
Lili hari ini kembali ke kampus untuk menemui dosen pembimbing skripsinya itu. Dengan membawa satu bundle kertas berisi skripsinya itu, Lili yakin kalau kali ini apa yang ditulisnya akan langsung diterima. Ia sudah berulangkali memeriksa tulisan hingga tata bahasanya.
Bahkan semua isi dari materinya itu sudah ia ingat dari mana sumbernya. Kalau sampai kali ini masih revisi, sudah pasti jika Aldo yang bersalah. Dosen pembimbingnya yang tak lain adalah Aldo itu sudah pasti tak bisa melihat atau memeriksa dengan benar kalau sampai masih revisi.
"Ayo semangat Lili" gumamnya saat melihat gerbang kampusnya sudah ada di depan mata.
Kini mobil yang dinaiki oleh Lili dan dikemudikan sopir keluarganya itu memasuki area kampus. Kali ini sopir keluarganya akan menunggu hingga Lili pulang dari kampus. Pasalnya kedua orangtua Lili tak ingin jika kejadian waktu itu terjadi lagi.
"Pak Yono lebih baik tunggu di kantin atau warung depan saja. Kan Lili belum tahu pulangnya nanti jam berapa. Pasti panas dan bosan kalau di sini terus" ucap Lili pada sopir keluarganya yang bernama Pak Yono.
"Baik, nona. Saya akan menunggu di warung depan saja soalnya di sana kelihatan banyak juga bapak-bapanya. Kalau di kantin kampus kan isinya anak muda semua" ucap Pak Yono sambil terkekeh.
"Tapi Nona Lili harus memanggil atau menunggu saya kalau sudah pulang ya. Saya tak ingin terjadi sesuatu lagi pada Nona Lili" lanjutnya memberi pesan.
Lili menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga tidak berniat pergi kemana-mana. Lagi pula kejadian kemarin itu karena diajak Aldo untuk ke mansionnya saja. Itu pun karena Aldo yang memaksanya untuk ikut padahal ia sebenarnya sangat malas.
Lili segera turun dari mobilnya kemudian berjalan pergi dari hadapan Pak Yono. Pak Yono juga memilih keluar area kampus untuk menunggu Lili di area depan institusi pendidikan itu. Lili menatap bangga kearah satu bundle kertas yang ada di tangannya itu. Bukti kerja kerasnya selama ini yang selalu ia coba untuk kerjakan.
"Liliput..." panggil seorang gadis yang tengah berlarian di halaman kampus demi mengejar Lili.
Lili yang mendengar suara orang yang memanggilnya pun langsung mengalihkan pandangannya. Padahal panggilan itu bukanlah nama aslinya namun Lili yang mengetahui suara siapa yang memanggilnya itu mau tak mau harus menoleh. Lili menatap kesal kearah seorang gadis yang kini malah cengengesan di depannya.
__ADS_1
"Badan segede gini dipanggilnya kok Liliput. Nggak cocok" kesal Lili dengan mencebikkan bibirnya.
"Uluh... Uluh... Beberapa hari nggak kelihatan di kampus tuh kemana aja, neng? Enak bener ya, kuliahnya bisa masuk sesuka hati. Aku juga pengen..." seru seorang mahasiswa yang tak lain adalah Fina.
Selama beberapa hari Lili tidak masuk ke kampus, Fina merasakan ada yang kurang. Bahkan Fina sudah berusaha meminta nomor ponselnya pada semua teman-temannya, namun mereka sama sekali tak punya. Memang dulunya Lili itu hanya berteman dengan Nada saja sehingga teman satu kelasnya jarang ada yang mempunyai nomor ponselnya.
Tak lupa juga kalau semua informasi yang ada di grup atau apapun itu, Lili selalu mengetahuinya dari Nada. Nada yang memasuki grup kelasnya itu kemudian memberikan informasinya kepada Lili. Entah itu informasinya benar atau tidak, namun dulu Lili selalu mempercayai ucapan Nada.
"Enak pala loe itu. Gue habis semedi nih beberapa hari biar bisa nih nulis segepok kertas berisi curahan hati gue" ketus Lili sambil menunjukkan satu bundle kertas yang ada di tangannya.
"Woilah... Pasti nih bentar lagi sidang skripsi. Jamin deh gue kalau loe bakalan langsung acc tuh skripsi karena hasil semedi tuh biasanya langsung moncer" seru Fina seakan meledek Lili.
Lili hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Fina yang begitu aneh dan random itu. Lili pun memilih untuk duduk sebentar di dekat ruang dosen karena tadi melihat kalau mobil Aldo belum ada. Fina pun menemani temannya itu agar tak kebosanan menunggu Aldo.
"Pasti dong. Gue bakalan do'ain loe biar cepat selesai tuh skripsi. Oh ya... Jadi kamu tuh benernya kemana beberapa hari ini?" tanya Fina dengan tatapan penasaran.
"Demam sampai masuk rumah sakit" jawan Lili sambil geleng-geleng kepala.
Sampai sekarang ia masih tak percaya kalau bisa demam seperti itu. Padahal selama ini, secapek atau banyak pikirannya, tak pernah sampai demam seperti itu. Bahkan dulu saat masih tinggal di kost dan bekerja paruh waktu, Lili sama sekali jarang mengeluh sakit.
Fina yang mendengar ucapan dari temannya itu pun melotot tak percaya. Padahal Lili ini terlihat seorang perempuan tangguh yang tak bisa sakit, menurutnya. Fina hanya bisa menggelengkan kepalanya karena rasa tak percaya itu.
__ADS_1
"Demi apa? Loe sakit? Bukannya loe itu jarang sakit. Buktinya yang paling rajin masuk kelas dulu itu ya loe sendiri" ucap Fina dengan raut wajah terkejutnya.
Lili hanya mengedikkan bahunya. Ia pun tak tahu dengan perubahan tubuhnya itu. Mungkin karena sekarang banyak yang perhatian padanya sehingga tubuh dan penyakitnya sedikit manja. Fina pun langsung meminta nomor ponsel Lili saat melihat Aldo telah memasuki ruangannya.
"Buruan sini nomor ponsel loe. Biar gue bisa contact loe kalau ada apa-apa" ucap Fina yang langsung menyerahkan ponselnya agar Lili bisa mengetik nomor hpnya.
"Nih udah. Gue masuk dulu buat konsultasi skripsi ini" ucap Lili yang kini juga mengikuti cara bicara Fina yang menggunakan loe-gue.
"Semangat, bestie" pekik Fina tertahan karena melihat banyaknya mahasiswa yang juga tengah menunggu dosennya.
Lili menganggukkan kepalanya dan tersenyum melihat semangat yang diberikan oleh Fina itu. Ia cukup senang berteman dengan Fina yang ternyata mudah bergaul itu. Lili menghela nafasnya untuk menetralkan perasaannya sebelum masuk dalam ruangan Aldo.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi, pak. Saya Lili ingin konsultasi skripsi" ucap Lili setelah mengetuk pintu ruangan Aldo.
"Masuk" ucap Aldo dari dalam ruangan itu.
Lili pun membuka pintu ruangan Aldo kemudian berjalan mendekat kearah meja kerja laki-laki itu. Di sana Aldo tengah memeriksa beberapa buku yang akan ia gunakan untuk mengajar siang nanti. Lili pun diam-diam menghela nafasnya karena aura dalam ruangan ini membuat dadanya sedikit sesak.
"Taruh saja di situ" ucap Aldo tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa tumpukan buku.
__ADS_1
Lilu pun meletakkan satu bundle skripsinya di atas meja kerja Aldo. Namun ia bingung apakah harus keluar dari ruangan ini atau menunggu. Sedangkan Aldo tak memberitahukan apapun mengenai hal ini.