
Kini Kei sudah berada dalam pelukan Arlin dengan rasa bahagia yang memuncak. Setelah perjuangan panjang, akhirnya Arlin bisa berjalan pelan menuju anaknya dan memeluknya dengan erat. Bahkan kini keringat pada dahinya sudah memperlihatkan bagaimana perjuangannya menahan sakit karena harus memaksakan berjalan lama.
Aldo dan kedua orangtuanya tersenyum melihat adegan yang begitu mengharukan itu. Bahkan Mama Nei kini langsung berjalan mendekat kearah menantu dan cucunya itu kemudian memeluknya dengan erat. Akhirnya satu per satu masalah anak dan menantunya selesai walaupun masih ada beberapa teka-teki yang harus diselesaikan.
"Akhirnya... Kamu bisa jalan juga walaupun masih tertatih-tatih. Sebentar lagi kamu bisa jalan biasa lalu jadi model lagi deh" seru Mama Nei dengan bahagianya.
Mendengar ucapan Mama Nei mengenai dirinya yang akan menjadi model lagi setelah sembuh kakinya membuatnya sedikit meringis pelan. Jiwa Lili yang bar-bar dan tidak cocok untuk melakoni pekerjaan seperti model tentunya tak bisa menerimanya. Apalagi harus berlenggak-lenggok diatas karpet merah dengan anggun.
Bahkan raut wajah Aldo pun langsung berubah dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Aldo memalingkan wajahnya karena tak ingin jika kemarahannya ini dilihat oleh orang-orang yang ada disana. Arlin mengerti itu karena suaminya tak menyukai jika dirinya kembali pada profesinya itu.
"Enggak, ma. Arlin sudah memutuskan untuk berhenti dari dunia modelling. Arlin ingin fokus ngurus keluarga dan perusahaan mama" ucap Arlin sambil tersenyum.
Mama Nei sebenarnya hanya memancing Arlin saja untuk mengatakan keputusannya tentang kedepannya. Pasalnya ia melihat ada keraguan dimata anaknya tentang masa depan rumah tangganya bersama Arlin jika nanti wanita itu sembuh. Oleh karena itu, Mama Nei ingin memastikan kalau anak dan menantunya itu mempunyai visi juga misi yang sama.
Aldo pun langsung mengalihkan pandangannya kearah Arlin sambil tersenyum bangga. Tentunya ia sangat bangga dengan istrinya yang memilih dengan tepat pilihannya itu. Bahkan kini Aldo langsung memeluk istri dan juga anaknya setelah Mama Nei memilih menjauh.
"Terimakasih sudah memilih kami dan meninggalkan duniamu itu" ucap Aldo sambil berbisik lirih.
"Duniaku yang sekarang hanya ada kamu dan Kei. Bahkan perusahaan pun hanya sebagai sampinganku saja karena yang utama adalah keutuhan rumah tangga kita" ucap Arlin membalas pelukan suaminya.
__ADS_1
Aldo tersenyum mendengar ucapan dari Arlin yang begitu menyejukkan dan membahagiakannya itu. Ia tak menyangka kalau ketakutannya selama ini ternyata salah. Kini ia harus membahagikan istri dan anaknya karena Arlin sudah mampu memilih sesuatu yang terbaik untuk keluarganya kelak. Aldo yakin kalau mereka kini akan diliputi kebahagiaan jika tujuan rumah tangga ini dibangun sama.
Mama Nei dan Papa Tito langsung saja tersenyum melihat kehangatan yang tercipta dari anak juga menantunya itu. Setelah adegan mengharukan itu, mereka pun kini memilih masuk dalam kamarnya masing-masing. Malam ini, mereka akan pergi ke restorant untuk merayakan kesembuhan Arlin walaupun belum sepenuhnya.
***
"Oma, cudah ciap elum? Napa lama cekali? Ndak ucah antik-antik, ntal opa cembulu lho" teriak Kei didepan pintu kamar Mama Nei.
Semua sudah berkumpul di ruang keluarga namun Mama Nei masih berada didalam kamarnya. Papa Tito pun langsung menyuruh cucunya agar memanggil istrinya yang memang selalu lama kalau berdandan. Ia tadi sudah meminta istrinya itu cepat dalam bersiap-siap namun ternyata masih lelet juga.
Ceklek...
"Sabar dong, Kei. Masa iya kalian cantik dan tampan tapi oma buluk gitu penampilannya" ucap Mama Nei yang baru saja muncul dari pintu kamarnya yang terbuka.
Tanpa menjawab apapun, Kei segera saja menarik tangan omanya itu agar segera pergi ke ruang keluarga. Papa Tito sudah menatap kearah istrinya itu dengan sedikit sinis walaupun Mama Nei merasa biasa saja.
"Ayo..." ajak Arlin.
Aldo langsung memapah Arlin kemudian mereka semua berjalan menuju mobil yang telah disiapkan. Segera saja mereka masuk dalam mobil kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan mansion. Arlin dan Aldo masih menggunakan masker untuk menutupi wajahnya nanti saat masuk restorant.
__ADS_1
Tak berapa lama, mobil memasuki halaman parkir restorant. Papa Tito yang mengemudikan mobil itu langsung saja menghentikan mobilnya di parkiran khusus kendaraan roda empat. Mereka keluar dari mobil dengan Arlin yang dibantu oleh suaminya dan semua berjalan masuk dalam restorant.
"Papa sudah booking tempat duduk di ruang VIP" ucap Papa Reza yang membuat mereka segera saja menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh salah satu pelayan yang menyambut tadi.
"Akhirnya... Kita bisa makan disini dengan nyaman" ucap Mama Nei yang melihat anak dan menantunya melepas masker.
"Papa cama mama napa patek maskel? Dicini ndak ada poluci tuh" tanya Kei dengan raut wajah lucunya.
Mereka semua hanya bisa terkekeh pelan mendengar ucapan dari Kei itu. Padahal mereka melakukan semua itu karena ada alasannya. Bukan karena ada debu atau polusi melainkan orang-orang yang mengenali keduanya kemarin. Bisa saja malah membuat restorant ini heboh dan mereka terganggu.
"Nggak papa, nak. Biar keren aja lho ini" ucap Arlin sambil terkekeh geli.
Mereka pun akhirnya makan dalam keadaan hening namun suasananya begitu hangat. Apalagi Arlin sedari tadi menyuapi Aldo dan Kei secara bergantian, hal ini membuat komunikasi antara mereka kini lebih erat. Setelah memakan semua makanan yang telah dihidangkan didepan meja, akhirnya mereka langsung saja berbincang seru.
"Kei bahagia tidak? Makan sama mama, papa, oma, dan opa" tanya Mama Nei sambil tersenyum.
"Cangat bagia. Tiap hali dini don" ucap Kei dengan sedikit protes.
Mereka tentunya hanya bisa tersenyum mendengar protes yang dilontarkan oleh Kei itu. Tidak mungkin mereka pergi seperti ini terus-terusan, yang ada malah tidak bekerja dan melakukan kegiatan lainnya.
__ADS_1
"Ya nggak bisa dong, nak. Yang terpenting itu bukan seberapa sering kita pergi jalan-jalan dan makan malam seperti ini. Tapi yang penting adalah kualitas dari kebersamaan ini. Percuma dong makan bersama tapi pada sibuk sendiri-sendiri. Mending rutin namun selalu membicarakan hal-hal penting disaat bertemu" ucap Arlin memberi pengertian.
Kei hanya menganggukkan kepalanya mengerti seakan ia paham dengan apa yng diucapkan oleh mamanya. Arlin tahu kalau anaknya tidak paham namun saat dewasa kelak pasti akan mengerti juga. Memang perlu diberikan pemahaman pelan-pelan tentang ini. Setelah menyelesaikan acara makan malam itu, mereka segera saja pulang ke mansion.