga yang selama ini menjadi dosen andalan di fakultas ini. Hampir semua ilmu di fakultas ini dikuasainya. Bahkan sering menjadi mentor untuk dosen lainnya. Namun berbeda dengan Lili yang tak suka dengan sifat Aldo yang menyebalkan itu.
"Tapi maaf, bu. Keputusan Lili sudah bulat. Lili ingin mengajukan penggantian dosen pembimbing. Lili bersedia menerima konsekuensinya dengan harus mengulang skripsi dari awal di semester depan" ucap Lili mengutarakan keinginannya.
Bu Rahma masih terdiam karena bingung dengan keinginan Lili ini. Padahal sudah jelas kalau banyak dosen yang ingin belajar dengan Aldo namun mahasiswanya ini memilih untuk mundur. Bu Rahma tengah berpikur apakah mahasiswanya ini sedang ada masalah lain atau bagaimana.
"Lebih baik kita bicarakan dulu dengan Pak Aldo. Ini mungkin ada kesalahan atau salah paham sehingga membuat Lilian ingin mengganti dosen pembimbing" ucap Bu Rahma memberikan penjelasan.
Lili hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah. Sepertinya mempunyai dosen pembimbing yang begitu di sanjung oleh semua orang itu sangat sulit melepasnya. Apalagi kalau alasan yang Lili ucapkan, pasti tak ada yang percaya.
"Ini bukan salah paham lagi, bu. Tapi memang pikiran tentang penelitian skripsi saya itu nggak cocok dengan jalan pikirannya Pak Aldo. Pokoknya saya tidak mau tahu, saya ingin berganti dosen pembimbing. Jadi saya minta tolong pada Bu Rahma agar membantu mengeluarkan surat persetujuan penggantian dosen itu" ucap Lili dengan tegas.
Bu Rahma pun hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. Walaupun nantinya dia akan mencari tahu tentang masalah ini. Memberikan surat persetujuan penggantian dosen pembimbing skripsi itu tidak bisa bisa sembarangan.
"Terimakasih, bu. Saya akan menemui ibu besok pagi untuk menanyakan kelanjutannya" ucap Lili yang seakan tak memberi waktu Bu Rahma untuk menginterogasi Aldo.
"Kalau begitu saya permisi, bu" lanjutnya yang langsung berdiri kemudian menundukkan kepalanya sedikit.
Tanpa menunggu jawaban dari Bu Rahma, Lili keluar dari ruangan dosennya itu setelah berpamitan. Bahkan Bu Rahma masih mencerna semua yang dikatakan oleh Lili. Setelah sadar kalau Lili sudah tidak berada di ruangannya, Bu Rahma langsung mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa ini? Kalau Lili harus mengulang skripsi semester depan, kasihan juga gadis itu. Apalagi belum tentu kan penelitian dan judulnya sekarang bisa diterima sama dosen pembimbing yang baru. Lebih baik aku temui Pak Aldo, siapa tahu ada petunjuk tentang masalah ini" gumam Bu Rahma pelan.
Bu Rahma pun beranjak dari duduknya kemudian berjalan keluar dari ruangannya. Bu Rahma bertujuan pergi ke ruangan Aldo untuk menanyakan tentang masalah Lili ini.