
"Bicara tentang yang iya-iya, bu Ais" ucap Pak Lukman penuh teka-teki.
Dosen-dosen di sana sudah seperti tengah mempermainkan seseorang. Tak dapat dipungkiri jika semua ini malah membuat Bu Amel merasa dipermainkan. Apalagi dalam kondisi panik, wajahnya terlihat begitu tegang.
"Sudah, bu. Sini duduk dulu sama kami. Biasanya ibu juga suka dekat-dekat sama Pak Aldo kan? Nih saya kasih kesempatan duduk di samping Pak Aldo. Cuma duduk di sampingnya saja ya, bu. Bukan duduk bersama di kursi pelaminan" ucap Pak Sandy yang malah terkesan meledek Bu Amel.
Bahkan Pak Sandy yang tadinya duduk di samping Aldo pun langsung berpindah tempat. Pak Sandy menepuk kursi sebelah Andre agar Bu Amel mau duduk di sana. Bukannya langsung duduk, namun Bu Amel malah menggelengkan kepalanya.
"Wah... Kayanya saya ditolak nih, Pak Sandy" ucap Andre yang seakan memainkan drama.
"Cinta bertepuk sebelah tangan dong, pak" ucap Ibu Ais dengan tatapan polosnya.
Hahaha
Sontak saja semua tertawa dengan percakapan yang tercipta. Hal ini membuat suasana yang terlihat tegang menjadi biasa saja. Sedangkan Bu Amel sendiri sudah geram karena dipermainkan dan seakan dijahili oleh rekan kerjanya.
"Jadi kalian itu sebenarnya mau apa? Saya mau keluar. Bisa buka nggak ini pintunya? Kalau mau berbincang atau ngobrol, silahkan saja. Tapi nggak usah nahan orang di sini," ucap Bu Amel yang sudah mulai naik darah.
Bahkan Bu Amel yang tadinya ketakutan kini mencoba memberanikan diri melawan. Apalagi lawannya adalah rekan kerjanya yang sama sekali tak memperlihatkan kepekaan terhadap kepanikannya.
"Mati..." seru semuanya bersamaan.
Sontak saja Bu Amel yang mendengar hal itu segera saja memundurkan langkahnya kembali. Dirinya yang tadi menantang orang-orang di depannya seketika nyalinya menciut. Bahkan semua rekan dosennya itu menatap tajam kearahnya.
"Apa maksud kalian?" tanya Bu Amel gelagapan.
__ADS_1
Apalagi kini semua orang yang ada di sana sudah berdiri. Tak ada raut wajah santai dan bercanda seperti yang tadi diperlihatkan. Mereka segera berjalan maju menuju Bu Amel yang ketakutan.
"Gara-gara anda, calon istriku terluka dan hampir meregang nyawa. Gara-gara anda, anak saya ketakutan. Bahkan mungkin saja psikisnya terguncang" ucap Aldo dengan tatapan penuh kebencian.
"Kan hampir? Belum mati kan?" ucap Bu Amel dengan tak tahu malunya.
"Sialan..." seru Aldo yang sepertinya terpancing dengan ucapan Bu Amel.
Semua yang ada di sana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Bu Amel yang tak mau kalah dari Aldo. Padahal mereka sudah ngeri sendiri kalau nantinya Aldo akan marah besar. Apalagi Aldo yang seperti ini sudah seperti kerasukan setan.
"Anda pengecut kalau sampai melukai dan berani menyakiti seorang perempuan" seru Bu Amel yang ingin Aldo merasakan telah merendahkan harga diri laki-laki itu.
"Bodo amat. Saya tidak peduli dengan ocehan anda. Pokoknya saya mau kalau anda itu mati" ucap Aldo yang kini langsung mencekik leher Bu Amel.
Sontak saja Bu Amel terkejut dan berusaha memberontak dalam genggaman tangan Aldo. Apalagi Aldo memegang erat lehernya membuat nafasnya naik turun.
Pak Sandy yang melihat Aldo kalap pun segera saja mencoba menarik tangan rekannya itu. Pasalnya akan gawat kalau sampai Aldo menghabisi Bu Amel. Tak hanya keluarga yang terkena imbasnya, namun Aldo pasti akan langsung dijebloskan ke penjara. Tak lupa kalau nama baik laki-laki itu langsung jelek.
"Pak Aldo sadar. Kalau sampai Bu Amel mati, yang ada nanti Lili nggak jadi nikah sama bapak. Pak Aldo kalau di penjara pasti keluarga juga kebingungan. Ingat Kei, pak" ucap Pak Sandy mencoba menyadarkan.
Sontak saja Aldo langsung melepas cekikan itu dari leher Bu Amel. Namun tatapan matanya masih menajam dengan leher yang kelihatan tegang. Sedangkan Bu Amel sendiri langsung menghela nafasnya lega dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Bu Aisa langsung mendekati Bu Amel dan mengunci pergerakan tangan wanita itu.
"Beruntung kau tak mati di tanganku. Jangan harap setelah ini kau bisa lepas dari hukum. Apalagi di dalam penjara itu akan ku buat kau lebih sengsara" sentak Aldo.
Bu Amel tak menjawab apapun karena masih mencoba menetralkan nafasnya. Sedangkan yang lainnya keluar dari ruangan kemudian memanggil pihak kepolisian yang memang sudah siap di tempatnya. Beberapa anggota polisi masuk kemudian membawa Bu Amel keluar ruangan.
__ADS_1
Huuuu....
Dasar korban bucin...
Demi cinta, preman pun bertindak...
Seruan dan teriakan dari beberapa mahasiswa itu membuat Bu Amel malu bukan kepalang. Ia tak menyangka kalau semua mahasiswanya mengetahui ini semua. Bu Amel sekarang jadi tahu kalau sebenarnya tadi semua mahasiswanya pura-pura bodoh saja.
Bu Amel takkan mau lagi kembali ke kampus ini. Ia sudah tak mau menampakkan wajahnya lagi. Apalagi kini dirinya akan menghadapi tuntutan hukum yang mungkin saja berat.
***
"Mama, capa cih yang culuh pleman temalin adang tita? Kecal cekali Kei ini. Macak buat mamana Kei cakit cih" ucap Kei dengan bibir mengerucut.
Kei menunggu di ruangan Lili karena oma dan opanya sedang ada urusan. Lili yang masih terbaring untuk pemulihan di rumah sakit pun menyetujui saja jika Kei dititipkan kepadanya. Lagi pula Kei itu tidak rewel dan bisa mandiri kalau memang ingin makan atau ke kamar mandi.
"Dia pasti orang jahat. Nggak mungkin kalau bukan orang jahat tapi malah suruh nyulik kamu. Mama nggak akan membiarkan kamu diculik sama mereka" ucap Lili dengan penuh tekad.
"Matacih ya mama. Cudah menelamatkan Kei. Halusna Kei watu itu ndak peldi nindalin mama cendilian. Dadi luta tan" ucap Kei yang menyalahkan dirinya sendiri.
Lili yang melihat Kei terlihat merasa bersalah pun langsung geleng-geleng kepala. Lili takkan pernah menyalahkan Kei atas kejadian ini. Apalagi memang Lili yang menyuruh Kei agar pergi dari tempatnya. Ia tak ingin kalau Kei sampai terluka akibat benda tajam yang dibawa oleh para preman itu.
"Jangan begitu. Itu kan memang mama yang menyuruh kamu pergi. Mama nggak mau ngelihat kamu terluka kaya gini. Mama dan yang lainnya pasti akan sedih" ucap Lili sambil mengelus lembut kepala Kei.
"Tapi ni Kei dan lainna cedih liat mama di lumah cakit" ucap Kei sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Jangan diingat lagi ya. Mama sudah sembuh kok ini. Pokoknya kita nggak boleh jahat-jahat lagi sama orang. Kalau mereka jahatin, diami saja" ucap Lili mencoba memberi pesan pada Kei.
Pasalnya Lili sedikit takut jika nanti Kei malah menanamkan dendam dalam hatinya jika memupuk kebencian. Lili tak ingin kalau Kei menjadi pribadi yang akan membalas setiap perlakuan jahat oranglain. Lili tahu kalau yang menyerang dan menyuruh preman itu adalah dosen di kampusnya sendiri. Terlihat sekali terakhir kali waktu bertemu, kalau Bu Amel memang ingin balas dendam kepadanya.