
"Suatu saat nanti pasti loe juga akan merasakan hal yang sama. Itung-itung aja ini lagi latihan dengan ngantar dan nunggu anak sekolah" ucap Lili dengan santainya menanggapi ucapan dari Fina.
Fina mendengus kesal. Pikiran untuknya menikah itu masih abu-abu. Bahkan calonnya saja belum ada jadi ia memilih fokus pada kuliahnya. Daripada kuliah tak selesai dan malah dijodohkan dengan anak juragan sawah oleh orangtuanya.
"Jangan mikir kejauhan. Mending mikirin skripsi dan gimana caranya biar bisa lulus secepatnya" ucap Fina sambil mengacak rambutnya.
Ia sangat frustasi dengan skripsinya yang tak kunjung selesai itu. Setiap hari ia selalu begadang, namun hanya sedikit tulisan yang tertuang di layar laptopnya.
"Jangan jadi stress di sini. Bisa jadi bahan-bahan gosip ibu-ibu kepo" ucap Lili sambil matanya melirik kearah ibu-ibu yang tengah menatap kearah mereka.
"Kayanya ibu-ibu di sini pada super kepo deh sama urusan orang. Kelihat juga tuh kayanya pada suka julid" ucap Fina.
Lili hanya menganggukkan kepalanya. Keduanya memilih abai saja walaupun sedari tadi terus ditatap oleh orang-orang di sana. Yang terpenting bagi keduanya adalah tak mengganggu mereka.
***
"Huaaaa... Hiks... Hiks..."
"Ante Lili..." seru Kei dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.
Sontak saja Lili dan Fina yang tengah berbincang itu terkejut mendapatkan panggilan dari Kei. Apalagi wajah Kei yang kini memerah dan basah dengan air mata. Keduanya segera saja berlari kecil menuju Kei.
Bahkan Lili juga langsung menggendong Kei dan mengusap punggungnya dengan lembut. Sedangkan Fina mengambil air minum yang ada di kursi tempat duduknya tadi. Fina segera memberi air minum pada Kei agar bocah laki-laki itu sedikit tenang.
"Matacih, ante" ucap Kei dengan masih terdengar isakan tangisnya.
"Sama-sama. Ayo duduk di sana" ajak Fina.
__ADS_1
Lili menganggukkan kepalanya kemudian berjalan kearah tempat duduk yang tadi mereka duduki. Semua teman-teman sekelas Kei juga sudah keluar dari kelasnya. Bahkan mereka langsung saja berlari menuju orangtuanya masing-masing. Ada juga yang bermain bersama dengan teman-temannya yang lain.
"Kenapa menangis, Kei?" tanya Lili setelah melihat Kei sudah lebih tenang.
"Betal matanan Kei diambil cama Kepin" adu Kei.
"Lho... Kok bisa diambil? Kan itu punya Kei" tanya Fina yang geregetan.
"Tatana matanan Kei lebih nenak. Watu Kei inin matan, langcung dilebut ditu caja" ucap Kei yang kemudian memeluk tubuh Lili dengan erat.
"Mana itu temanmu yang namanya Kevin? Sini biar tante hajar" ucap Fina dengan menggebu-gebu.
Lili hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari temannya itu. Mana bisa ia menghajar seorang anak kecil. Malah nanti Fina yang akan menjadi tersangka atas kasus kekerasan pada anak. Lili tak mau kalau sahabatnya itu malah terkena kasus hukum.
"Jangan main hakim sendiri. Kita tanya dulu sama anak dan ibunya yang pasti juga menunggu di sini. Pasti ada sesuatu yang membuat dia mengambil makanan Kei" ucap Lili mencoba menenangkan keadaan.
Lili pun beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju kelas Kei. Menurut Kei, siswa yang bernama Kevin itu tadi masih ada di kelas. Sedangkan Fina mengikuti dari belakang. Ia akan menjadi tameng jika nanti ada ibu-ibu yang memarahi Kei.
Bahkan mereka mendekatkan beberapa meja dan kursi untuk makan bersama. Lili melihat adanya kotak bekal makanan yang ia punya ada di atas meja itu. Ketiganya segera masuk dalam kelas kemudian mendekati empat anak laki-laki itu.
"Ehemmm..."
Deheman Lili itu membuat keempat anak yang ada di kelas itu langsung mengalihkan pandangannya. Terlebih siswa yang bernama Kevin itu langsung beringsut takut. Kevin pikir Kei itu tidak ditunggui oleh orangtuanya karena dari rumor beredar kalau temannya itu tak punya keluarga utuh.
"Kenapa kamu ambil makanan Kei? Dia belum makan lho. Itu kotak bekal makanan punya Kei, khusus tante belikan untuknya. Kalian juga sudah bawa bekal masing-masing kan? Jangan gitu sama temannya" tegur Lili.
"Kita nggak ambil bekal makanan Kei kok. Kan ini kotak makanan ketinggalan di meja, makanya kita amankan. Iya kan, teman-teman?" tanya Kevin mencoba mencari pembelaan dari teman-temannya.
__ADS_1
Mereka menganggukkan kepalanya membuat Kevin tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Lili hanya bisa mendengus kasar. Padahal terlihat dari gerak-gerik Kevin yang begitu gugup saat menjelaskan alasannya.
"Dohong... Adi Kepin lebut punaku" seru Kei tak terima.
"Ngomong saja masih belum lancar, mau ngadu segala" ledek Kevin.
Lili begitu geram dengan tingkah anak di depannya ini. Masih kecil namun pintar sekali dalam membalikkan kata-kata. Bahkan sudah berani berbohong. Lili bisa melihat kalau Kevin ini berbohong karena gerak matanya yang terus melihat pada teman-temannya.
Kei malah kini tambah terisak di dalam pelukan Lili. Hal ini membuat Lili hanya bisa menghela nafasnya lelah. Tak menyangka kalau hal seperti ini terjadi pada instansi pendidikan yang masuk kawasan elit.
"Dek, jangan bohong kamu ya. Mana sini mama kamu? Biar saya ajarin buat nggak ngajarin anaknya jadi tukang bohong. Kecil-kecil sudah bohong dan merebut makanan oranglain" ucap Fina dengan menggebu-gebu.
"Apa sih? Tante sok tahu. Aku bilangin mamaku ya biar tante dijambak" ucap Kevin dengan beraninya menantang Fina.
Kini Kevin juga segera saja berlari keluar dari kelasnya menuju ibunya untuk mengadukan Fina. Sedangkan ketiga teman Kevin menatap kepergian bocah cilik itu dengan tatapan aneh. Sedangkan Fina mendengus kesal melihat anak kecil yang berani padanya itu.
"Maafin Kevin ya, tante. Sebenarnya memang Kevin yang merebut itu bekal makanan milik Kei. Dia itu suka iri sama teman-temannya yang bawa bekal, jadi main asal rebut punya oranglain" ucap salah satu teman Kevin meminta maaf.
"Kamu juga, dek. Harusnya nggak boleh mendukung Kevin itu yang berbohong" ucap Fina.
"Kami takut sama Kevin. Dia nakal" ucap ketiganya bersamaan.
"Sudah... Sudah... Lain kali jangan berbohong ya. Itu juga Kevin bawa bekal makanan kan?" tanya Lili melerai perdebatan itu.
"Enggak, itu punya orang kelas lain. Kevin nggak pernah bawa bekal. Ibunya nggak bisa masak, cuma dikasih uang saku aja" jawabnya.
Lili menganggukkan kepalanya. Terlihat jujur anak di depannya ini. Akhirnya Lili mengetahui sebab dari Kevin mengambil bekal makanan Kei. Lili mengambil kotak makanan itu kemudian membawanya pergi. Lagi pula itu kotak makanannya sudah kosong.
__ADS_1
Fina mengikuti Lili dari belakang. Bahkan Fina sudah menyinsingkan lengan bajunya ke atas untuk melawan ibunya Kevin itu. Pasti sudah ada peringatan dari yang lainnya, namun ibu dari Kevin sepertinya tak peduli.
"Mana sini yang marahin anakku?" seru seorang wanita paruh baya berbadan gempal.