Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Lega


__ADS_3

Bab skripsi yang diminta revisi oleh Aldo ternyata selesai juga. Lili diharuskan melanjutkan bab selanjutnya yaitu tentang hasil dari penelitian. Kebetulan penelitian itu sudah ia lakukan sebelum kecelakaan dulu di salah satu rumah sakit di kotanya.


Beruntung pihak rumah sakit mau membantunya untuk mendapatkan hasil penelitian dan lainnya walaupun ia sudah tak ada kabar selama lebih dari satu bulan. Besok Lili akan ke rumah sakit itu lagi untuk mendapatkan tanda tangan atau acc resmi dari beberapa data yang dikumpulkannya.


"Terimakasih, ma. Sudah membantu Lili sampai akhirnya bisa lanjut ke bab selanjutnya" ucap Lili dengan tersenyum lega setelah keluar dari ruangan Aldo.


"Sama-sama. Pokoknya kalau kamu butuh bantuan apa-apa langsung bilang sama mama. Apalagi kalau itu sudah menyangkut tentang Aldo" ucap Mama Nei dengan antusiasnya.


"Siap, ma. Kei, mungkin untuk beberapa hari ke depan Tante Lili nggak ke kampus. Soalnya Tante Lili akan pergi ke rumah sakit untuk menyelesaikan beberapa hal tentang penelitian skripsi" ucap Lili yang kini posisinya tengah berjongkok di hadapan Kei.


Kei yang mendengar ucapan dari Lili pun langsung memeluk erat gadis yang ada di hadapannya itu. Sungguh Kei akan sangat rindu dengan kehadiran dari Lili ini. Bahkan beberapa hari menurut Kei itu sangat lama. Sedangkan Mama Nei yang melihat adegan keduanya yang berpelukan itu segera saja memeluk mereka erat.


"Nggak papa ya Tante Lili nggak ke kampus dulu beberapa hari. Biar Tante Lili segera selesai itu skripsinya dan lulus" ucap Mama Nei memberi pengertian kepada cucunya.


"Emang talo di lumah cakit dali padi campe alam ya? Talo temu Ante Lili di lumah caja oleh ndak?" tanya Kei setelah mereka melepaskan pelukannya.


"Tante nggak bisa pastikan nantinya akan selesai di rumah sakit jam berapa. Khawatirnya kalau Kei menunggu di rumah, nanti tante pulangnya kemalaman dan malah nggak ketemu. Besok kalau Tante Lili sudah nggak sibuk di rumah sakit lagi, pasti akan langsung kabari oma" ucap Lili memberi pengertian pada Kei sambil mengelus lembut rambut dari bocah laki-laki di depannya ini.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Lili itu sontak saja membuat Kei menghela nafasnya kasar. Dengan pasrah, Kei segera saja menganggukkan kepalanya karena memang keadaannya tak memungkinkan untuk keduanya bertemu.


Lili pun kini bangkit dari posisi jongkoknya kemudian menggandeng tangan Kei. Ketiganya segera saja pergi dari lorong kampus kemudian berjalan menuju tempat parkir. Tanpa ketiganya sadari, sedari tadi Aldo terus memantau kegiatan ketiganya. Apalagi melihat interaksi antara Kei dan Lili yang sudah bagaikan sepasang ibu dengan anak.


"Apa aku harus membuka hati untuk kehadiran sosok perempuan lain selain Arlin? Rasanya begitu sulit melupakan kamu, Arlin. Tapi kehidupan kita sudah berbeda dan aku sadar kalau kita tak bisa bersama lagi" gumam Aldo dengan pandangan sendunya.


Aldo pun langsung saja pergi dari lorong kampus itu setelah tak melihat adanya tiga orang yang sedari tadi ia pantau. Aldo segera saja kembali ke ruangannya dan langsung menghubungi sopir keluarganya agar menjaga ibu juga anaknya.

__ADS_1


***


"Oma, Kei mau itut Ante Lili ulang ke lumahna oleh?" tanya Kei dengan tatapan penuh harap.


Kini ketiganya sudah berada di tempat parkir mobil. Lili juga sudah menghubungi Pak Yono agar segera kembali ke kampus. Terbukti kalau Pak Yono kini sudah menunggu Lili di samping mobilnya.


Lili dan Mama Nei yang mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu sontak saling pandang. Lili bingung kalau Kei ke rumahnya nanti pasti akan menjadi masalah untuk Aldo. Sedangkan Mama Nei juga bingung pasalnya ia belum ijin pada Aldo.


"Besok saja ya ke rumah Tante Lili. Kei belum ijin lho sama papa. Nanti kalau papa marah gimana?" tanya Mama Nei yang seakan menakut-nakuti cucunya dengan anaknya itu.


"Tan biacana oma ndak tatut cama papa. Ya cudah, bial oma caja yang adapi papa talo dia malah" ucap Kei dengan tatapan polosnya.


Mama Nei hanya bisa meringis tak percaya dengan ucapan cucunya itu. Walaupun memang benar adanya kalau dia tak takut dengan Aldo namun sebisa mungkin kini ia harus berkomunikasi dengan anaknya itu. Ia tak mau terjadi salah paham dengan Aldo apalagi tentang perkembangan atau tingkah Kei.


Lili paham kalau Mama Nei juga tak bisa menolak keinginan cucunya itu. Namun Aldo yang kemungkinan akan marah besar jika sampai tak ijin kepadanya, membuat Mama Nei juga harus memikirkannya. Kei pun dengan pasrah menganggukkan kepalanya dengan menuruti keinginan Lili dan Mama Nei.


Akhirnya Kei dan Mama Nei masuk dalam mobil kemudian sopir keluarga mereka segera melajukan kendaraannya keluar kampus. Begitu pula dengan Lili yang segera masuk dalam mobil diikuti oleh Pak Yono. Pak Yono mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang sesuai dengan perintah dari Lili.


"Besok jadwalnya apa, nona?" tanya Pak Yono.


"Besok Lili harus ke rumah sakit, pak. Lili ada penelitian di sana. Besok tolong siap-siap dari jam 7 pagi ya, pak" ucap Lili memberitahu jadwalnya besok.


Tentu saja Pak Yono yang sudah ditugaskan oleh kedua orangtua Lili agar menngantarkan kemanapun anak majikannya itu langsung saja menganggukkan kepalanya. Rutinitas yang selalu Pak Yono lakukan adalah bertanya kepada Lili tentang jadwalnya esok hari. Setidaknya ia bisa bersiap-siap terlebih dahulu agar majikannya tak perlu menunggu dirinya.


***

__ADS_1


"Lho... Itu bukannya Fina?" seru Lili yang melihat kehadiran teman kampusnya itu di pinggir jalan.


Namun Lili sedikit kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Fina di pinggir jalan. Padahal Fina tadi pamit kepadanya kalau ada kuliah, namun belum ada 3 jam dari pamitannya itu ternyata sudha bertemu gadis itu di sini. Lili segera meminta Pak Yono agar menepikan mobilnya itu.


Terlihat di sana Fina tengah berdiri di samping sepeda motor maticnya dengan wajah memberengut. Sepertinya Lili tahu kalau temannya itu sedang kesusahan atau tertimpa musibah. Lili pun segera keluar diikuti oleh Pak Yono dari belakangnya setelah berhasil menepikan mobilnya.


"Fin, ngapain di pinggir jalan? Lagi mau ngamen atau mangkal?" tanya Lili sambil terkekeh pelan.


Sedangkan Fina yang mendengar ada seseorang yang mengajaknya bicara pun langsung saja mengalihkan pandangannya. Fina mendengus kesal dengan Lili yang seakan menertawakan nasibnya itu. Kalau bukan Lili yang ada di hadapannya, sudah ia bogem mentah-mentah karena mengejek dirinya itu.


"Sialan loe. Gue kehabisan bensin nih, mati deh motir kesayangan gue" pekik Fina sambil mengacak rambutnya kesal.


Pasalnya pom bensin masih jauh dan di sekitar sana memang tidak ada warung. Salahnya juga yang tadi malah memilih jalanan sepi seperti ini agar bisa pulang dan terhindari dari kemacetan panjang. Lili yang mendengar hal itu langsung tertawa tanpa membantu apapun.


"Karma nih karena tadi ngajak Kei debat" ledek Lili sambil terkekeh pelan.


"Gimana dong? Bantuin napa. Dorong nih motir gue sampai dapetin pom bensin atau warung gitu" ucap Fina seakan meminta pertolongan pada Lili.


Lili pun menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga tak tega pada Fina karena bagaimanapun juga gadis itu sedang kesusahan. Namun untuk mendorongnya, Lili tentu saja tak mau. Akhirnya Lili memutuskan untuk meminta tolong pada Pak Yono agar membeli bensin di pom bensin menggunakan jerigen di dalam mobilnya.


Lili pun akhirnya ikut duduk di pinggir jalan bersama dengan Fina. Keduanya sudah seperti orang hilang di pinggir jalan karena duduk di sana. Apalagi kini Fina malah dengan santainya duduk di sana sambil mengupil hidungnya. Hal itu membuat Lili segera sedikit menjauh posisinya dari Fina.


"Jorok amat sih loe. Kelihatannya aja kalau di kampus paling higienis dan hits. Nyatanya tukang ngupil sembarangan" ucap Lili dengan bergidik ngeri.


"Bodo amat" ucap Fina sambil mengedikkan bahunya acuh kemudian melanjutkan kegiatannya.

__ADS_1


__ADS_2