
"Wah... Cekolahna becal cekali. Banak duga nih teman-temanna di cini" ucap ucap Kei yang kini tengah digandeng tangannya kanan kiri oleh Aldo dan Lili.
Kei yang melihat gedung sekolahnya yang besar dan luas itu begitu kagum. Bahkan banyak sekali anak-anak seusianya yang tengah memakai seragam yang sama dengannya. Kei begitu senang karena nantinya akan mendapatkan teman banyak.
Apalagi kini dirinya tengah digandeng oleh Lili dan Aldo. Ketiganya sudah sangat mirip dengan keluarga yang bahagia. Lili yang juga selalu tersenyum di depan semua orang dengan Aldo yang raut wajahnya begitu datar namun tampan. Perpaduan yang sangat sempurna jika dilihat oleh orang-orang di sana.
"Kei senang sekolah di sini? Nanti Kei pasti punya banyak teman" ucap Lili tak kalah antusiasnya dengan Kei.
"Wah... Delas dong. Kei halus puna banak teman yang baik" ucap Kei penuh keyakinan.
"Makanya Kei harus baik sama yang lainnya biar semuanya mau berteman sama kamu" ucap Lili memberi pesan.
Kei tentunya menganggukkan kepalanya antusias. Ia juga ingin mempunyai teman banyak agar tak kesepian ketika berada di rumah atau luar. Dengan berada di sekolah ini, Kei berharap kalau dia tidak akan sendirian lagi. Sedangkan Aldo sendiri sedari tadi hanya diam sambil mendengarkan keduanya yang tampak akrab.
Kini ketiganya sudah sampai di depan kelas yang akan dihuni oleh Kei. Lili dan Aldo langsung memposisikan tubuhnya setengah berjongkok di hadapan Kei. Keduanya sudah seperti sepasang orangtua yang sangat menyayangi anaknya.
"Harus nurut sama guru dan baik sama temannya ya, Kei. Belajar yang rajin" pesan Lili pada Kei membuat bocah cilik itu menganggukkan kepalanya antusias.
"Kalau ada yang nakal sama kamu, pukul atau cubit itu orang. Jangan mau kalah. Anak papa harus menang dan berani" ucap Aldo dengan menggebu-gebu.
Mendengar hal itu, tentu saja membuat Lili langsung memelototkan matanya kearah Aldo. Sedangkan Aldo sendiri merasa tak bersalah sama sekali. Ia tak mau kalau sampai anaknya menjadi penakut dan mudah ditindas.
"Nanti kalau Kei mukul temannya, bisa-bisa dia dijauhi sama yang lainnya. Kasihan kan..." ucap Lili yang protes pada ucapan Aldo itu.
__ADS_1
"Lah... Kalau itu temannya pukul, ya balaslah. Masa diam saja. Papa nggak mau kalau wajah tampan Kei ini ada sedikitpun luka karena mengalah" ucap Aldo memberi alasan.
"Betul tuh tata papa. Kei atan dadi nanak pembelani. Ciapapun yang nantanin Kei, batalan Kei lawan" ucap Kei dengan percaya dirinya.
Aldo yang melihat itu merasa bangga dengan ucapan Kei. Sedangkan Lili hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Dia kesal dengan Aldo yang malah mengajarkan anaknya menjadi ringan tangan itu. Kei pun masuk dalam kelas setelah dipanggil oleh beberapa guru di sana.
Lili masih mengintip pada pintu kelas untuk memastikan Kei baik-baik saja dan mau berbaur dengan temannya. Bahkan Lili berbaur dengan ibu-ibu lainnya yang sangat penasaran akan aktifitas anaknya itu. Lili sedikit khawatir jika nantinya Kei malah takut karena hanya ada orang baru di sana.
***
"Saya ke kampus dulu. Saya titip Kei, kalau ada yang membullynya langsung kamu hajar saja. Urusan tanggungjawab, biar menjadi urusanku" ucap Aldo.
Setelah melihat kearah Kei yang tampak tenang dan senang berada di dalam kelas, Lili segera mencari tempat duduk di bawah pohon. Aldo pun langsung mendekatinya karena ingin berpamitan pada gadis itu. Ia harus segera bekerja karena ada jadwal mengajar di kampus.
"Jangan mengajari anak anda menyelesaikan sesuatu pakai kekerasan, pak. Itu tidak baik untuk ke depannya. Apalagi Kei masih kecil, yang hanya bisa menelan mentah-mentah ucapan anda" ucap Lili memperingatkan Aldo.
Lili yang mendengar hal itu tentu santai ingin sekali menjitak kepala dan menguncir mulut Aldo itu. Seenaknya Aldo bisa mengucapkan hal itu yang nantinya malah akan berdampak pada kondisi Kei. Aldo pun langsung melenggang pergi setelah berpamitan kepada Lili.
Lili mendengus sebal dengan ucapan santai Aldo itu. Ingin sekali ia mengomelinya namun ia sadar kalau dirinya bukan siapa-siapa Aldo dan Kei. Ia paham kalau berada dekat dengan mereka itu karena keinginan Kei semata.
***
"Ibu di sini nunggu siapa? Nikah muda ya, bu? Kok masih muda sudah antar anaknya ke sekolah" tanya salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
__ADS_1
Memang setelah Aldo pergi, beberapa ibu-ibu langsung duduk mendekat kearahnya. Lili sedikit tak nyaman dengan pandangan ibu-ibu itu yang menatapnya begitu intens. Bahkan mereka melihat dirinya dari atas ke bawah seakan menilai penampilannya.
Tentu saja penampilan Lili yang bak anak kuliahan itu membuat dirinya takkan dipikir sebagai seorang babysitter. Justru ibu-ibu itu berpikir kalau Lili ini menikah muda. Lili merasa sedikit tak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah satu ibu-ibu itu. Bahkan semuanya juga ikut menatapnya begitu penasaran.
"Saya menunggu keponakan, bu. Dia sekolah di sini juga. Hari pertama masuk" ucap Lili memberi alasan.
"Keponakan apa anaknya? Kok tadi kelihatannya mbak ini ibu dari anak yang digandeng itu ya. Apalagi tadi ada cowoknya yang dipanggil papa, kan?" tanya ibu-ibu lainnya.
Ternyata ada yang mendengar dan melihat dirinya bersama dengan Kei juga Aldo. Lili semakin terpojok apalagi tadi ada yang mendengar tentang panggilan Kei pada Aldo. Namun Lili mencoba tenang dan menghela nafasnya untuk menetralkan kegugupannya.
"Iya, memang tadi itu papanya. Tapi saya ini tantenya. Papanya tidak bisa menunggu di sini karena harus bekerja. Makanya saya dimintai tolong sama kakak saya itu untuk menjaga keponakan saya. Ibunya sudah meninggal, jadi jangan bawa-bawa dia. Khawatirnya nanti malah ngikutin kalian pulang lho" ucap Lili yang dengan usilnya malah menakut-nakuti ibu-ibu yang ada di sana.
Sontak saja ibu-ibu yang tadinya sangat penasaran dengan Lili pun memilih sedikit menjauh. Mereka malah kini sedikit merinding karena ucapan dari Lili itu. Lili diam-diam menahan tawanya karena berhasil mengusir ibu-ibu kepo itu.
Lili juga memilih untuk mengaku sebagai adik dari Andre agar tidak ada kesalahpahaman. Apalagi Kei memanggilnya dengan panggilan tante, jadi sedikit masuk akal alasannya kali ini. Lili menunggu di depan kelas itu selama hampir dua jam dan sebentar lagi Kei akan keluar dari kelasnya untuk istirahat.
Teng... Teng... Teng...
Semua siswa berbondong-bondong keluar. Lili sudah berdiri untuk menanti kedatangan Kei. Tak lupa juga dengan membawa makanan yang sengaja dibawanya dari rumah. Ia yakin kalau Aldo tidak tahu perihal anak-anak sekolah seperti ini yang seharusnya dibawakan bekal dari rumah.
"Ante Lili..." seru Kei sambil melambaikan tangannya kearah Lili setelah keluar dari kelas.
Bahkan seruan itu membuat ibu-ibu yang tadinya sangat penasaran dengan status Lili pun menjadi bungkam. Mereka yang berpikir kalau Lili adalah ibu muda ternyata salah menduga. Lili yang kemungkinan besar adalah tante dari bocah cilik itu karena panggilannya.
__ADS_1
Kei pun berlari kearah Lili yang sudah merentangkan kedua tangannya. Lili memeluk Kei dengan erat bahkan langsung menggendongnya. Bahkan Lili juga langsung membawa Kei kearah taman sekolah itu. Kei yang melihat bekal yang dibawakan oleh Lili sangat bahagia.
"Wah... Matacih, Ante Lili. Cudah bawatan Kei betal matanan" ucap Kei dengan senyuman tulusnya.