
Lili sangat kesal dengan mamanya yang seenaknya datang membawa durian. Padahal mamanya itu tahu kalau Lili sangat tak menyukai dengan bau durian. Di dalam kamarnya ini, Lili bersama Baby Della untuk mengurung diri.
"Baby, besok kalau sudah besar jangan kaya nenek ya. Main seenaknya gitu sama mama. Padahal mama ini nggak suka lho sama durian. Baunya bikin mual" ucap Lili mengadu pada anak perempuannya.
Baby Della yang tahu kalau diajak bicara hanya menggerak-gerakkan tangannya kearah Lili. Bahkan matanya terus menatap bibir Lili yang terus berceloteh. Lili yang melihatnya segera mengecup pipi anaknya bertubi-tubi.
"Lucu banget sih anak mama ini. Kalau sudah besar nanti, kita jalan ke mall sama-sama ya. Nggak usah ajak abang dan papa" ucap Lili sambil terkekeh geli.
Lili sudah membayangkan tentang anaknya yang nanti akan tumbuh jadi gadis cantik. Bisa ia ajak jalan-jalan bersama karena pasti Aldo dan Kei sibuk dengan kegiatannya. Mereka juga selalu malas kalau sudah diajak pergi berbelanja.
***
Waktu terus berlalu, tak terasa kini Kei sudah memasuki kelas 1 sekolah dasar. Sedangkan Lili sendiri sudah usai dengan praktik di rumah sakitnya. Lili sekarang disibukkan dengan membuat laporan kemudian nanti ada wisuda atau sumpah profesi jika semuanya selesai.
Baby Della pun sudah berumur 8 bulan. Sedang aktif-aktifnya untuk belajar mengoceh dan merangkak. Bahkan Baby Della sudah mulai berdiri walaupun seringkali jatuh. Duduknya juga sudah tegak, hal itu membuat Lili sangat senang dengan perkembangannya.
"Mama, Baby Della naik di atas sofa sendirian" seru Kei dari ruang keluarga.
"Bagaimana bisa, Kei? Kamu ngapain di situ? Jagain adiknya dulu" seru Lili dari ruang makan.
"Baby Della suka cubitin pipinya Kei, mama. Kei sebal dan nggak mau dekat sama dia" seru Kei menjawab ucapan mamanya.
Kei juga sudah tak lagi menggunakan bahasa tak jelasnya. Bahkan ia sudah lancar berbicara seperti teman-teman seusia dirinya. Kei memang sedikit kesal dengan adik perempuannya yang suka mencubiti pipinya yang tembam.
Bahkan saat adiknya naik ke atas sofa itu sebenarnya karena dia. Kei menaikkan Baby Della ke atas sofa agar tak bisa mengganggu dirinya. Apalagi ketika dia rebahan di atas karpet, Baby Della selalu mencubiti pipinya.
"Nggak bisa turun kan kamu, baby. Rasain... Habisnya kamu ngeselin. Nanti pipi abang tambah lebar kalau kamu cubitin terus tahu nggak" ucap Kei yang melihat adiknya menatap dengan polos kearah dirinya.
__ADS_1
"Ma... Ma... Ma..." oceh Della sambil tertawa senang.
"Mama nggak mau nolongin kamu. Soalnya kamu nyebelin" ucap Kei yang tahu kalau adiknya tengah mencari Lili.
Tak berapa lama, Lili datang dengan membawa bubur untuk Kei dan Baby Della. Lili hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Baby Della dan Kei. Sebenarnya Lili tahu jika anak perempuannya itu tak mungkin bisa naik sendiri ke atas sofa. Pasti ini adalah ulah dari Kei yang malas kalau adiknya menjahilinya.
"Anak mama ini ternyata dah bisa naik ke atas kursi sofa ya? Kok pintar sekali sih" ucap Lili yang kemudian mengangkat Baby Della untuk duduk di atas karpet bersama Kei.
"Iya, ma. Adik memang pintar. Tapi nih lihat pipinya Kei, melar dan memerah karena cubitan adik lho" ucap Kei mengadu pada mamanya.
"Kasiannya abang Kei ini" ucap Lili yang kemudian mengelus lembut pipi Kei.
Baby Della yang melihat mamanya melakukan hal seperti itu pada Kei pun mengikutinya. Baby Della langsung mengelus lembut pipi abangnya itu. Lili yang melihat interaksi keduanya sangat bahagia. Apalagi Kei yang langsung menciumi pipi Baby Della membuat bayi perempuan itu tertawa renyah.
"Ayo makan dulu. Jangan bercanda terus" tegur Lili yang langsung menyuapi mereka bersama dengan dua makanan yang berbeda.
"Acih..." ucap Baby Della sambil tersenyum.
Lili menganggukkan kepala mendengar apa yang diucapkan oleh keduanya. Namun ucapan Baby Della yang ikut mengucapkan terimakasih itu membuatnya sedikit terkejut. Selama ini Baby Della baru bisa mengucapkan mama dan papa saja.
"Pintarnya anak mama ini. Semoga kamu bisa cepat lari-lari ya, nak. Biar abang kamu ini yang ngejar kamu" ucap Lili sambil terkekeh geli.
"Kok Kek sih, ma? Kenapa nggak papa saja?" tanya Kei yang protes dengan ucapan mamanya itu.
"Papa sudah tua. Kalau lari-larian takut kakinya pegal-pegal. Lagian Kei kan kalau lari aangat cepat" ucap Lili.
Kei hanya bisa mendengus kesal mendengar apa yang diucapkan oleh Lili. Ada saja alasan mamanya itu agar ia selalu menjaga Baby Della. Papanya seakan dibebastugaskan karena adiknya itu sangat dekat dengan dia. Baby Della juga terkadang membuntutinya kemana pun ia berada.
__ADS_1
"Kan ada mama yang pijatin kaki papa. Baby Della, jangan ikutin abang terus ya. Soalnya abang tuh suka capek kalau harus ngikutin kamu yang lari-larian" ucap Kei menatap Baby Della yang juga memperhatikannya.
"No... No... No" ucap Baby Della sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Lili hanya bisa terkekeh geli melihat protes yang dilayangkan anak perempuannya. Apalagi Baby Della menggerutu kesal karena diminta abangnya agar tak mengikutinya. Keduanya segera menyelesaikan makannya kemudian Lili pergi ke ruang makan.
"Baby Della nggak teman sama abang. Masa kamu mau ngikutin abang terus sih? Nanti kalau abang lagi pacaran, masa kamu juga ngikutin. Kan aneh... Mending Baby Della sama Kak Nanad saja. Kan sesama cewek tuh" ucap Kei yang langsung memberikan ide.
Nadeline masih sering bertandang ke rumah Aldo ini untuk menemani Baby Della bermain. Jika sudah ada Nadeline, posisi Kei akan terganti. Baby Della lebih sering bersama Nadeline dibandingkan Kei karena obrolannya lebih nyambung.
"Nana..." seru Baby Della yang langsung menarik baju Kei.
"Kak Nanadnya nggak ada di sini, dek. Aduh... Salah ngomong ini. Kan ini hanya saran saja. Besok mainnya kalau ada Kak Nadeline maksud abang tuh" ucap Kei yang panik karena Baby Della terus menarik bajunya dengan kencang.
Huuaaaaa...
Kei mencoba menggendong Baby Della namun adiknya itu malah merengek. Baby Della merengek hingga menangis membuat Kei gelagapan. Apalagi kalau sampai omanya mendengar tangisan cucunya, pasti ia akan mengomelinya.
Cup... Cup...
"Jangan nangis dong, dek. Iya nanti ini Bang Kei bakalan hubungi Kak Nanad ya. Jangan nangis dong, ini kalau oma dengar bisa dimarahin lho abangnya" ucap Kei mencoba menenangkan adik perempuannya.
Bukannya berhenti menangis, Baby Della malah bertambah menangis. Hal itu membuat Kei kebingungan dan terus melihat kearah tangga. Ua tak ingin kalau sampai omanya yang galak itu mengomelinya.
"Kei... Kamu apakan Baby Della?" seru Mama Nei yang tiba-tiba datang dengan raut khawatirnya membuat Kei menepuk dahinya pelan.
"Gawat. Kuping Kei bakalan panas ini" gumam Kei pelan.
__ADS_1