Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Aldo Menyebalkan


__ADS_3

"Pokoknya saya tidak mau tahu, mereka berdua harus dihukum seberat-beratnya. Kalau sampai hukumannya sedikit, sudah pasti saya akan bertindak untuk menghajar mereka sampai sekarat" ucap Aldo dengan menggebu-gebu.


Tadi saat masuk, Aldo langsung diarahkan ke ruangan khusus. Beberapa polisi menunjukkan beberapa bukti tentang alasan terjadinya kejadian tabrak lari itu. Ia sudah tak peduli lagi dengan siapa yang membawa bukti-bukti. Yang terpenting saat ini adalah ia bisa mengetahui motif kejadian ini tanpa harus berhadapan dengan pelaku.


"Kami siapkan dulu beberapa dokumennya untuk diserahkan ke kejaksaan. Semua keputusan nantinya akan dihukum seperti apa itu merupakan kewenangan dari hakim atau pengadilan" ucap polisi itu menenangkan Aldo yang emosi.


Aldo mendengus kesal, ia sudah malas kalau nantinya harus datang sidang dan lainnya. Bahkan dengan tanpa sopannya, Aldo keluar dari ruangan itu kemudian berlalu meninggalkan papanya dan Kei yang sedari tadi mengikuti.


"Dasar anak semprul. Main tinggal-tinggal aja" kesal Papa Tito sambil menghela nafasnya kasar.


"Maafkan anak saya yang tidak sopan itu ya, pak. Maklum, duda baru tuh yang begitu" ucap Papa Tito sambil bercanda pada polisi yang mungkin saja kesal karena ulah anaknya.


"Tidak apa, pak. Kami paham" ucap salah satu polisi memaklumi.


Papa Tito menganggukkan kepalanya kemudian berpamitan dengan beberapa polisi yang ada disana. Bahkan Papa Tito belum sempat untuk menurunkan Kei dari gendongannya namun Aldo malah sudah menyelonong pergi.


"Opa, cempul tu apa?" tanya Kei sambil menatap Papa Tito dengan wajah menggemaskannya.


Papa Tito yang mendengar ucapan cucunya itu sontak saja terkejut. Pasalnya ia tadi mengumpati anaknya itu karena keceplosan namun malah Kei mendengar dan menelan mentah-mentah ucapannya. Sungguh, Papa Tito hanya bisa merutuki kebodohannya karena mengucapkan kalimat kurang baik di depan cucunya.


"Emm... Nakal. Iya papa nakal" ucap Papa Tito.

__ADS_1


Kei hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian berjalan pergi dari kantor polisi. Mereka segera masuk dalam mobil, sedangkan Aldo sudah duduk di kursi penumpang. Papa Tito benar-benar ingin menjitak anaknya itu agar tak menyebalkan seperti hari ini.


Papa Tito meletakkan Kei di sebelahnya duduk, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Aldo sendiri hanya menatap ponselnya dengan pandangan yang begitu fokus. Ia tengah berkomunikasi dengan Pak Lion mengenai kasus ini dan juga pemindahan kekuasaan perusahaan Arlin. Beruntung sebelum Arlin meninggal, ia sudah menandatangani semua berkas pengalihan kekuasaan.


***


Aldo datang ke perusahaan istrinya dengan didampingi oleh Papa Tito dan Kei. Sejak dini, Aldo akan memperkenalkan pada Kei kalau perusahaan ini adalah milik bocah kecil itu agar suatu saat nanti ia tak perlu memberitahu apa yang harus dilakukan anaknya. Tentu dengan Kei yang tahu kalau ini adalah perusahaan miliknya, ia akan mempunyai tanggungjawab untuk memajukannya. Terlebih itu adalah milik mamanya sendiri.


"Saya disini akan mengumumkan pada kalian semua" seru Aldo yang langsung memberi pengumuman di lobby perusahaan.


Beberapa karyawan langsung saja berkumpul di lobby perusahaan untuk mendengar pengumuman dari suami atasannya itu. Setelah pengumuman pada karyawan, nanti Aldo akan mengadakan rapat untuk petinggi perusahaan mengenai hal ini. Terlebih saat ini memang perusahaan dalam masa berkabung sehingga aktifitas belum terlalu kembali normal.


"Perusahaan ini sudah diwariskan dan diatasnamakan anak kami, Kei. Bocah kecil ini yang nantinya akan menjadi pemimpin perusahaan mamanya. Sedangkan saya disini, hanya akan memimpin hingga Kei nanti bisa mengambil alih tanggungjawabnya. Jadi kalau ada orang-orang yang mengaku sebagai ahli waris atau keluarga dan pemilik perusahaan ini, jangan percaya" lanjutnya dengan berteriak.


Prok... Prok... Prok...


Semuanya bertepuk tangan dengan meriah karena pengumuman ini. Mereka tak menyangka kalau perusahaan ini selanjutnya akan jatuh pada anak dari Arlin dan Aldo. Padahal sebelumnya mereka menduga kalau perusahaan dan seluruh harta dari Arlin akan menjadi milik Papa Madin, ayah kandung wanita itu.


Mereka begitu senang karena perusahaan ini tak jatuh di tangan Papa Madin yang terlihat culas. Bahkan dulu perusahaan ini hampir bangkrut karena tindakan gegabah dari Papa Madin. Beruntung Aldo waktu itu mengambil alih walaupun sempat kecolongan juga karena laki-laki itu jarang masuk kantor.


"Nanti bisa juga saya yang mewakili Aldo dan Kei. Jika Aldo harus mengajar di kampusnya, saya yang akan mengambil alih semua rapat dan pengecekan berkas. Untuk semua pengambilan keputusan, tentu akan saya diskusikan dengan Aldo selaku pemimpin perusahaan ini" timpal Papa Tito.

__ADS_1


Mereka semua menganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun terkesan keluarga suami Arlin yang menguasai harta dari wanita itu, namun ini lebih baik. Terlebih Papa Tito jauh lebih berkompeten dibandingkan dengan Papa Madin.


Beberapa kali Papa Tito malah datang ke perusahaan bersama dengan Arlin. Jadi sudah pasti Arlin mengetahui bagaimana kinerja dari Papa Tito yang beberapa kali juga menggantikannya rapat. Setelah pengumuman itu, semua langsung membubarkan diri.


"Kamu yakin bisa menghandle semua ini? Papa nggak mau kalau sampai kamu nggak punya waktu dan perhatian lebih kepada Kei karena sibuk bekerja" ucap Papa Tito yang kini sudah berada dalam lift.


"Mungkin yang akan lebih banyak di sini adalah papa. Aku seperti ini karena tak mau oranglain berpikiran kalau papa dan mama mau menguasai harta Arlin. Biar nanti orang pikirnya Aldo lah yang menguasai semuanya sebelum Kei dewasa" ucap Aldo mengutarakan alasannya.


Papa Tito hanya menganggukkan kepalanya saja. Sedangkan Kei yang sedari tadi mendengar pembahasan papa dan kakeknya itu pun hanya diam mencerna semua. Ada beberapa ucapan yang membuatnya sedikit mengerti namun ia juga bingung secara bersamaan.


"Kei dadi milik pelucahaan mama? Woh... Atu macih tecil, tok dah taya. Adi puna pelucahaan ini lho" ucap Kei dengan bangganya.


"Iya dong, ini hadiah dari mama untuk kamu. Kalau dewasa nanti, kamu yang akan menjadi pemimpinnya. Kalau sekarang, kamu cukup jadi pemiliknya sana tapi tak usah bekerja" ucap Papa Tito sambil tersenyum.


Kei menganggukkan kepalanya mengerti. Ia hanya paham kalau perusahaan ini suatu saat nanti akan jadi miliknya kalau sudah besar. Bahkan ia juga akan bekerja di sini. Untuk saat ini, ia hanya tahu kalau punya perusahaan tapi tak perlu bekerja di sini.


"Kei senang dapat hadiah dari mama?" tanyanya.


"Cenang dong, opa. Tata mama, talo tita puna pelucahaan ndak pelu kelja agi talna cudah ada talyawan. Inggak ontang-ontang tati, uwit ngalil" ucap Kei sambil tertawa.


Aldo dan Papa Tito hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar apa yang diucapkan oleh Kei itu. Walaupun ucapannya benar, saat ini Kei hanya akan ongkang-ongkang kaki dan uangnya mengalir.

__ADS_1


__ADS_2