
Kei benar-benar kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Aldo pada Lili. Sebenarnya saat di mobil tadi, Kei hanya berpura-pura tidur saja. Bahkan ia mendengar semua apa yang diucapkan oleh papanya yang ternyata kelakuannya seperti itu pada Lili.
Kei hanya terdiam sambil terus mendengar walaupun dalam hatinya pilu. Ia ingin menangis karena mengetahui apa yang terjadi pada Lili. Anggukan kepala Kei itu bagaikan sambaran petir yang menyambar jantung Mama Nei. Sungguh ia tak menyangka kalau cucunya itu ternyata mendengar semua yang diceritakan oleh Aldo. Mama Nei yakin kalau setelah ini hubungan Kei dan Aldo akan merenggang. Terlebih Kei juga akan susah bertemu dengan Lili.
"Cudah, oma. Ndak ucah agi bela papa. Papa emang cukana nakitin hati olang. Kei ladi dalau ni, angan danggu ulu" ucap Kei yang langsung memeluk opanya dengan erat.
Papa Tito hanya mengelus punggung cucunya itu dengan lembut. Ia melihat ada tatapan kecewa dan frustasi yang terlihat pada mata cucunya. Ini tak bisa dibiarkan karena bisa saja malah membuat Kei nantinya malah mendapatkan gangguan psikis.
"Nanti kita bicarakan solusinya. Mama juga harus cerita sama papa tentang apa yang sebenarnya terjadi" ucap Papa Tito pada istrinya itu.
Papa Tito haruslah mengetahui semua tentang permasalahan ini. Kini ia masih bingung harus melakukan apa karena tidak tahu permasalahannya. Mama Nei pun menganggukkan kepalanya mengerti kemudian meletakkan beberapa makanan di atas meja makan.
"Kei, makan dulu yuk" bujuk Papa Tito pada cucunya.
"Kei agi mayas matan, inum, dan napa-napain. Mauna tidul caja. Ntal Kei tidulna cama oma dam opa.ya" ucap Kei tanpa membuka matanya.
"Makan sama minum nggak boleh malas, Kei. Ayo makan, nanti kamu sakit. Kalau kamu makan, bolehlah nanti kalau mau tidur sama oma dan opa" ucap Papa Tito.
"Opa cukana ditu. Cebel Kei..." ucap Kei yang langsung membuka matanya.
Walaupun tak secara langsung Papa Tito mengancamnya, namun ucapannya itu membuat Kei paham. Kei paham kalau tengah diancam oleh opanya. Kei mengerucutkan bibirnya karena kesal, sedangkan Papa Tito sendiri hanya bisa terkekeh pelan. Ternyata cucunya itu cerdas sekali sehingga bisa memahami apa maksudnya.
"Malam ma, pa" sapa Aldo yang baru saja masuk ke ruang makan.
"Malam, Al. Makanlah" ucap Papa Tito yang langsung mengajak anaknya itu melaksanakan makan malam.
__ADS_1
Mama Nei dan Kei hanya diam saja menanggapi sapaan dari Aldo itu. Aldo pun seakan mencoba biasa saja dengan respons mereka. Berbeda dengan Papa Tito yang seperti orang bodoh diantara mereka. Mereka pun makan dengan tenang, sedangkan Papa Tito terus menyuapi cucunya itu.
***
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Papa Tito kepada istri dan anaknya.
Mereka kini telah berada di ruang keluarga setelah makan malam berakhir. Kei sudah berada di kamar oma dan opanya sesuai permintaan bocah kecil itu. Setelah memastikan Kei tertidur dengan pulas, Papa Tito langsung menuju ke ruang keluarga.
"Ini lho anakmu itu. Masa iya dia nurunin Lili di jalanan semalam" ucap Mama Nei.
"Nggak nurunin, ma. Orang dia yang mau turun sendiri kok" elak Aldo yang tak terima dengan pernyataan dari mamanya itu.
"Tapi kan faktanya kamu yang membuat Lili turun dari mobil. Kamu yang melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa menghiraukan dia yang belum pakai seat belt" kesal Mama Nei.
Mama Nei ingin sekali mencakar wajah tengil anaknya itu. Apalagi Aldo seperti tak merasa bersalah sama sekali dengan apa yang dilakukannya itu. Papa Tito yang mendengar ucapan istrinya itu segera saja menatap kearah Aldo seakan meminta penjelasan.
Terlihat sekali kalau Papa Tito begitu marah dengan apa yang dilakukan oleh anaknya itu. Ia mendidik anaknya sebagai sosok yang bertanggungjawab, namun saat mengetahui kenyataan ini ia merasa sedikit bersalah. Sungguh tak menyangka kalau anaknya sampai melakukan hal yang membahayakan nyawa oranglain.
"Maaf, pa. Aldo memang melakukan itu karena emosi. Aldo tak suka kalau harus mengantar perempuan lain yang bukan anggota keluarga kita" ucap Aldo memberi alasan.
"Seharusnya kamu bisa menolaknya terus-terusan, Al. Kalau kaya gini, sudah pasti gadis itu akan trauma dengan tindakanmu itu. Bahkan papa saja mungkin kalau diperlakukan seperti itu akan ketakutan" seru Papa Tito sambil meraup wajahnya kasar.
Kini Papa Tito yang merasa bersalah dan gagal dalam mendidik anaknya itu pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tak menyangka kalau anaknya sampai melakukan hal itu. Aldo pun kini malah merasa tak enak hati dengan papanya. Papanya kecewa dengan tingkahnya yang bahkan tak sedewasa umurnya.
"Tapi mama yang maksa Aldo buat antar Lili sampai rumah, padahal aku udah nolak" ucap Aldo pelan seakan malah menyalahkan mamanya.
__ADS_1
"Kamu nyalahin mama gitu? Kan bisa kamu langsung suruh sopir buat antar. Mama cuma bilang kalau Lili harus diantar pulang sampai rumah, entah bagaimanapun itu caranya" ucap Mama Nei yang tak terima.
"Tapi..."
"Sudah, kalian ini kok malah berantem. Ini semua salah kalian berdua. Pokoknya papa nggak mau tahu, kalian harus minta maaf sama Lili sampai dimaafkan" seru Papa Tito.
Papa Tito pusing dengan perdebatan antara ibu dan anak itu. Kalau tidak dilerai, sudah pasti akan terjadi keributan begitu lama. Mama Nei dan Aldo itu mempunyai sifat yang sama keras kepalanya dan tak mau mengalah. Jika debat seperti ini, mereka takkan ada yang mau mengalah sehingga harus segera dilerai.
Mama Nei kesal karena suaminya itu malah ikut menyalahkan dirinya. Papa Tito bahkan langsung saja berlalu dari hadapan Aldo dan Mama Nei untuk masuk kamar. Biarlah nanti kalau mereka melanjutkan acara debat itu, dirinya tak peduli.
"Ini gara-gara kamu, Al" kesal Mama Nei menyalahkan anaknya.
"Ya karena mama. Makanya jangan suka memaksakan kehendak sama oranglain" kesal Aldo yang terus menyalahkan mamanya itu.
Bahkan kini Aldo langsung saja pergi dari hadapan mamanya itu. Mama Nei menatap sinis punggung Aldo yang perlahan menjauh itu. Gara-gara anaknya itu, ia jadi disalahkan oleh suaminya. Mama Nei pun ikut pergi ke kamarnya untuk istirahat.
***
"Hari ini Aldo akan ke rumah sakit untuk meminta maaf sama Lili. Mama mau ikut nggak? Harusnya mama ikutlah, kan dia juga terlibat dalam masalah ini" ucap Aldo setelah selesai sarapan bersama.
Mama Nei dan Papa Tito langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Aldo. Mama Nei menganggukkan kepalanya walaupun sedikit kesal karena disuruh ikut meminta maaf. Padahal yang menyebabkan ini semua adalah anaknya. Kalau saja Aldo membawa mobilnya hati-hati, sudah pasti takkan ada kejadian seperti ini.
Papa Tito hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan istrinya yang saling menatap sinis itu. Aura permusuhan diantara keduanya begitu terasa karena tatapan mereka itu. Kei hanya diam saja karena terlalu malas ikut campur.
"Kei, mau ikut oma ke rumah sakit ketemu sama Tante Lili nggak?" tanya Mama Nei.
__ADS_1
"Kei mau pelgi cama opa caja" jawab Kei singkat.
Mama Nei mengerucutkan bibirnya kesal karena kini cucunya malah seperti menjauhinya. Papa Tito pun hanya mengedikkan bahunya acuh karena merasa kalau itu memang akibat dari keduanya. Setelah merasa cukup, Papa Tito menggendong cucunya itu menuju kamar. Papa Tito bersiap-siap untuk pergi ke kantor tanpa mempedulikan istri dan anaknya.