Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Pertemuan


__ADS_3

"Biasa, mbak. Mereka malah leha-leha sampai Kei pernah mau ketabrak sepeda motor. Padahal mereka berjaga di dekat gerbang lho, bisa-bisanya nggak lihat Kei yang keluar dari gerbang" ucap Mama Nei yang kesal.


Dulu saat Arlin dan Aldo sibuk dengan pekerjaannya, mansion ini mempekerjakan bodyguard. Apalagi keluarga juga tak ingin kalau ada sesuatu saat mereka lengah. Terlebih waktu itu beberapa cabang rumah sakit dibangun oleh Papa Tito dan Aldo. Sehingga mungkin ada seseorang yang iri dan jahat kepada keluarga Aldo.


Namun peristiwa tak terduga terjadi, para bodyguard yang diperkerjakan justru malah bersantai di pos satpam. Padahal sudah jelas mereka harus berjaga di dekat pintu mansion dan gerbang. Di sana sudah tersedia fasilitas tempat duduk untuk menunggu. Namun mereka lalai dan membuat Kei keluar gerbang hingga hampir saja tertabrak motor.


"Wah... Bahaya juga ya itu. Mending dijaga sama kita saja kalau begitu. Lili dan Kei biar dalam penjagaan yang laki-laki itu. Lagian suamimu dan papanya Lili itu masih bugar. Bisalah kalau menjaga anak dan cucunya" ucap Mama Ningrum.


"Benar. Tapi kan nggak mungkin mereka menjaga Lili dan Kei 24 jam. Mereka mempunyai pekerjaan dan Lili juga Kei tak selalu bersama. Haduh... Kita pasrahkan saja sama Tuhan agar melindungi anak dan cucu kita dari orang-orang jahat" ucap Mama Nei memberikan ketenangan pada besannya.


Mama Ningrum menganggukkan kepalanya. Ia sedikit khawatir dengan anaknya yang selalu saja terluka seperti ini. Tak berapa lama, Mama Nei melihat kearah Lili yang ternyata telah membuka matanya.


"Lili..." panggil Mama Nei dengan mata yang berkaca-kaca.


Tentu saja panggilan itu membuat Mama Ningrum segera mengalihkan pandangannya. Mama Ningrum segera membawa Kei untuk sedikit menjauh dari Lili. Padahal Kei tadi sudah sempat tertidur namun terbangun lagi saat merasa ada seseorang yang menggendongnya.


"Kei mana, ma?" tanya Lili dengan suara pelannya.


"Kei di cini mama. Mama cepat cembuh ya" ucap Kei dengan pandangan sendunya.


Lili tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Ia merasa lega karena ternyata anaknya baik-baik saja. Walaupun ia tahu kalau Kei pasti sangat khawatir dengannya. Berulangkali ia sakit hingga membuat bocah kecil itu selalu merasa bersalah.


Mama Ningrum segera membantu Lili untuk minum dan mengelus lembut dahinya. Ternyata demam Lili sudah sedikit turun. Mama Nei hanya bisa mengusap dan memijat kaki Lili dengan lembut.

__ADS_1


"Masih ada yang sakit, nak?" tanya Mama Nei dengan penuh perhatian.


"Nggak ada, ma" jawab Lili singkat.


"Mama boong nih. Macak itu pipina bilu-bilu ndak cakit cih. Talo Kei dadi mama pati cudah nanis-nanis" ucap Kei yang tak percaya dengan ucapan mamanya.


"Mama kan sudah besar. Jadi nggak ngerasain sakit kalau cuma gini mah" ucap Lili sambil terkekeh pelan.


"Macak cih? Talo ditu becok caat Kei cudah becal, atu ndak atan nelacain cakit talo diputul olang?" tanya Kei dengan mata membulatnya.


Bocah cilik yang lagi rasa ingin tahunya begitu tinggi itu menatap penasaran kearah mamanya. Lili hanya tersenyum canggung karena sepertinya sudah salah berucap. Lili menatap mama dan mertuanya yang juga kebingungan untuk menjelaskan.


"Nggak gitu juga, nak. Kalau besar nanti jangan pukul-pukulan sama orang. Nggak baik" ucap Mama Nei memberitahu.


"Mama olang baik, napa diputul?" tanya Kei yang menuntut jawaban dari omanya itu.


Kei hanya menganggukkan kepalanya walaupun ia juga tak paham dengan maksud dari omanya itu. Lili makan dengan disuapi oleh Mama Ningrum. Kei sama sekali tak mau jauh dari mamanya itu. Bahkan saat ini Kei kembali tidur dalam pelukan Lili.


***


"Selamat menikmati penderitaanmu di penjara. Kehidupanmu takkan sama lagi. Apalagi kini kamu harus menghadapi sidang etik kedokteran. Karir dokter yang kamu perjuangkan bertahun-tahun akan segera kandas. Akibat dari kelakuanmu yang malah tak beretika seperti ini" ucap Aldo dengan sinisnya.


"Kau tidak tahu kalau aku punya orangtua atau channel yang bisa mengeluarkanku dari sini dengan mudahnya?" tanya Dokter Adnan dengan santainya.

__ADS_1


Aldo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kepercayaan diri dari mantan pegawainya ini. Ia tahu dengan siapa yang dimaksud channel itu. Namun ia sama sekali tak gentar untuk memperjuangkan keselamatan istrinya. Apalagi banyak saksi yang memberatkan Dokter Adnan.


"Panggil saja. Kita buktikan siapa yang akan menang dan kalah dalam kasus ini" ucap Aldo menanggapinya dengan santai.


"Oh ya, kau sudah dipecat dari rumah sakitku. Tolong untuk jangan pernah menunjukkan wajahmu di sana. Sekalipun itu hanya lewat saja" lanjutnya sebelum ia keluar dari ruangan khusus itu.


Dokter Adnan terdiam setelah pertemuannya dengan Aldo itu. Apalagi ucapan Aldo yang syarat akan sebuah ancaman. Setelah melihat Aldo pergi, Dokter Adnan segera saja masuk kembali dalam sel penjaranya. Ia sudah menghubungi orangtuanya yang kemungkinan baru besok akan sampai di Indonesia.


***


"Bagaimana, Al?" tanya Papa Tito pada anaknya yang baru saja pulang dengan wajah kusutnya.


"Sudah beres, pa. Cuma pihak organisasi harus melakukan investigasi dulu. Apalagi ada pencabutan ijin praktik juga" ucap Aldo yang kemudian duduk di ruang keluarga.


"Kalau kamu lelah mengurus semuanya, tunjuk saja pengacara kita untuk menyelesaikannya. Kau haris fokus juga sama istri dan anakmu" ucap Papa Dedi yang juga berada di sana.


"Iya, pa. Lagian Aldo juga nggak mau larut demgan masalah ini. Apalagi kondisi Kei yang psikisnya bisa saja terganggu saat melihat Lili berulangkali seperti ini" ucap Aldo.


Papa Tito dan Papa Dedi menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka hanya bisa berharap masalah dalam keluarganya segera selesai. Setelah berbincang dengan keduanya, Aldo pergi untuk membersihkan dirinya.


"Aku akan lobby temanku buat bantu ini semua. Apalagi masalah hukum kaya gini nggak main-main" ucap Papa Dedi setelah melihat menantunya pergi.


"Aku juga bakalan bantu orang-orang yang ikut organisasi itu biar bisa menemukan barang bukti yang banyak. Apalagi Adnan itu praktiknya di rumah sakit anakku. Pasti ada saja itu orang melakukan kesalahan namun ditutupi" ucap Papa Tito dengan yakin.

__ADS_1


Keduanya akan bekerjasama untuk membantu permasalahan keluarga anaknya. Lagi pula semakin cepat diselesaikan pasti kebahagiaan akan segera menghampiri. Apalagi keluarganya ini sudah sangat sempurna jadi tak boleh ada kesedihan di dalamnya.


"Jika ada masalah langsung cerita ya, besan. Biar kita bisa saling bantu. Jangan dipendam sendirian" ucap Papa Dedi membuat Papa Tito menganggukkan kepalanya dengan yakin.


__ADS_2