
Semesta seakan tak mengijinkan Lili merasakan kebahagiaan yang lebih lama bersama dengan keluarga dosen pembimbing skripsinya itu. Pasalnya, kini tubuh Arlin yang baru beberapa minggu kecelakaan itu ternyata sudah kembali terbujur lemah diatas ranjang rumah sakit. Kejadian yang begitu tiba-tiba hingga mengguncang batin Aldo dan Kei.
Beberapa jam yang lalu, sebuah mobil melaju kearah Arlin yang masih fokus pada Aldo dan Kei yang berlarian. Tentu kedatangan mobil itu tak disadari oleh Arlin apalagi posisi dirinya juga berada ditepi jalanan komplek. Sedangkan Aldo dan Kei memang tahu adanya mobil itu namun tadi kendaraan itu tak menyala dan sedang terparkir dibahu jalan.
Setelah mobil melaju dan menabrak Arlin hingga terpental, kendaraan itu langsung saja pergi melarikan diri. Sedangkan Aldo dan Kei langsung saja mendekat kearah Arlin yang sudah berlumuran darah.
"Mama, angan inggalin Kei" seru Kei saat melihat tubuh sang mama tidak bergerak sama sekali.
"Kei, pulang dan minta bantuan pada oma juga opa" titah Aldo dengan raut wajah paniknya.
Kei pun menganggukkan kepalanya kemudian berlari menuju rumahnya sambil selama perjalanan berteriak minta tolong. Tentunya beberapa penghuni komplek yang mendengar teriakan minta tolong itu segera keluar dari rumahnya.
"Ada apa, Kei?" tanya salah satu tetangga yang mengenal anak dari rekan bisnisnya itu.
"Mama ditablak obil, dicana" ucap Kei sambil menangis dan menunjuk dengan jari telunjuknya kearah tempat Arlin pingsan.
Tolong... Tolong... Tolong...
Sontak saja tetangga itu segera saja membantu Kei untuk berteriak meminta tolong. Kei juga langsung digendong tetangganya itu untuk pergi sampai di mansionnya. Tentu langkah kaki Kei yang kecil akan lama kalau dibuat berlari sehingga tetangganya itu berinisiatif mengantarnya.
"Ibu Nei... Pak Tito... Menantunya kecelakaan" teriak tetangganya begitu heboh setelah masuk area mansion.
Mama Nei dan Papa Tito yang rencananya memang akan menyusul anak, menantu, juga cucunya untuk berolahraga bersama. Saat keduanya tengah berjalan keluar mansion, ternyata ada tetangganya yang berteriak. Mereka terkejut dengan apa yang diteriakkan itu sehingga langsung bergegas keluar.
__ADS_1
"Oma... Opa..." seru Kei dengan wajah yang sudah bercucuran air mata.
Mama Nei dan Papa Tito ikut panik melihat cucunya menangis digendongan tetangganya. Papa Tito segera mengambil alih Kei kemudian masuk dalam mobilnya yang kebetulan tak ia masukkan ke garasi sejak semalam. Sedangkan Mama Nei langsung ditarik oleh tetangganya itu agar segera pergi ke tempat terjadinya kecelakaan.
"Ini sebenarnya apa yang terjadi, mbak?" tanya Mama Nei dengan wajah paniknya.
"Itu mamanya Kei kecelakaan, ditabrak mobil. Tadi Kei nangis-nangis sambil teriak minta tolong" ucap tetangga itu dengan sedikit panik.
Mama Nei yang mendengar penjelasan dari tetangganya pun menambah kecepatan larinya. Ia bahkan sampai lupa dengan tidak adanya sang suami dan cucunya yang tak bersamanya. Yang ada dipikirannya saat ini adalah kondisi menantunya karena tetangganya berkata sempat mendengar suara tabrakan lumayan keras.
Sesampainya ditempat terjadinya kecelakaan, disana sudah banyak tetangga yang berkerumun. Melihat kedatangan Mama Nei, mereka segera menyingkir. Mereka bahkan sudah menyiapkan tandu untuk mengangkat Arlin masuk dalam mobil. Mereka sudah membalut luka yang ada pada kepala Arlin dan beberapa bagian tubuh lainnya.
"Astaga... Arlin.." seru Mama Nei dengan membekap mulutnya sambil geleng-geleng kepala tak percaya melihat kondisi menantunya itu.
"Tenang, Aldo. Ayo kita bawa ke rumah sakit agar bisa ditangani. Oh ya... Pak, tolong minta rekaman CCTV di jalanan ini ya. Lalu kirimkan ke nomor ponsel suami saya" ucap Mama Nei berusaha untuk berpikir tenang.
Satpam yang juga ada disana itu pun segera saja menganggukkan kepalanya. Ia bergegas pergi untuk mengamankan rekaman CCTV sebelum ada yang menghilangkannya. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Papa Tito mendekat kemudian beberapa warga segera membantu memasukkan Arlin dalam mobil.
"Terimakaaih sudah membantu kami" ucap Papa Tito sedikit menundukkan kepalanya sebelum masuk dalam mobil.
"Hati-hati, pak. Semoga menantunya segera sembuh" seru beberapa warga.
Tin... Tin...
__ADS_1
Papa Tito hanya membunyikan klakson mobilnya untuk menjawab seruan dari beberapa warga. Beruntung mobil yang dibawa ini begitu luas hingga tandu yang digunakan Arlin dapat masuk dengan baik. Aldo terus menggenggam tangan Arlin sambil menciuminya. Bahkan air mata tak hentinya turun melalui kedua pipinya.
"Mama... Mamapin Kei ya, cudah buwat mama taya dini. Halusna Kei ndak ucah jajak mama cama papa buwat lali padi" ucap Kei lirih dengan rasa bersalahnya.
Aldo hanya melihat sekilas wajah Kei setelah mendengar ucapannya itu. Sedangkan Kei sendiri memang benar merasa bersalah dan turut andil dalam hal kejadian kecelakaannya ini. Mama Nei yang mendengar ucapan cucunya langsung mengelus punggungnya dengan lembut.
"Kei nggak salah. Yang salah mobil dan pengendaranya. Kei nggak boleh ngomong kaya gitu lagi" ucap Mama Nei mencoba menyembunyikan rasa sedihnya.
Setelah banyak masalah yang diselesaikan, ternyata ada saja cobaan dalam keluarga kecil itu. Mama Nei melihat anaknya yang seakan kehilangan gairah hidup dan pandangannya kosong. Anaknya yang seperti ini pernah ia lihat saat Arlin juga terlibat kecelakaan dengan mantan kekasihnya dulu.
Namun semuanya berubah ketika Arlin sudah sadar dan ingin memperbaiki semuanya. Aldo bahkan sudah tak lagi bersikap dingin ketika bersama dengan keluarganya. Wajahnya tampak bersinar dengan tubuh yang bugar dan semangat. Baru juga beberapa minggu, namun semua pemandangan indah itu kembali tak dirasakan oleh Mama Nei.
Sesampainya di rumah sakit, Arlin langsung saja dilakukan pemeriksaan intensif oleh beberapa tenaga medis. Akhirnya Arlin dinyatakan koma kembali karena adanya beberapa masalah dalam kepalanya. Hal ini juga yang membuat Aldo dan Kei menjadi pendiam bahkan tidak ada tatapan berbinar lagi.
"Aldo, ingat masih ada Kei yang harus kamu perhatikan. Anakmu itu butuh perhatian, jangan sampai yang dulu terulang kembali. Yakinlah kalau Arlin bisa melewati masa ini" ucap Papa Tito dengan pelan.
Aldo tetap diam dan berdiri ditempatnya sambil melihat kearah tubuh Arlin. Sedangkan Kei juga sedari tadi hanya diam dalam gendongan Mama Nei karena rasa bersalahnya itu. Tiba-tiba saja Aldo berjalan mendekat kearah tembok kemudian memukulnya berulang kali.
Bugh... Bugh... Bugh...
"Baru saja kami bahagia, kenapa secepat ini Kau renggut kebahagiaan ini, Tuhan?" teriak Aldo sambil terus memukul tembok yang ada di ruangan Arlin.
Mama Nei tak kuat melihat anaknya yang hancur seperti itu memilih untuk keluar bersama Kei. Kei juga begitu shock melihat kondisi papanya seperti itu. Matanya bahkan kini berkaca-kaca karena tak menyangka kalau pagi ini akan ada tragedi memilukan yang menghancurkan keluarganya.
__ADS_1