
"Bagaimana ini, pa?" tanya Mama Irene kepada suaminya.
Setelah tadi sempat ditahan oleh dua satpam, akhirnya mereka dilepaskan juga. Tentunya satpam itu melepaskan keduanya setelah melihat mobil milik Arlin dan Aldo sudah keluar dari area perusahaan. Keduanya begitu kesal karena tak bisa berbincang dengan Arlin lebih lama lagi. Padahal mereka membutuhkan waktu agar bisa meyakinkan Arlin.
Sekarang mereka tengah berada di sebuah cafe yang berada pada seberang perusahaan Arlin. Mereka ingin memantau perusahaan itu sekaligus mencari seseorang yang kira-kira bisa membantunya. Namun tanpa mereka berdua sadari, semua karyawan perusahaan itu sudah diancam oleh Arlin akan langsung dipecat kalau sampai berhubungan dengan keduanya.
"Papa juga bingung, ma. Kita kalau mengaku dan minta maaf pada Arlin di media, pasti akan langsung dikeroyok massa. Kita juga harus siap mengembalikan uang donasi itu" ucap Papa Madin dengan pelan.
Bahkan kini Papa Madin terus mengusak rambutnya dengan kasar. Keduanya menggunakan masker wajah dan kacamata agar tak diketahui oleh orang-orang. Apalagi kini beberapa media masih berkeliaran didekat perusahaan Arlin. Beruntung tadi waktu keduanya datang kesana itu sedang tak ada para awak media.
"Kita pulang dulu yuk, pa. Lihat para awak media tuh udah mulai kumpul lagi didepan perusahaan karena jam pulang karyawan sebentar lagi. Padahal Arlin sendiri sudah pulang, benar-benar nggak ada otak tuh mereka. Kurang pintar cari berita" ucap Mama Irene sambil menjelek-jelekkan orang-orang disana.
Para awak media yang datang berpikir kalau Arlin akan keluar dari perusahaan saat jam pulang kantor sehingga mereka datang sore hari. Namun yang tak mereka pikir, Arlin adalah seorang bos yang bisa datang dan pulang sesuka hatinya.
Akhirnya Papa Madin dan Mama Irene pulang ke rumah dengan langkah cepat. Mereka menundukkan kepala saat melihat awak media terlihat berada didekat keduanya. Sepertinya mereka akan pergi membeli minuman sambil menunggu datangnya narasumber.
***
__ADS_1
"Arlin... Aldo... Kei..." teriak Mama Nei saat melihat anak, menantu, dan cucunya masuk kedalam mansion.
Mama Nei sedari tadi pagi sudah sangat khawatir akan kabar dari mereka bertiga. Saat dihubungi, ketiganya sama sekali tak memberi respons apapun. Hal ini dikarenakan Arlin dan Aldo mematikan ponselnya akibat banyaknya pesan juga panggilan masuk yang membuat keduanya pusing. Mereka tadi lebih fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya daripada mengurus hal tidak jelas seperti itu.
Mama Nei dan Papa Tito yang ada di mansion tentunya khawatir akan kondisi ketiganya setelah melihat acara gosip di TV. Bahkan bukan hanya acara gosip saja yang memberitakan, namun berita dimanapun menyiarkannya. Sungguh hal ini membuat mereka kelimpungan karena takut terjadi hal yang tak diinginkan.
"Kalian nggak papa kan? Mama dan papa khawatir karena kalian sama sekali nggak bisa dihubungi" lanjutnya dengan raut panik.
Kini Arlin dan Aldo juga Kei langsung digiring duduk di ruang keluarga. Kedua orangtua Aldo langsung saja menyidang anak dan menantunya itu agar bisa meluruskan permasalahan ini. Walaupun tadi Mama Nei dan Papa Tito sudah dikabari oleh pengacara keluarganya kalau Aldo sudah menunjuknya sebagai penasihat hukumnya. Bahkan Aldo sudah memintanya membuatkan surat somasi terlebih dahulu.
Keduanya tampak menghela nafasnya lega karena ternyata semuanya baik-baik saja. Padahal keduanya tahu kalau anak dan menantunya itu pintar namun mereka masih juga mengkhawatirkan semuanya. Apalagi mereka yang seorang pebisnis tentu otaknya mempunyai banyak pikiran cerdik untuk menyelesaikan masalah ini.
"Maaf karena tak mengabari kalian. Chatt dan panggilan di ponsel kami penuh dengan pertanyaan tentang berita itu. Kami yang pusing karena masalah perusahaan memilih untuk mematikan ponsel" ucap Aldo dengan sedikit merasa bersalah.
"Tak apa, kami mengerti. Lalu bagaimana kelanjutannya? Tadi Pak Lion menghubungi papa kalau sudah ditunjuk sebagai pengacara Arlin" ucap Papa Tito menjelaskan.
Arlin terlihat menghela nafasnya kasar. Seumur hidupnya berada di raga Lili, ia tak pernah menghadapi hal-hal seperti ini. Apalagi harus berhubungan dengan awak media hingga semua beritanya ditayangkan di TV. Ia sedikit takut kalau nantinya salah bicara atau melakukan kesalahan kecil namun bisa menjadi besar apalagi statusnya yang dulu seorang model.
__ADS_1
Apalagi status mertuanya yang menjadi pemilik rumah sakit dan selalu menjadi pusat perhatian orang kalangan bisnis. Ini akan menjadi sulit baginya untuk terhindar dari awak media. Image baik yang harus dipertahankan membuatnya tak bisa bergerak bebas.
"Iya, kita melayangkan somasi agar mereka meminta maaf dan mengaku kalau apa yang diucapkan tidak benar sampai esok hari batasnya. Nggak tahu deh mereka mau melakukannya atau tidak soalnya tadi aja keduanya datang ke kantor agar tak disuruh melakukan itu" ucap Arlin sambil geleng-geleng kepala.
Kedua mata Mama Nei dan Papa Tito melotot tak percaya. Seharusnya mereka malu dengan hadir didepan anak dan menantunya setelah apa yang diperbuat. Image menantunya sudah jelek namun dengan tak berperasaannya, mereka malah menemui orang yang dijelekkan.
"Ngapain mereka menemui kalian?" tanya Papa Tito yang yakin kalau mereka datang karena pasti ada maksud tertentu.
"Biasa, pa. Mintanya minta maaf hanya didepan kita saja, tak mau jika didepan media" ucap Aldo dengan santai.
Mama Nei dan Papa Tito tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Aldo. Tentunya anak dan menantunya takkan mau kalau minta maaf didepan mereka saja. Mereka saja dipermalukan didepan seluruh awak media dan ditonton jutaan orang, masa iya minta maaf hanya didepan Arlin dan Aldo saja.
Arlin pun masih tak menyangka kalau mereka bisa-bisanya meminta hal seperti itu kepadanya. Padahal pada surat somasi itu sudah dijelaskan kalau mereka hanya ingin permintaan maaf secara terbuka didepan media. Namun ya sudahlah, semua sudah terlanjur membuat Arlin dan Aldo hanya bisa bersabar.
"Mama nggak sabar melihat mereka ditimpukin botol sama netizen dan awak media karena berita sebelumnya yang palsu itu. Hidup mereka pasti akan berantakan, mana tinggalnya sekarang di lingkungan padat penduduk. Sudah pasti akan jadi bulan-bulanan para tetangga" ucap Mama Nei sambil terkekeh geli.
Arlin dan Aldo juga tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan kedua orang itu selanjutnya jika surat somasi yang dilayangkan itu benar-benar dilakukan oleh mereka. Pasti sanksi sosial akan benar-benar diterapkan disana. Sedangkan ia merasa beruntung tinggal di lingkungan komplek perumahan Aldo, disini jarang ada orang yang julid. Ah... Lebih tepatnya tak peduli dengan sekitar.
__ADS_1