Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Menjauh


__ADS_3

Lili kini sudah berada di rumahnya setelah dua hari yang lalu keluar dari rumah sakit. Hari ini dirinya tengah disibukkan dengan berbagai revisi skripsinya yang beberapa hari tak ia sentuh karena sakit. Lili pun fokus dengan laptop yang ada di depannya hingga bunyi ketukan pintu mengalihkan pikirannya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk" seru Lili dari dalam kamarnya.


Lili yang berpikir kalau yang mengetuk pintu kamarnya itu adalah orangtuanya atau ART pun langsung menyuruhnya masuk dalam kamar. Tak lupa dengan ia yang langsung saja menatap kearah laptopnya kembali. Ia mencoba fokus pada apa yang ada di hadapannya ini.


"Calon mamamu ternyata masih sibuk dengan skripsinya, Kei" ucap seorang laki-laki dari arah belakang tubuh Lili.


Mendengar suara seorang laki-laki berada di dalam kamarnya, Lili segera saja mengalihkan pandangannya. Matanya melotot saat melihat seorang laki-laki dewasa yang tak lain adalah Aldo bersama dengan Kei berada di dalam kamarnya.


"Ngapain kalian berada di kamarku?" seru Lili yang masih menatap tak percaya kearah keduanya.


"Kan tadi kamu yang mengijinkan kami masuk dalam kamar. Iya kan, Kei?" ucap Aldo sambil bertanya pada anaknya untuk menguatkan ucapannya.


Lili hanya bisa menepuk dahinya pelan karena kecerobohannya itu. Lili pun kini beranjak dari duduknya kemudian mendekat kearah Aldo dan Kei. Lili pun menarik tangan Kei kemudian mendudukkannya di atas ranjangnya.


"Kei duduk di sini dulu ya. Tante mau bicara sama papanya Kei" ucap Lili memberi pesan pada bocah cilik itu.

__ADS_1


Kei menganggukkan kepalanya antusias. Awalnya tadi Kei sedikit takut saat bertemu dengan Lili karena kejadian di rumah sakit itu. Namun omanya meyakinkan dia kalau Tante Lili sudah memaafkan mereka semua. Sehingga ia takkan dimarahi atau dibentak oleh Lili lagi.


Lili pun segera saja mendekat kembali ke arah Aldo kemudian menariknya keluar dari kamar. Lili mengajak Aldo pergi keluar dari rumahnya karena tak ingin laki-laki itu berada di dalam. Ia tak ingin kalau sampai nanti terjadi fitnah kalau berada dalam kamar dengan seorang laki-laki.


"Pak Aldo, walaupun anda itu sudah saya maafkan tapi saya tak ingin terus-terusan melihat atau bahkan dekat dengan anda. Kalau bisa, kita nggak usah perlu ketemu selamanya" kesal Lili.


"Kenapa? Bukannya kamu sudah memaafkan saya. Seharusnya kalau saya datang ke sini untuk menjenguk kamu yang telah keluar dari rumah sakit itu nggak masalah dong" ucap Aldo dengan mata yang menatap intens gadis di depannya ini.


Aldo tadi memang berencana menjenguk Lili di rumah sakit. Namun saat sampai di sana, ternyata ruangan Lili itu sudah digunakan oleh pasien lain. Salahnya juga yang asal langsung menuju ruangan Lili tanpa mencari informasi di ruang resepsionis terlebih dahulu.


Setelah tahu Lili sudah keluar dari rumah sakit, segera saja Aldo mengajak anaknya pergi ke rumah gadis itu. Benar saja, Lili berada di rumahnya dengan fokus mengerjakan skripsinya. Tak lupa dengan Lili yang tak tahu dengan kehadiran keduanya. Bahkan ART yang membukakan pintu untuk Aldo dan Kei pun telah ia mintai tolong agar tidak memberitahukan kedatangannya.


"Memaafkan bukan berarti melupakan, Pak Aldo yang terhormat. Walaupun saya sudah memaafkan anda, tapi hati saya masih sakit atas ucapan anda. Tak lupa kalau pikiran saya masih mengingat atas penghinaan anda terhadap saya" ucap Lili yang kemudian mengalihkan pandangannya.


"Bukan urusan anda" ucap Lili yang kemudian membalikkan tubuhnya.


Lili segera berjalan kearah pintu rumahnya kemudian berhenti sebentar. Lili memalingkan wajahnya kearah Aldo yang terdiam mematung. Lili sedikit terkejut karena tatapan garang yang biasanya Aldo tujukan kepadanya itu berubah.


"Biar Kei berada di rumah saya dulu. Nanti akan diantarkan pulang ke rumah oleh sopir keluarga saya dengan selamat. Tenang saja, sopir keluarga saya takkan mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan dan memastikan Kei memakai seat beltnya dengan benar" lanjutnya seperti tengah menyindir aksi Aldo malam itu.

__ADS_1


Lili segera saja berlalu dari hadapan Aldo untuk masuk dalam rumahnya. Lili tak peduli dengan keadaan Aldo yang tengah galau karena ucapannya. Biarlah Aldo menyadari kesalahannya dan tak mengulangi perbuatannya itu di kemudian hari.


Aldo hanya bisa menghela nafasnya pasrah setelah pintu rumah itu tertutup rapat. Ia tak menyangka kalau ternyata Lili masih belum bisa memaafkan kesalahannya. Aldo pun langsung berjalan lesu menuju mobilnya. Beruntung kedua orangtua Lili tak berada di rumah sehingga tak mengetahui kejadian ini.


"Aku pastikan bisa meluluhkan hatimu. Entah mengapa dekat denganmu itu ternyata bisa membuatku nyaman seperti saat bersama Arlin. Namun kamu bukanlah Arlin, ada sesuatu yang istimewa dan berbeda dari istriku dulu" gumamnya penuh tekad.


Aldo pun segera pergi dari rumah Lili. Ia yakin kalau Lili akan menjaga anaknya itu dengan baik. Sedangkan di dalam kamar, Kei kini tengah bermanja ria dengan Lili. Keduanya sudah seperti ibu dan anak jika dilihat kedekatannya.


"Ante, Kei lindu cama ante. Angan malah-malah ladi tayak watu di lumah cakit ya. Kei tatut" ucap Kei mengungkapkan ketakutannya pada Lili.


"Enggak, maafin tante ya karena udah marah-marah sama Kei. Waktu itu tante sedang sakit, jadi semuanya tuh rasanya nggak enak. Inginnya marah-marah terus" ucap Lili memberi alasan.


Padahal waktu itu Lili masih dikuasai emosinya. Sekarang ia sudah lebih legowo menerima semua keadaan yang ada. Walaupun sudah memaafkan semua yang telah terjadi, namun menjauh dari Aldo akan tetap ia lakukan. Walaupun sepertinya agak sulit karena masih harus bertemun dengannya dan ada Kei di tengah-tengah mereka.


Rasanya Lili tidak tega melihat wajah Kei yang terlalu imut ini. Tak lupa kalau Kei itu mempunyai daya tarik tersendiri sehingga sangat sulit baginya untuk menjauh. Lili mengelus pipi Kei yang tembam dan halus itu.


"Cukullah talo ditu. Ante uga dangan dauhin Kei. Kei tan ndak calah apa-apa. Ni cemua calahna papa, adi malahin papa caja" ucap Kei yang malah menyalahkan papanya.


"Iya, kita salahin saja papamu itu ya karena yang salah adalah Papa Aldo" ucap Lili sambil terkekeh geli.

__ADS_1


Tentu saja Kei juga tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Lili. Kei setuju dengan Lili yang menyalahkan Aldo. Kei pun memeluk Lili dari samping kemudian memejamkan matanya. Kei begitu nyaman berada di pelukan Lili dan tak ingin kenyamanan ini berlalu begitu saja.


"Ya Allah, Kei ngin mama tayak Ante Lili. Tabultanlah Ya Allah... Amin" batin Kei dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


__ADS_2