
Mama Nei segera duduk di samping Lili yang tengah memangku Kei. Mama Nei tersenyum kearah Fina yang merasa canggung dengan adanya ibu dari salah satu dosen di kampusnya itu. Fina sebenarnya sangat penasaran dengan panggilan Lili pada Mama Nei itu.
Sepertinya Lili mempunyai hubungan khusus dengan keluarga Aldo sehingga memanggil Mama Nei dengan panggilan "mama". Namun Fina tak mungkin untuk menanyakannya sekarang karena ada Mama Nei dan Kei.
"Biasa saja sama tante dan Kei. Kalian lanjutkanlah berbincangnya. Lagian kami datang ke sini itu karena Kei yang rindu sama Lili" ucap Mama Nei untuk mencairkan suasana.
"Kami sedang tidak membicarakan hal penting kok tadi, tante. Ini tuh cuma bahas seblak saja. Lihat tuh tante, Lili makan seblak level 10. Mana tadi asal nyuapin ke mulut Fina lagi" ucap Fina yang kini malah mengadu pada Mama Nei.
Fina yang awalnya begitu canggung dengan kehadiran Mama Nei pun perlahan bisa meluapkan jiwa humblenya. Suasana di sana pun langsung saja mencair karena celotehan Fina tentang seblak yang dimakan Lili.
Mendengar aduan dari Fina itu membuat Mama Nei langsung melihat kearah mangkok yang ada di hadapan Lili. Mama Nei menatap ngeri pada kuah yang masih ada di dalam mangkok itu. Bahkan perutnya mendadak mulas walaupun hanya melihat kuahnya saja.
"Aduh Lili... Kamu itu baru saja sembuh dari sakit lho" tegur Mama Nei pada Lili yang terus saja menyuapi mulutnya dengan seblak itu.
"Udah biasa, ma. InsyaAllah nggak akan sakit ini" ucap Lili dengan santainya.
Mama Nei hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sedangkan Kei yang duduk di pangkuan Lili itu ingin sekali melarang gadis yang memangkunya itu agar tak melanjutkan kegiatan makannya. Namun melihat Lili yang begitu lahap, membuat ia sedikit tak tega.
Tanpa Lili sadari, Mama Nei sedari tadi terus memperhatikan tingkah gadis yang tengah memakan seblaknya dengan lahap itu. Mama Nei seperti familiar dengan tingkah dan kejadian ini.
Setelah beberapa lama berpikir, Mama Nei seketika ingat saat dirinya juga Arlin dan keluarganya makan seblak di kantin kampus ini juga. Saat itu Arlin masih duduk di kursi rodanya kemudian melampiaskan semua kekesalannya dengan memakan seblak.
__ADS_1
"Kamu lagi kesal, Li?" tanya Mama Nei untuk memperkuat dugaannya.
"Iya, ma. Lili lagi kesal sama Pak Aldo yang ngusir dari ruangannya. Padahal Lili itu tinggal nunggu acc skripsinya dia" ucap Lili yang seakan mengadu kelakuan Aldo pada Mama Nei.
Mama Nei hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ternyata cara makan dan melampiaskan kekesalan antara Lili dan Arlin itu sama. Dengan makan seblak pedas agar puas meluapkan segala kekesalannya. Mama Nei sedikit curiga karena cara makannya pun sama membuatnya melihat sosok Arlin pada Lili.
"Cara makan dan kesukaanmu itu mirip dengan menantu saya yang sudah meninggal" ucap Mama Nei tiba-tiba.
Sontak saja Lili langsung menghentikan kegiatan makannya setelah mendengar ucapan dari Mama Nei. Ia sedikit lupa mengenai dulunya yang pernah makan seblak di hadapan keluarga Aldo untuk melampiaskan kekesalannya. Tentu saja itu sifat dan sikap sama dengan Lili karena yang menguasai tubuh Arlin adalah dirinya.
"Mungkin hanya kebetulan saja, ma. Lagi pula Kak Arlin kan kalau kesal mungkin karena pekerjaan. Kalau Lili, kesalnya karena anak tante yang mempersulit skripsi Lili" ucap Lili yang seakan tak takut sama sekali dengan Mama Nei karena mengadukan anaknya.
Bahkan Lili sengaja mengucapkan kekesalannya itu pada Mama Nei untuk mengalihkan pembicaraan. Lili tak ingin Mama Nei membahas tingkahnya yang sama dan mirip dengan Arlin. Hal itu tentu bisa saja menimbulkan kecurigaan yang berlebihan kepadanya.
"Jangan dong. Kalau dipukul, nanti malah Tante Lili yang diomelin sama papanya Kei" ucap Lili sambil mengelus lembut rambut Kei.
"Lapol caja cama Kei anti. Bial atu yang membalas dan melinduni Ante Lili dali papa" ucap Kei dengan percaya dirinya.
Lili, Mama Nei, dan Fina yang mendengar hal itu hanya bisa terkekeh pelan. Tentu saja Lili juga sedikit terharu dengan ucapan yang dilontarkan oleh Kei itu. Padahal Lili dan Kei itu belum lama kenal namun malah keduanya begitu dekat. Saking dekatnya, mereka seperti ibu dan anak yang susah dipisahkan.
"Baiklah, kalau papanya Kei nakal nanti tante langsung lapor sama anak baik dan ganteng ini" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
"Ciappp..." seru Kei sambil tertawa.
Tawa renyah dari Kei itu membuat suasana di sana begitu hangat. Walaupun sebenarnya mereka berkumpul hanya dengan pembicaraan yang ringan saja. Lili sudah memesankan bakso dan nasi goreng untuk Mama Nei juga Kei.
Mereka makan dengan lahap karena memang sekarang sudah memasuki jam makan siang. Beberapa pasang mata yang ada di kantin langsung menatap aneh pada meja yang diduduki oleh Lili. Pasalnya hampir semua orang tahu kalau perempuan paruh baya yang duduk di sana itu adalah ibu dari dosen di kampusnya.
"Nggak usah lirik-lirik, nanti jatuh cinta sama salah satu dari kami kan bisa berabe" ucap Fina yang langsung melayangkan sebuah sindiran.
Tentu saja orang-orang itu yang ketahuan melirik atau mencuri pandang pada meja Lili langsung mengalihkan pandangannya. Mereka memilih fokus dengan makanan dan teman yang ada di depannya itu.
Lili dan Mama Nei terkekeh geli mendengar ucapan dari Fina itu. Sungguh gadis tomboy yang ada di dekat mereka itu ternyata sangat pemberani. Bahkan di kala semua orang menatapnya sinis karena dekat dengan Lili, ia tak peduli. Baginya, berteman dengan siapapun itu menjadi urusan pribadinya.
"Memangna talo lilik-lilik bica datuh tinta, ante? Kei mau lilik Ante Lili bial atu datuh tinta tama dia" ucap Kei dengan polosnya.
"Astaga... Nggak gitu juga konsepnya, nak" ucap Fina yang geregetan.
Sepertinya Fina merasa frustasi dengan Kei yang ternyata menyalahartikan ucapannya. Mama Nei dan Lili seakan membiarkan Fina untuk menjelaskannya sendiri pada Kei. Padahal Fina sudah memberi kode pada keduanya agar membantunya untuk menjelaskan pada Kei. Namun keduanya malah acuh, hal itu membuat Fina hanya bisa menghela nafasnya pasrah.
"Dadi dimana dong? Tan Kei ndak nelti. Ayo delasin bial Kei aham" ucap Kei yang sangat penasaran.
"Pokoknya Kei nggak boleh tahu kalau masih kecil gini. Ini hanya untuk orang dewasa" ucap Fina yang memutuskan sendiri.
__ADS_1
"Kei dah dewaca lho, ante. Angan andap atu nanak tecil" ucap Kei yang tak terima.
Fina pun memilih untuk berpura-pura tak mendengar ocehan dan protesan dari Kei itu. Fina langsung sibuk dengan cemilan di depannya. Kei masih saja menggerutu panjang pendek seakan mengumpati tingkah Fina.