
"Selamat pagi semuanya" sapa Lili pada semua anak-anak yang tengah berkumpul di sebuah gedung khusus area bermain.
Lili yang saat itu sedang memulai penelitiannya, tentu saja harus mendekatkan diri pada respondensnya. Lili mengambil sasaran kepada anak-anak penderita penyakit serius yang ada di salah satu rumah sakit. Selain melakukan penelitian, Lili memang ingin mendalami salah satu ilmu yang nantinya bisa ia gunakan saat melanjutkan jenjang pendidikannya.
Ia ingin membuat suatu metode agar penyakit yang diderita oleh pasien itu tak terlalu berpengaruh pada kondisi psikisnya. Ini hanyalah angan-angan dari otak kecilnya untuk mewujudkan sesuatu yang baru dalam dunia kesehatan kelak. Namun ia kesampingkan dulu urusan itu karena sekarang yang penting adalah dia menyelesaikan skripsinya.
"Pagi kakak cantik" seru semua anak-anak yang ada di sana.
"Wah... Kalian lagi main apa nih? Boleh nggak kalau Kak Lili ikutan. Eh tapi sebelum itu, perkenalkan dulu nama kakak itu Lilian. Kalian bisa panggil kakak dengan panggilan Kak Lili" ucap Lili sambil tersenyum ceria.
"Baik Kak Lili" seru mereka dengan senang.
Di sana sudah ada sekitar 20 orang anak-anak yang tengah sibuk bermain dengan wahana permainan yang disediakan. Mereka bukan sengaja dikumpulkan hanya demi penelitian skripsi Lili. Namun memang agenda setiap pagi setelah berjemur sebentar, pasti mereka akan di sini. Bermain bersama dengan teman seperjuangannya.
Ada yang duduk di kursi roda dan ditemani yang lainnya bermain boneka juga mobil-mobilan. Namun ada juga yang bermain perosotan bersama dengan yang lain. Kepala mereka tertutup dengan topi atau kupluk membuat wajah hampir keseluruhannya sama. Lili yang melihat mereka untuk pertama kalinya itu tentu merasa terharu.
"Lihatlah mereka... Walaupun penyakit ganas menggerogoti dalam tubuhnya, namun senyum dan tawa mereka tak pernah pudar. Mereka juga masih semangat untuk sembuh dan hidup berkelompok bersama dengan yang lainnya. Kamu juga harus seperti itu, jangan menyerah kalau nanti di depan akan banyak rintangan atau masalah apapun itu" bisik Dokter Yuni pelan saat menemani Lili waktu itu ke ruangan ini.
Lili hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia harus bisa belajar dan mengambil pelajaran dari anak-anak kecil yang semangatnya begitu membara ini. Bahkan beberapa anak juga mengajari temannya yang lain untuk membaca buku. Sungguh sangat erat sekali hubungan persaudaraan mereka itu, walaupun dia sendiri harus berjuang melawan rasa sakitnya.
"Kalian lagi mainan apa nih?" tanya Lili yang waktu itu langsung dikerumuni oleh semua anak-anak.
Bahkan walaupun baru bertemu pertama kali ini namun mereka sudah bisa akrab. Lili tersenyum melihat rasa penasaran mereka terhadapnya yang tak menggunakan jas dokter seperti perempuan paruh baya di sebelahnya.
__ADS_1
"Main apa saja yang ada di sini, Kak Lili. Oh ya... Kak Lili dokter? Kok datangnya sama Bu Dokter Yuni" tanya salah satu anak laki-laki bernama Deo.
"Kak Lili belum jadi dokter. Kak Lili baru akan menjadi dokter itu pun masih sedikit lama karena nanti masih harus ada beberapa tahapan belajar lagi" ucap Lili sambil mengelus lengan tangan Deo.
"Wah... Semoga cita-cita Kak Lili jadi dokter segera terkabul ya. Biar bisa sembuhin salah satu diantara kami" ucap Deo dengan polosnya.
Semua anak-anak yang ada di sana sontak saja menganggukkan kepalanya setuju. Lili dan Dokter Yuni tersenyum haru setelah mendengar ucapan polos itu. Keduanya jadi semakin bersemangat untuk mendedikasikan diri pada dunia kesehatan. Tentunya dengan membuat orang-orang yang sakit bisa sehat kembali.
"Kalau bisa semuanya sembuh, kenapa harus cuma salah satunya saja? Ayo kita semuanya harus semangat belajar dan sama-sama berjuang untuk sembuh" seru Lili dengan penuh semangat.
"Semangat" seru semuanya dengan tertawa.
Tawa renyah dan wajah-wajah polos mereka yang begitu semangat untuk sembuh membuat Lili bertekad bisa belajar dengan lebih baik. Mereka pun langsung mendengar dongeng yang dibawakan oleh Lili agar tak bosan kalau terus bermain saja. Lili juga tak ingin kalau sampai nantinya malah membuat mereka terlale kelelahan.
"Kenapa kok nggak mau bermain dengan teman-teman yang ada di luaran sana?" tanya Lili dengan tatapan herannya.
"Soalnya Amira selalu diledekin. Amira juga nggak bisa jalan dan lari, makanya mereka nggak mau main sama Amira" ucap Amira dengan tersenyum sendu.
Perbedaan fisik dengan orang-orang yang hidup normal lainnya tentu membuat beberapa anak-anak ini memilih untuk menarik diri. Oleh sebab itu mereka lebih nyaman dengan teman-teman seperjuangannya. Lili langsung memeluk Amira yang duduk di kursi rodanya dan mengelus punggungnya lembut.
"Kak Lili yang akan menjadi teman untuk Amira" ucap Lili dengan tulus.
"Deo juga" seru Deo dengan semangat.
__ADS_1
"Kami juga" seru semuanya.
Amira tersenyum dengan tulus. Bahkan senyumnya begitu manis, membuat semua orang di sana juga langsung tersenyum. Semenjak kejadian itu, hampir 3 minggu lamanya Lili sering ke sana. Mereka sangat dekat, bahkan saling menganggap keluarga satu sama lain. Bahkan ia mengambil beberapa sample penelitiannya itu seakan dilancarkan saja.
Apalagi orangtua dari pasien juga sudah menyetujui dan membantu proses penelitiannya. Mereka malah senang karena anak-anaknya semakin ceria. Apalagi semenjak Lili datang, mereka selalu bersemangat menunggu kehadiran gadis itu. Namun semangat mereka luntur setelah Lili menghilang karena kecelakaan. Pihak kampus sudah memberitahu pada rumah sakit yang bersangkutan kalau Lili yang melakukan penelitian di sana tengah sakit dan koma.
Semua anak-anak di sana merasa kehilangan, apalagi mendengar kabar sakitnya Lili. Mereka terus memanjatkan do'a bersama setiap hari agar Lili diberikan kesembuhan. Hingga akhirnya salah satu diantara mereka meninggalkan semuanya untuk menghadap Tuhan.
***
"Kak Lili..." seru seorang bocah laki-laki saat melihat kehadiran Lili dan Dokter Yuni.
Lili yang sedang teringat masa lalunya pun langsung terkejut mendengar suara panggilan itu. Di sana Deo langsung melambaikan tangannya kearah Lili dan disambut oleh gadis itu. Lili tak menyangka kalau Deo ternyata masih mengingat wajahnya.
"Deo..." seru Lili sambil tersenyum.
Semua anak-anak yang ada di sana juga langsung mengerumuni Lili. Walaupun ada beberapa pasien baru, namun mereka juga langsung akrab dengan gadis itu. Apalagi mereka mendengar dari teman-temannya yang lain kalau Lili adalah gadis yang baik. Mereka juga langsung ingin mengakrabkan diri.
"Kak Lili... Amira ninggalin kita" seru Deo tiba-tiba setelah melepaskan pelukannya.
************************************
Cerita ini hanyalah karangan dan fiksi belaka. Dalam bab ini, author tak bermaksud menyudutkan siapapun atau instansi manapun. Author juga tak secara jelas menyebut penyakit apa agar nanti tak menimbulkan masalah 🙏
__ADS_1