Transmigrasi Lilian

Transmigrasi Lilian
Terkejut


__ADS_3

"Nona Arlin..." seru Pak Cipto yang langsung panik saat melihat siapa yang datang ke rumahnya.


Bahkan baru melihat wajah Arlin saja wajahnya sudah kelihatan panik dan pucat. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya dan kecurigaan dari Arlin juga Papa Tito. Kalau memang tak ada yang disembunyikan, tentunya Pak Cipto hanya akan biasa saja melihat kedatangan dari Arlin.


Namun seketika dahinya mengernyit heran karena tiba-tiba ia melihat kearah bawah yang ternyata Arlin duduk di kursi roda. Kini raut wajahnya terlihat berubah menjadi lebih berbinar cerah karena ternyata Arlin tak bisa apa-apa selain duduk di kursi roda. Semua perubahan itu tentunya membuat Arlin dan Papa Tito bingung namun Mama Nei terlihat lebih waspada.


"Wah... Sekarang Nona Arlin nggak bisa jalan lagi. Berarti nggak bisa ke kantor lagi ya?" tanya Pak Cipto dengan antusias.


"Oh... Masih bisa kok kalau ke kantor. Saya malah berencana mau ngambil alih perusahaan karena suami saya sibuk. Tentunya ini juga untuk membasmi tikus yang menggerogoti perusahaan" ucap Arlin dengan sarkas.


Bahkan setelah mendengar ucapan sarkas dari Arlin ini ternyata membuat perubahan wajah Pak Cipto semakin terlihat. Wajahnya terlihat menegang bahkan langsung ada raut kepanikan dan kekhawatiran. Hal ini lah yang membuat Arlin dan Papa Tito semakin curiga.


"Memangnya di perusahaan ada tikusnya, nona?" tanya Pak Cipto dengan canggung.


"Oh... Banyak, pak. Bahkan hampir tiap minggu dan bulannya ngambil uang perusahaan hampir 20 juta lho. Apa nggak serakah tuh tikus?" tanya Arlin sambil tertawa.


Pak Cipto juga tertawa canggung akibat mendengar ucapan dari Arlin. Dia sebenarnya gugup karena ucapan dari Arlin itu seakan tengah menampar dirinya. Sedangkan Papa Tito dan Mama Nei hanya bisa menahan tawanya melihat Pak Cipto yang seakan mati kutu karena ucapan menantunya.

__ADS_1


"Oh ya... Saya langsung saja ya, pak. Tujuan saya kesini untuk menanyakan mengenai cuti Pak Cipto. Katanya anda ke luar negeri kok ada di rumah ini?" tanya Arlin langsung.


"Emm... Saya baru saja pulang, nona. Kan saya cutinya sudah dari satu minggu yang lalu" jawabnya dengan gugup.


Arlin hanya menganggukkan kepalanya padahal ia tahu kalau Pak Cipto itu tengah berbohong kepadanya. Padahal dari kepala HRD yang memberi informasi kepadanya saja memberitahu mengenai Pak Cipto yang baru cuti dua hari yang lalu. Bahkan pengajuan cutinya saja dadakan dan belum mendapatkan ACC dari Aldo namun sudah tak berangkat ke kantor.


"Lho... Masa sih pak? Kayanya baru beberapa hari lalu anda mengirimkan laporan kepada suami saya. Tak mungkin kan kalau anda mengirimkan laporan di luar negeri. Oh ya... Kenapa anda yang mengirimkan laporan itu? Bukannya suami saya meminta untuk bagian masing-masing kepala divisi yang mengirimkannya?" tanya Arlin dengan beruntun.


Pak Cipto yang mendengar ucapan dari Arlin itu seketika membulatkan matanya. Bahkan kini ia menatap tak percaya kearah semua orang seperti seseorang yang tengah ketahuan maling. Bahkan kini Pak Cipto langsung berjalan mundur sedikit untuk menghindari tatapan menelisik dari Arlin.


"Kami kesini cuma mau minta untuk anda meninggalkan rumah ini dan fasilitas dari perusahaan. Jangan lupa untuk mengembalikan uang yang anda ambil dari perusahaan kami. Satu lagi, anda kami pecat dengan tidak hormat" ucap Papa Tito mewakili.


"Anda ini siapa? Kok berani pecat saya. Anda tak berhak memecat saya lagi pula saya ini merupakan karyawan berprestasi sejak jamannya Pak Madin mengelola perusahaan itu" kesal Pak Cipto setelah mendengar ucapan dari Papa Tito.


Awalnya Pak Cipto tak sadar akan kehadiran dari Papa Tito dan Mama Nei karena terlihat sibuk dengan keterkejutannya saat melihat Arlin. Memang Pak Cipto tak mengenal Papa Tito dan Mama Nei karena belum pernah bertemu. Bahkan dulu saat waktu Mama Arlin masih memimpin pun keduanya jarang sekali mengunjungi sahabatnya itu.


"Dia adalah mertua saya. Bahkan dia juga berhak kalau hanya untuk memecat anda. Apalagi kinerja anda busuk, segera kembalikan uang perusahaan atau tidak saya akan membawa kasus ini pihak yang berwajib. Saya tak butuh anda yang katanya karyawan berprestasi karena pada faktanya anda dan papa saya melakukan kecurangan" sentak Arlin.

__ADS_1


Arlin sedari tadi sudah menahan amarahnya karena merasa semuanya terlalu berbelit-belit. Apalagi Pak Cipto yang tak mau mengakui tentang kejahatan yang sudah dilakukannya dengan berlindung dibalik ketiak Papa Madin. Ia sudah tak bisa lagi percaya dengan orang-orang yang dekat dengan Papa Madin di perusahaan. Semuanya terlihat tak meyakinkan dan pantas untuk ditendang dari perusahaan ini.


Pak Cipto merasa kesal karena ternyata apa yang dilakukannya kini telah ketahuan hingga ia harus kehilangan pekerjaannya. Padahal ia sendiri juga melakukan ini karena adanya dorongan dari Papa Madin. Namun ia kini sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi selain memohon pada Arlin sebagai pemilik sah dari perusahaan itu. Apalagi tadi Papa Tito sudah diberitahu oleh orang yang mencarikannya informasi mengenai kecurangan Pak Cipto akhir-akhir ini.


"Saya mohon jangan pecat saya, nona" ucap Pak Cipto dengan dramanya memohon kepada Arlin.


"Maaf, saya nggak bisa. Saya tak mau memelihara tikus di perusahaan saya. Padahal tadi anda sudah sombong dengan berani pada mertua saya, kok sekarang mlempem sih?" ucap Arlin dengan mengejek.


Pak Cipto yang mendengar penolakan dari Arlin pun langsung saja mengepalkan kedua tangannya. Bahkan kini dengan cepat ia mengambil sapu yang ada didekat pintu kemudian mengayunkannya kearah Arlin. Sontak saja Kei yang melihat hal itu langsung menjerit membuat semuanya mengarahkan pandangannya kearah Pak Cipto.


"Mama wawas..." seru Kei dengan mata berkaca-kaca.


Dengan sigap Papa Tito langsung saja menangkap sapu yang mengarah pada menantunya itu. Arlin sudah menutup wajahnya dengan tangan karena ia merasa kalau sapu itu akan diarahkan pada matanya. Tentunya itu membuat Papa Tito geram karena Pak Cipto berani melukai menantunya.


Dugh... Bugh... Dugh... Bugh...


Dengan tanpa ampun, Papa Tito langsung meghajar dan memukuli Pak Cipto. Ia benar-benar sudah dikuasai amarahnya karena melihat pria paruh baya itu akan melukai menantunya. Padahal disini menantunya hanya ingin butuh haknya dikembalikan saja. Tentunya Arlin langsung melihat kearah suara pukulan itu membuat matanya membulat akibat pertengkaran antara Papa Tito dan Pak Cipto.

__ADS_1


__ADS_2