
"Eh... Dokter Adnan" seru Dela dan Naomi yang terkejut dengan kedatangan dokter rumah sakit ini.
Ternyata yang datang adalah Dokter Adnan. Sontak saja semua yang ada di sana terkejut dengan kehadirannya. Pasalnya ini adalah sekumpulan perempuan, tak mungkin juga mereka berada di ruangan bergabung dengan adanya laki-laki. Apalagi Lili sedikit risih dengan kedatangan Dokter Adnan itu.
"Dokter, maaf ya sebelumnya. Di sini kan perempuan semua. Mungkin dokter bisa ke ruangan sebelah saja. Di sana semua laki-laki, tak enak dilihat jika malam-malam begini di ruang istirahat kok malah ada anda" ucap Dela mencoba mengusir Dokter Adnan secara halus.
"Lagi pula dokter kenapa ada di sini? Biasanya berada di ruangan sendiri kan? Ini ruangannya sempit dan kotor lho. Ruangan anda kan eksklusif" ucap Naomi dengan sedikit menyindir.
Selama ini memang Dokter Adnan itu jarang sekali bergabung makan atau berkumpul dengan pegawai lainnya. Walaupun sikapnya ramah, namun jika soal kedudukan pasti dia akan mementingkan gengsinya. Bahkan untuk makan di kantin saja, Dokter Adnan selalu memesannya dari ruangan dan diantar langsung.
Jadi tak salah jika sekarang Dela dan Naomi sangat yakin ada sesuatu di baliknya. Mereka yakin kalau Dokter Adnan itu ingin mendekati salah satu di antara mereka. Antara Lili atau Mega karena selama ini Dela juga Naomi tak pernah dilirik.
"Bukan begitu. Saya itu di dalam ruangan karena malas keluar saja. Sebenarnya saja juga ingin berkumpul bersama kalian, tapi memang waktunya juga belum pas. Sekarang waktunya sudah pas sehingga saya ingin duduk bersama di sini" elak Dokter Adnan dengan memberikan berbagai alasan.
"Malas atau malas, dok? Langsung saja deh, dok. Sebenarnya dokter ingin mendekati teman saya Lili kan? Kelihatan banget lho kalau dokter selalu menaruh pandangan pada sahabat saya ini. Ingat ya dok, dia itu sudah punya suami yang tak lain adalah atasan anda" ucap Mega dengan tegasnya mengingatkan Dokter Adnan.
Sontak saja Dela dan Naomi juga beberapa orang yang ada di sana terkejut dengan ucapan berani dari Mega itu. Selama ini tak pernah ada yang berani dengan Dokter Adnan karena beliau di rumah sakit ini bagaikan penyelamat. Dengan tangan ajaibnya, beliau mampu menyelamatkan pasien kritis.
"Lancang sekali anda membuka itu di hadapan saya. Di sini anda itu hanya praktik sementara, baru dua hari sudah belagu. Saya bisa saja memberikan kamu rekomendasi buruk nanti setelah selesai praktik ini jika main ngomong kaya gitu" ucap Dokter Adnan dengan ancamannya.
"Mainnya ngancam dengan nilai. Padahal ini tentang cinta bukan profesi. Bedakan antara profesi dengan cinta ya, dok. Lagian yang memberikan saya nilai itu dari dokter senior dan manajemen rumah sakit ini" ucap Mega dengan santainya.
Dokter Adnan menggeram marah mendengar apa yang diucapkan oleh Mega. Dirinya kini merasa terpojok karena ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh Mega itu. Karena malu, Dokter Adnan segera saja pergi dari hadapan semua orang dengan telapak tangan yang mengepal erat.
"Mega, berani banget sih kamu sama tuh dokter satu. Dia di sini itu anak emas lho. Hati-hati kalau sampai dia ngadu ke manajemen terus nilai kamu jadi taruhannya" ucap Dela memperingati.
"Ish... Kamu tadi juga berani banget sama dokter itu. Lagian nih ya, di atas manajemen masih ada suaminya Lili. Pasti Pak Aldo mau membantulah kalau kita tidak mendapatkan keadilan di rumah sakit ini. Apalagi ini menyangkut nama baik rumah sakitnya" ucap Mega dengan penuh keyakinan.
Mega bahkan langsung mengerlingkan sebelah matanya pada Lili seakan meminta perlindungan kepadanya. Mega yakin kalau temannya itu pasti akan membantunya. Lili hanya bisa menghela nafasnya kasar. Ia juga pasti akan membantu temannya agar tak kedapatan musibah seperti itu.
"Sudahlah, jangan ngomongin Dokter Adnan itu. Lebih baik kita pulang. Lagian jam kita juga sudah selesai dan tak ada pasien gawat darurat yang perlu ditangani" ucap Lili.
Mega melihat kearah jam tangannya dan memang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Lili segera menghubungi Aldo untuk menjemputnya. Lili dan Mega berpamitan kepada yang lainnya kemudian keluar dari ruangan itu.
"Kamu mau bareng atau nggak, Li? Aku udah dijempur nih sama papaku" ucap Mega bertanya pada temannya.
__ADS_1
"Nggak usah, lagian ini Aldo sudah di jalan kok" ucap Lili yang kemudian melambaikan tangannya pada Mega.
"Kalau gitu aku duluan ya. Kamu tunggu di dalam saja soalnya bahaya kalau di luar gini. Mana sepi lagi" ucap Mega memberi saran.
"Iya, habis ini aku masuk ke dekat satpam" ucap Lili.
Mega menganggukkan kepalanya kemudian mobilnya melaju dengan perlahan. Sedangkan Lili langsung saja berjalan kearah pos satpam karena sedikit takut juga jika berada di tempat sepi seperti ini. Walaupun ini masih berada dalam lingkungan rumah sakit, namun ia juga ngeri kalau tak ada yang menemani.
Saat Lili tengah menunggu Aldo, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Namun Lili yakin kalau ini bukanlah mobil milik suaminya. Jendela mobil terbuka dan Lili terkejut melihat Dokter Adnan di sana.
"Ayo masuk, Lilian. Biar saya antar pulang" ucap Dokter Adnan sambil tersenyum.
"Maaf, dok. Saya dijemput suami. Terimakasih atas tawarannya" ucap Lili menolak dengan sedikit halus.
"Lebih baik sama saya saja, Lilian. Ini sudah keburu malam lho" ucap Dokter Adnan dengan sedikit memaksa.
"Justru kalau sama dokter ya bahaya dong. Saya ini seorang perempuan bersuami, masa iya diantar sama laki-laki lain" ucap Lili sambil geleng-geleng kepala.
Mendengar pernyataan dari Lili itu sontak saja membuat Dokter Adnan menggeram marah. Ia tak suka jika perempuan yang ingin didekatinya selalu menekankan tentang statusnya. Dokter Adnan melihat kearah sekeliling rumah sakit yang memang sangat sepi. Satpam yang berjaga pun sepertinya sedang keluar.
"Dokter mau ngapain? Saya akan teriak kalau anda macam-macam dengan saya" ucap Lili dengan mengancam Dokter Adnan.
"Saya nggak akan macam-macam kok. Cuma satu macam saja" ucap Dokter Adnan dengan seringaiannya.
"Dokter sepertinya agak miring deh. Mending berobat ke yang ahlinya, dok" ucap Lili menyarankan.
Bukannya menjawab pernyataan dari Lili, justru dia hanya terkekeh pelan. Lili sedikit takut dengan raut wajah Dokter Adnan yang seperti itu. Bahkan kini Dokter Adnan langsung saja menarik tangan Lili dan sebelahnya digunakan untuk membekap mulut perempuan itu.
"Emmm... Emm..."
Lili berusaha memberontak dan berteriak, namun tak keluar sama sekali suaranya. Apalagi bekapan itu sungguh erat. Lili didorong masuk ke dalam mobil dan pintunya langsung dikunci oleh Dokter Adnan.
"Diam atau kau akan ku dorong saat mobil nanti berjalan. Sekalian saja biar kau mati" ucap Dokter Adnan mengancam Lili.
Dokter Adnan menatap tajam kearah Lili membuatnya sedikit takut. Bahkan ia memilih diam terlebih dahulu sebelum berpikir caranya untuk kabur. Mobil dikendarai oleh Dokter Adnan yang raut wajahnya sangat menyeramkan.
__ADS_1
Lili tak boleh gegabah. Apalagi ini menyangkut nyawanya. Ia masih memikirkan anak dan suaminya yang pasti akan sangat sedih jika kehilangan dirinya. Lili diam-diam memasukkan tangannya ke dalam tas dan menghubungi Aldo.
***
"Lho... Katanya sudah di luar, kok ini nggak ada orang" tanya Aldo pada dirinya sendiri setelah mobilnya memasuki area rumah sakit.
Bahkan Lili memberikan pesan kalau perempuan itu ada di dekat pos satpam. Namun di sana tak ada siapapun, membuat ia sedikit bingung. Ia mencoba menghubungi Lili namun tak juga diangkatnya.
"Pak, lihat mahasiswa yang praktik di sini nggak? Saya mau menjemputnya" tanya Aldo pada satpam yang berjaga setelah keluar dari mobilnya.
"Lho Pak Aldo? Oh yang tadi berdiri di sini ada Mbak Lili. Tapi setelah itu saya tinggal masuk buat bikin kopi. Saya pikir sudah pulang setelah saya sampai sini nggak ada orang" ucap satpam yang berjaga.
Aldo hanya mendengus kesal kemudian mencoba melacak keberadaan Lili melalui ponselnya. Namun yang membuat dirinya heran adalah posisi Lili yang sudah lumayan jauh dari rumah sakit. Bahkan ini posisinya sangat menjauh dari rumahnya. Aldo sedikit cemas karena tak biasanya istrinya itu pergi tanpa meminta ijin padanya.
"Pak, buka CCTV" titah Aldo pada satpam yang ada di sana.
"Baik, pak" ucap satpam itu dengan tegas.
Aldo dan satpam itu segera masuk dalam pos kemudian memeriksa CCTV di dekat area halaman rumah sakit. Kejadian demi kejadian langsung terlihat membuat Aldo mengepalkan kedua tangannya. Apalagi terlihat di sana kalau Lili dibekap mulutnya oleh Dokter Adnan.
"Itu Dokter Adnan kan, Pak Aldo? Kok bekap Mbak Lili gitu" ucap satpam itu yang kebingungan.
"Ya, karena istri saya kini sedang diculik oleh dokter Adnan. Arahkan CCTV pada plat mobil Dokter Adnan, biar saya hubungi pihak polisi. Kirim juga rekaman CCTV ini ke ponselku" titah Aldo dengan tegasnya.
Ting... Ting... Ting...
Saat Aldo ingin menghubungi pihak kepolisian, ternyata ada panggilan masuk dari Lili. Aldo segera mengangkatnya, namun tak ada suara di sana. Sepertinya Lili sedang memberi kode pada Aldo agar segera menolongnya.
"Halo... Sayang" panggil Aldo walaupun tak ada suara di sana yang menjawabnya.
"Saya yakin kalau suamimu itu bakalan kelabakan mencari keberadaanmu. Setelah ini, kamu nggak akan jadi milik Pak Aldo yang berkuasa itu. Kamu akan menjadi milikku selamanya" ucap seseorang dari seberang sana.
Itu adalah suara Dokter Adnan. Tentu saja Aldo mengenali suara orang itu karena posisinya sekarang Lili tengah berdua dengannya. Aldo menarik tangan satpam itu kemudian membawanya ke dalam mobil. Ia mengajak satpam rumah sakit untuk ikut menyelamatkan istrinya.
"Kirim pesan pada satpam lainnya untuk gantiin kamu jaga malam ini di depan" titah Aldo membuat satpam itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1