Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Ketus


__ADS_3

"Aldo, jangan kejam-kejamlah sama orang. Apalagi itu mengucapkan ucapan pedas pada seorang perempuan" kesal Mama Nei yang langsung menegur anaknya itu.


Aldo melengoskan wajahnya bahkan terkesan tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh mamanya itu. Namun Aldo segera saja berjalan pergi dari ruang keluarga ke ruang makan. Ia sudah lapar dan malas berdebat dengan ibunya.


Ia pikir saat keluar dari kamarnya tadi, Lili sudah pulang ke rumahnya sendiri. Ternyata gadis itu masih di mansionnya. Sepertinya Aldo lupa kalau yang membawa Lili ke mansionnya itu adalah dia sendiri. Jadi sudah sepatutnya bagi Aldo untuk mengantarkan Lili kembali ke rumahnya.


"Maafin anak mama ya. Dia memang suka begitu, kalau ngomong suka nggak dipikirin. Tapi kalau udah cinta, beuh bakalah dibucinin maksimal sama dia" ucap Mama Nei dengan melebih-lebihkan.


Lili sedikit tertawa canggung dengan apa yang diucapkan oleh Mama Nei itu. Pasalnya kalau sudah berkaitan dengan cinta, Lili lebih memilih mundur perlahan. Hatinya seolah sudah beku hingga tidak bisa merasakan arti cinta yang sebenarnya.


Hal ini dikarenakan ia sudah dikhianati oleh dua orang terdekatnya sekaligus dalam kehidupan nyatanya. Sedangkan saat di dalam raga Arlin, cintanya hanya bisa ia rasakan dan ungkapkan untuk mertua juga anaknya. Untuk perasaannya kepada Aldo, itu hanya sebatas nyaman saja.


"Nggak papa kok, ma. Lagi pula tadi rencananya Lili memang mau pulang, eh malah keterusan ngobrol di sini" ucap Lili tak enak hati.


"Ish... Ante Lili ndak ucah ulang bulu. Ayo tita matan malam belcama lalu emani Kei tidul" ajak Kei dengan tatapan penuh harapnya.


Bahkan Kei langsung saja berdiri dari duduknya kemudian menarik tangan Lili yang linglung. Sepertinya Kei tak ingin jika Lili pergi meninggalkannya secepat ini. Setelah tersadar, Lili langsung menatap kearah Mama Nei dengan tatapan minta pertolongan.


Namun Mama Nei hanya tersenyum tipis sambil menatap kearah Lili. Tatapannya sangat sulit diartikan membuat Lili bingung. Selama dulu tinggal bersama dengan Mama Nei saat menjadi Arlin, Lili tidak pernah melihat tatapan seperti ini ia jadi seperti merasakan sesuatu yang tak enak.

__ADS_1


"Papa, angan ahat-ahat atau usil Ante Lili. Dia tu tamutu, papa ndak ucah itut campul. Ndak ucah uga culuh dia ulang, anti bial Kei cendili yang antal ante" seru Kei saat memasuki ruang makan.


Bahkan Aldo yang menyuapkan sesuatu kearah mulutnya sampai tersentak kaget dengan seruan tiba-tiba itu. Tak lupa juga dengan Papa Tito yang tadinya tengah meminum kopi yang ada di cangkirnya. Papa Tito sampai mengurungkan niatnya untuk minum karena takut tersedak.


"Kei, jangan teriak-teriak pada orangtua. Ngomong yang benar" tegas Aldo membuat Kei sedikit takut.


Bahkan Kei juga langsung memundurkan langkahnya ke belakang tubuh Lili. Tatapan Aldo yang sangat tajam kearah anaknya itu membuat Kei takut. Papa Tito langsung saja menepuk bahu anaknya itu agar tak membuat takut cucunya sesaat setelah ia berdiri.


Papa Tito berjalan kearah cucunya kemudian menggendongnya. Kei pun menurut saja, pasalnya di sini hanya ada Papa Tito yang bisa menyelamatkannya. Tentu saja Mama Nei yang baru saja datang malah kebingungan dengan wajah-wajah tegang yang terlihat.


"Ayo Lili, kita makan malam bersama dulu. Jangan lupa hubungi orangtuamu biar tidak khawatir. Nanti biar Aldo yang mengantarkanmu pulang, kan tadi kamu ke sini juga pasti atas paksaan anak mama kan?" ucap Mama Nei sambil menatap sinis anaknya yang hendak protes.


Tentu saja Mama Nei tahu kalau anaknya itu yang pasti akan memaksa Lili datang kemari. Sehingga anaknya itu harus bertanggungjawab dengan mengantarkan Lili kembali pulang. Aldo hanya bisa menghela nafasnya kasar karena terpaksa mengikuti perintah dari mamanya itu.


"Kei, kenapa diam saja?" tanya Mama Nei sambil mengunyah makanannya.


"Angan matan cambil ngobol, ndak copan" peringat Kei yang seperti sebuah sindiran.


Pasalnya itu adalah peringatan atau teguran yang selalu dilayangkan oleh Aldo saat berada di ruang makan. Mama Nei yang tahu kalau cucunya itu tengah ngambek dengan papanya itu hanya bisa menghela nafasnya lelah. Mama Nei sampai kesal kalau keduanya sudah terlibat perseteruan.

__ADS_1


"Ante, cuapin Kei ya" ucap Kei dengan tatapan permohonan.


"Makan sendiri, Kei. Jangan manja" tegur Aldo pada anaknya yang banyak tingkah itu, menurutnya.


Tanpa mempedulikan ucapan papanya, Kei turun dari pangkuan opanua. Kei segera saja berjalan kearah Lili kemudian mengulurkan kedua tangannya pada gadis itu. Lili pun segera saja meraih Kei dalam gendongannya dan langsung didudukkan di atas pangkuannya. Lili menyuapi Kei dengan telaten membuat Aldo hanya bisa mendengus kesal.


Setelah selesai makan malam, Kei segera saja menarik tangan Lili menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan Lili yang berada di sampingnya. Lili mengusap lembut punggung Kei agar bocah kecil itu bisa segera tidur dengan nyenyak.


"Telimakacih, ante. Cudah temani Kei obok, pati anti Kei batalan tidul nenak" gumam Kei yang kemudian tertidur dengan pulasnya.


"Terimakasih juga sudah hadir dalam kehidupan tante. Tante bahagia bisa mengenal Kei" bisik Lili tepat pada telinga Kei. Lili yang melihat Kei sudah tertidur dengan pulas pun akhirnya segera mengubah posisinya menjadi duduk.


Lili segera memperbaiki posisi Kei dan selimutnya. Lili mencium kening Kei dengan sayang sambil mengelus pipinya. Lili tersenyum melihat Kei tidur dengan tenangnya. Setelah memastikan Kei tidur, Lili segera keluar dari kamar Kei kemudian menuju ke ruang keluarga.


"Ma, pa... Lili langsung pulang ya. Nanti takutnya kemalaman dan nggak ada taksi atau angkutan yang lewat dekat halte" ucap Lili dengan terburu-buru mengambil tasnya yang ditinggal di ruang keluarga.


"Eh... Biar diantar Aldo saja. Bahaya malam-malam begini kalau naik angkutan umum" ucap Mama Nei yang langsung mencegah Lili yang akan pergi.


"Apaan sih, ma? Aldo nggak mau ya ngantar dia" ketus Aldo.

__ADS_1


"Aldo, kamu yang bawa dia ke sini. Antar dia pulang atau papa tendang kamu biar nyangkut di atas pohon rambutan depan mansion" kesal Papa Tito yang menggunakan ancaman bak Aldo seperti anak kecil yang mudah dibohongi.


Aldo menatap sinis kearah papanya itu. Aldo tentunya tak bisa dibodohi oleh pria paruh baya itu. Ia sudah besar, tak seperti dulu saat masih menjadi anak kecil yang mudah dibodohim


__ADS_2