
Lili tak menjawab atau merespons apapun yang diucapkan oleh Deo tentang Amira. Ia sangat sedih karena kehilangan sosok gadis kecil yang dulunya sangat dekat dengannya. Namun memang takdir untuk gadis cilik itu sudah ditentukan oleh Tuhan, ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Pasti pihak keluarga dan tim medis sudah sekuat tenaga bahu membahu dalam kesembuhan Amira.
"Amira sekarang pasti lagi tersenyum bahagia karena Kak Lili sudah berada di sini bersama kami lagi. Pesan Amira sebelum meninggal dulu, ingin sekali bisa bertemu dengan Kak Lili di rumah sakit ini. Tapi karena Amira sudah meninggal, tentunya ia hanya bisa melihatnya dari atas langit sana" ucap Deo dengan senyum sendunya.
Lili menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum untuk menyembunyikan kesedihannya. Kesedihan yang membelenggunya karena tak sempat bertemu Amira untuk terakhir kalinya. Gadis cilik yang selalu tersenyum di depannya walaupun tubuhnya harus menahan sakit akibat beberapa terapi yang dijalaninya.
"Kita do'akan Amira ya agar bahagia di atas sana. Kita nggak boleh sedih-sedih lagi. Nanti Amira di atas sana malah ikutan sedih" ucap Lili sambil mengelus lembut punggung Deo.
"Ayo kita berdo'a untuk Amira yang ada di atas sana. Pasti sekarang Amira bahagia karena Kak Lili sudah sehat" seru Deo.
Semua yang ada di sana pun menganggukkan kepalanya setuju. Mereka menunduk sejenak untuk mengirim do'a. Lili sudah tak bisa menyembunyikan rasa kehilangannya. Air mata yang keluar dari sudut matanya itu menjadi saksi bagaimana ia kehilangan sosok itu.
"Amin" gumam semua orang yang ada di ruangan itu.
Lili terus berbincang dan bermain bersama dengan anak-anak yang ada di sana. Ia sangat senang karena bisa bertemu dengan anak-anak yang luar biasa ini. Ujiannya yang begitu berat dengan diberikan penyakit serius saat usianya masih kecil. Mungkin dia pun kalau mendapatkan penyakit seperti itu belum tentu bisa setegar mereka.
"Lili, ini ada Dokter Fadly. Dia ini salah satu lulusan terbaik dari luar negeri lho. Kalian bisa tuh saling cerita tentang beberapa masalah kesehatan. Siapa tahu dengan ide-ide brilian yang muncul dari pikiran kalian membuat dunia kesehatan semakin berkembang" ucap Dokter Yuni mengenalkan seorang dokter yang baru saja masuk dalam ruang bermain ini.
__ADS_1
Lili yang tadinya sedang sibuk dengan anak-anak di sana pun segera saja mengalihkan pandangannya. Lili segera berdiri kemudian berjalan mendekat kearah Dokter Yuni dan Dokter Fadly. Lili langsung mengulurkan telapak tangannya untuk memperkenalkan dirinya sambil tersenyum tipis kearah Dokter Fadly.
"Lilian, dok" ucap Lili memperkenalkan dirinya.
"Fadly. Panggil saja nama, tak perlu embel-embel dokter" ucap Fadly sambil terkekeh pelan.
Lili hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Dokter Fadly. Dokter Yuni pun mengajak keduanya menuju kantin. Jam bermain untuk pasien anak-anak sudah usai. Mereka langsung akan kembali ke ruang perawatannya masing-masing. Lili segera berpamitan pada semua anak-anak yang ada di sana dengan memberikan pelukan semangat.
"Lili sudah berapa lama mengenal mereka? Kok kayanya sudah akrab sekali" tanya Dokter Fadly dengan tatapan penasarannya.
"Sejak pertama kali datang ke sini untuk melakukan penelitian, kak. Kalau mau dapat penelitian yang baik kan memang harus dekat dengan sasarannya kan? Masa iya mau meneliti pasien anak namun kita judes atau tak akrab dengan mereka" ucap Lili sambil terkekeh pelan.
Bahkan Dokter Yuni bagaikan nyamuk yang mengganggu keduanya. Dokter Yuni pun membiarkannya karena keduanya seperti nyaman berbincang. Setelah sampai di kantin, ketiganya segera memesan makanan untuk makan siang.
"Di kampusmu bukannya ada dosen yang juga seorang dokter sekaligus pemilik rumah sakit yang terkenal itu ya?" tanya Dokter Fadly.
"Siapa? Kayanya kebanyakan dosen yang mengajar di sana itu juga berprofesi dokter. Maksudku di fakultasku itu kan memang dosennya juga seorang dokter" tanya Lili dengan raut penasarannya.
__ADS_1
"Aku lupa siapa namanya. Tapi dia terkenal, beberapa kali ikut forum diskusi antar dokter di luar negeri. Aku baru dua kali bertemu sih, dia wajahnya nggak pernah senyum. Tapi lupa juga namanya karena memang tidak berinteraksi secara langsung" ucap Dokter Fadly mencoba mengingat siapa orang yang dia maksud.
Lili seakan acuh saja walaupun penasaran dengan dosen yang dimaksud. Tak berapa lama, makanan yang dipesan datang. Ketiganya segera makan dengan sesekali berbincang seru. Setelah menyelesaikan kegiatan makannya, tiba-tiba Doktee Fadly menunjuk kearah seseorang yang dilihatnya.
"Itu dokter yang ku maksud" seru Dokter Fadly yang dengan jari telunjuknya mengarah pada lorong rumah sakit.
Lili dan Dokter Yuni segera mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk oleh Dokter Fadly. Dokter Yuni langsung mengetahui siapa yang dimaksud oleh rekannya itu. Pasalnya rumah sakit ini juga merupakan salah satu milik dari dokter itu namun memang jarang sekali beliau mengunjunginya.
Lili yang melihat orang yang dikenalnya pun hanya bisa menepuk dahinya pelan. Ia tak menyangka kalau dunia sesempit ini. Padahal lokasi rumah sakit ini lumayan jauh dari kampus atau mansion dosennya itu. Namun ternyata dia berada di sini juga. Seseorang itu adalah Aldo, yang merupakan dosen Lili.
"Dia itu juga pemilik rumah sakit ini. Tapi jarang beliau berkunjung ke sini. Entah ada angin apa sampai beliau ke sini" ucap Dokter Yuni.
Tak ada pemberitahuan dari pihak rumah sakit kalau Aldo akan datang berkunjung. Sehingga rumah sakit juga tak mengadakan atau bersiap untuk menyambut kedatangan Aldo. Dokter Yuni biasa saja jika memang Aldo mengadakan sidak dadakan ke rumah sakit, toh selama ini semua sudah sesuai dengan prosedur.
"Wah... Yang aku tahu malah dia hanya punya rumah sakit yang di daerah B itu, dok. Ternyata ini juga salah satu rumah sakit yang dimilikinya toh. Luar biasa sih, udah tampan juga mapan pula" ucap Dokter Fadly yang menatap kagum pada Aldo yang berjalan di lorong rumah sakit.
"Tapi menyebalkan" gumam Lili pelan.
__ADS_1
"Oh ya... Bukannya Pak Aldo itu dosen pembimbing skripsi kamu, Li? Soalnya waktu kamu sakit itu ada surat pemberitahuan dan yang bertandatangan di sana adalah Pak Aldo" ucap Dokter Yuni.
Lili hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mengingat skripsinya yang dosen pembimbingnya ternyata adalah orang berpengaruh. Fakta yang lumayan mengejutkan, pasalnya selama dirinya dulu masuk dalam tubuh Arlin pun ia tak mengetahui hal itu.