
"Eh... Tante Lili nggak kaya gitu kok. Kan Tante Lili belum jawab pertanyaannya papa. Itu papanya Kei aja yang suka usil" ucap Lili yang tak terima jika disalahkan.
"Belalti ante mau dong dadi mamana Kei? Wah... Acik" seru Kei tiba-tiba.
Sontak saja ucapan Kei itu membuat Lili memelotkan matanya. Lili tak menyangka kalau Kei akan menyimpulkan seperti itu. Sedangkan Aldo sudah tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menjebak Lili hanya dengan ucapannya.
Beruntung Kei itu begitu polos dan malah mau saja kalau sudah berurusan dengan sosok seorang mama. Sehingga membuat Lili malah terjebak akan keusilan Aldo. Hal ini membuat Aldo semakin bahagia karena Lili yang terpojok pasti akan segera menjawab pertanyaannya.
"Eh... Bukan seperti itu. Kei nggak perlu tanya seperti itu sama tante karena itu urusan orang dewasa. Sedangkan saat ini Kei belum boleh memikirkan atau ikut campur hal itu" ucap Lili mencoba untuk memberi pemahaman pada Kei.
Kei malah kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh Lili itu. Pasalnya yang Kei tahu hanyalah Lili yang tak mau menjadi mamanya. Sedangkan Aldo sekarang mulai ketar-ketir karena takut kalau anaknya malah terpengaruh.
"Sini, Kei. Yok kita sudahi makannya. Kei harus segera tidur siang di ruangan papa" ucap Aldo menyela perbincangan keduanya.
Bahkan Aldo langsung saja mengangkat Kei menuju pangkuannya. Makanan yang ada di hadapan Kei juga sudah habis sehingga menurut Aldo, anaknya itu harus segera tidur. Kei memeluk papanya erat karena matanya juga sayu.
"Aku tahu kamu ingin mempengaruhi Kei kan?" tanya Lili sambil berbisik pelan.
"Suudzon. Kei itu cuma mau ajak tidur, takutnya nanti malam rewel" ucap Aldo mengelak.
Lili hanya bisa mendengus kesal dengan apa yang diucapkan oleh Aldo itu. Padahal sudah jelas kalau Lili tahu maksud dari alasan Aldo itu. Namun demi melihat Kei tertidur dengan pulas, Lili pun akhirnya mengalah saja.
"Bawa ke ruangan bapak saja" titah Lili pada Aldo.
__ADS_1
"Kamu sekalian mau istirahat nggak? Di ruangan saya ada tempat tidur yang lumayan luas. Cukuplah kalau untuk kalian berdua" ucap Aldo.
Lili pun menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula badannya juga lelah, walaupun sebenarnya hati dan pikirannya juga tengah butuh istirahat. Ia nantinya akan semakin galau jika Kei sudah terbangun dan mengingat perbincangan tadi.
Ketiganya segera pergi dari kantin setelah membayar semua makanan yang dipesan. Ketiganya menuju ke ruangan Aldo diiringi tatapan-tatapan dari beberapa mahasiswa yang ada di kampus. Mereka sangat penasaran dengan hubungan antara Lili dan dosen kampus itu.
***
Aldo tersenyum tipis melihat Kei dan Lili tertidur pulas di ataa ranjang di ruangannya. Ia tak menyangka bisa kembali melihat moment ini lagi. Apalagi keduanya tidur dengan saling berpelukan erat. Sungguh pemandangan yang sangat romantis menurut Aldo.
"Papa janji akan membuat Lili menjadi mamamu, Kei. Kalau dia nggak mau, papa akan paksa atau jebak dia biar mau" gumam Aldo yang tatapannya begitu intens menatap Lili.
Setelah mengucapkan hal itu, Aldo segera pergi menuju ruangan depan. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan tanpa Aldo sadari, sebenarnya sedari tadi Lili belumlah tidur pulas.
"Jahat amat tuh duda, main mau jebak-jebak saja. Kok malah kayak dia begitu terobsesi memiliki aku ya" ucap Lili dengan sedikit mendengus kesal.
"Walaupun Tante Lili nantinya nggak jadi mamamu, tante akan tetap menyayangimu layaknya anakku. Soalnya tante kadang suka takut sama ucapan sama wajah papamu itu lho Kei. Padahal dulu waktu tante tinggal di tubuh mamamu, dia nggak gitu-gitu amat" gumam Lili.
Rasanya Lili ingin pergi saja dari kehidupan Aldo. Apalagi sudah terlihat sekali kalau Aldo itu seorang laki-laki yang sangat posesif. Pasti ia takkan bisa sebebas dulu yang bisa kemana-mana tanpa diatur. Membayangkannya saja sudah membuatnya pusing.
***
"Ayo pulang, sayangku" bisik Aldo tepat pada telinga Lili.
__ADS_1
Bahkan suara Aldo yang serak-serak basah itu membuat Lili malah merasa geli. Akhirnya Lili memilih bangun kemudian menjauhkan wajahnya dari Aldo. Namun Aldo malah menahannya menggunakan telapak tangannya. Hal ini membuat wajah Lili berhadapan dengan Aldo.
Tatapan mata keduanya bertemu, bak adegan romantis dalam film-film. Cukup lama mereka beradu pandang hingga Lili mencoba mengalihkan pandangannya. Lili tak kuat jika harus beradu pandang lama dengan tatapan tajam Aldo itu.
"Jangan pernah berniat untuk pergi dariku. Apalagi sampai meninggalkan Kei. Jika kau mencobanya, akan aku pastikan kau takkan pernah bisa keluar dari sangkar emas yang akan ku buat" ucap Aldo dengan penuh arti.
Seakan apa yang diucapkan oleh Aldo itu adalah ancaman untuk Lili agar tidak macam-macam. Apalagi Aldo mempunyai kepekaan yang begitu tinggi. Entah itu kepekaan atau ketakutan akan kehilangan sehingga melakukannya dengan pengancaman.
"Saya nggak pergi kemana-mana, pak. Ini buktinya saya masih di atas kasur" ucap Lili dengan tersenyum canggung.
"Jangan belagak sok polos dan bodoh, sayang" ucapnya penuh penekanan.
"Saya memang masih polos dan ting ting ini, pak" ucap Lili dengan kekehan penuh paksanya.
Sebenarnya Lili ketakutan menghadapi sikap Aldo yang seperti ini. Namun ia mencoba untuk berani melontarkan candaan agar keadaan tak semakin menyeramkan.
"Satu minggu lagi saya akan melamarmu. Kebetulan mama dan papa akan kembali ke sini tiga hari lagi. Jadi persiapkan dirimu dan juga orangtuamu" ucap Aldo dengan santai sambil menjauhkan wajahnya dari Lili.
Lili yang mendengar hal itu tentu saja memelototkan matanya. Ia belum menerima pernyataan cinta dari Aldo, namun dengan seenaknya sudah mau melamarnya. Ia dan keluarganya hanya diberikan waktu selama satu minggu untuk mempersiapkan semuanya.
"Nggak bisa gitu dong, pak. Lamaran tuh butuh persiapan lama; satu tahun misalnya. Ini aja juga harus menghadapi sidang skripsi satu mingguan lagi" kesal Lili dengan tingkah seenaknya Aldo itu.
"Kalau begitu 3 hari lagi kita lamaran, lalu seminggu setelahnya menikah" ucap Aldo dengan seenaknya.
__ADS_1
Bahkan kini Aldo sudah menggendong anaknya yang masih tertidur agar segera pulang. Lili pun ikut beranjak dari kasur kemudian melangkah pergi. Ia mendahului Aldo yang mengikuti dari belakang. Lili mengambil cepat tasnya dan Kei membuat Aldo hanya bisa geleng-geleng kepala.
Ia tak terima dengan sikap Aldo yang seenaknya memutuskan seperti itu. Satu minggu saja keberatan apalagi tiga hari. Yang kemudian akan menikah satu minggu setelahnya.